Ogah Ngalah! Senegal Tetap Pamer Trofi Piala Afrika Meski Gelar Dicabut CAF

Kontroversi besar menyelimuti Timnas Senegal jelang laga uji coba melawan Timnas Peru di Stade de France, Paris. Meski gelar Piala Afrika 2026 telah resmi dicabut, Senegal tetap memamerkan trofi tersebut di hadapan publik.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 29 Maret 2026, 09:15 WIB
Pelatih kepala Senegal, Pape Thiaw (C), dan tim merayakan kemenangan dengan trofi setelah memenangkan pertandingan final Piala Afrika (CAN) 2025 melawan Maroko di Stadion Pangeran Moulay Abdellah di Rabat, Senin (19-1-2026) dini hari WIB. (Abdel Majid BZIOUAT/AFP)

Bola.com, Jakarta - Kontroversi besar menyelimuti Timnas Senegal jelang laga uji coba melawan Timnas Peru di Stade de France, Paris. Meski gelar Piala Afrika 2026 telah resmi dicabut, Senegal tetap memamerkan trofi tersebut di hadapan publik.

Situasi ini terjadi setelah keputusan mengejutkan dari CAF yang membatalkan kemenangan Senegal di final melawan Timnas Maroko.

Advertisement

Padahal, Senegal sebelumnya dinyatakan menang 1-0 dalam laga final yang berlangsung panas dan penuh kontroversi. Namun, keputusan banding membuat hasil tersebut dibalik, sekaligus menyerahkan gelar kepada Maroko.

Di tengah polemik tersebut, Senegal justru menunjukkan sikap tegas. Mereka tetap merayakan trofi yang sempat diraih, seolah mengirim pesan bahwa perjuangan mereka belum berakhir.

 


Parade Trofi di Paris, Simbol Perlawanan Senegal

Gelandang Senegal #26, Pape Gueye (kiri), dan rekan-rekan setimnya merayakan kemenangan mereka di akhir pertandingan final Piala Afrika (CAN) 2025 antara Senegal dan Maroko di Stadion Pangeran Moulay Abdellah di Rabat, Senin (19-1-2026) dini hari WIB. (FRANCK FIFE/AFP)

Menjelang kick-off laga persahabatan, kapten Kalidou Koulibaly bersama rekan-rekannya melakukan lap of honour dengan membawa trofi AFCON di tengah stadion.

Momen itu semakin meriah setelah konser pra-pertandingan dari musisi ternama Senegal, Youssou N'Dour.

Koulibaly bersama kiper Edouard Mendy bahkan membawa trofi tersebut ke tribun kehormatan, menyerahkannya secara simbolis di hadapan Presiden Federasi Sepak Bola Senegal, Abdoulaye Fall.

Aksi ini terjadi hanya beberapa jam setelah Maroko memastikan status gelar mereka usai keputusan final CAF.

 


Awal Mula Kontroversi Final AFCON

Idrissa Gueye dari Senegal meminta para pemain untuk meninggalkan lapangan selama pertandingan final Piala Afrika antara Senegal dan Maroko, di Rabat, Maroko, Senin (19-1-2026) dini hari WIB. (AP Photo/Mosa'ab Elshamy)

Kontroversi bermula saat final AFCON yang digelar Januari lalu. Senegal sempat meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes terhadap penalti yang diberikan kepada Maroko.

Setelah penundaan sekitar 14 menit, pertandingan dilanjutkan dan penalti tersebut gagal dimanfaatkan. Laga kemudian berlanjut hingga babak tambahan waktu.

Gol tunggal Pape Gueye di extra time memastikan kemenangan Senegal 1-0 di lapangan.

Namun, Maroko langsung mengajukan banding. Awalnya ditolak, tetapi kemudian panel banding CAF membalikkan hasil pertandingan menjadi kemenangan 3-0 untuk Maroko, sekaligus memberi mereka gelar juara.

 


Senegal Siap Tempuh Jalur Hukum

Federasi Senegal tidak tinggal diam. Mereka memastikan akan membawa kasus ini kembali ke CAF, bahkan hingga ke Court of Arbitration for Sport (CAS).

Proses hukum ini diperkirakan bisa memakan waktu hingga satu tahun. Pemerintah Senegal bahkan menyerukan investigasi independen terhadap keputusan CAF, termasuk dugaan adanya praktik korupsi.

Di tengah situasi panas tersebut, dukungan publik Senegal tetap luar biasa. Ribuan suporter memadati Stade de France, bahkan sejak sebelum pertandingan dimulai.

Sekitar 200 pendukung juga sempat berkumpul di sekitar Basilika Saint-Denis sebelum berjalan bersama menuju stadion dengan iringan musik tradisional.

Wali Kota Saint-Denis, Bally Bagayoko, turut menyambut rombongan tersebut.

“Anda adalah kebanggaan masyarakat. Hari ini, Afrika bersatu. Semua mendukung Senegal,” ucapnya.

 


Fokus ke Piala Dunia 2026

Terlepas dari kontroversi yang belum selesai, Senegal tetap harus menatap ke depan. Laga melawan Peru menjadi pertandingan pertama mereka sejak final AFCON.

Tim berjuluk Lions of Teranga itu tengah mempersiapkan diri untuk Piala Dunia 2026, di mana mereka akan menghadapi lawan berat seperti Timnas Prancis, Timnas Norwegia, serta pemenang playoff antara Bolivia atau Irak.

Skuad yang diturunkan pun hampir identik dengan tim yang tampil di AFCON, menunjukkan konsistensi komposisi pemain.

Kini, di tengah badai kontroversi, Senegal dihadapkan pada dua misi besar, memperjuangkan keadilan atas gelar yang dicabut dan membuktikan kualitas mereka di panggung dunia.

Berita Terkait