Bola.com, Jakarta - Sepak bola Italia kembali menghadapi fase sulit setelah kegagalan lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun. Situasi ini tidak hanya mengguncang performa di lapangan, tetapi juga memicu perubahan besar di level federasi.
Gabriele Gravina resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden FIGC. Keputusan ini membuka jalan bagi pemilihan pemimpin baru yang dijadwalkan berlangsung pada 22 Juni mendatang.
Namun, di balik dinamika pergantian kepemimpinan tersebut, muncul satu persoalan yang cukup mencolok. Sepak bola Italia tampaknya masih kesulitan melakukan regenerasi, terutama jika melihat daftar kandidat yang bermunculan.
Mayoritas nama yang disebut-sebut sebagai calon pengganti Gravina justru berasal dari kalangan senior, yang sudah lama berkecimpung di dunia sepak bola Italia.
Deretan Kandidat Senior Warnai Bursa Presiden FIGC
Setelah pengunduran diri Gravina, sejumlah nama langsung mencuat sebagai kandidat kuat. Salah satu yang difavoritkan adalah Giovanni Malagò, yang saat ini menjabat sebagai presiden CONI sejak 2013.
Malagò dikenal sebagai figur berpengalaman di dunia olahraga Italia. Namun, usianya yang telah menginjak 67 tahun menjadi bagian dari sorotan terkait isu regenerasi.
Nama lain yang juga masuk radar adalah Giancarlo Abete, Presiden Lega Nazionale Dilettanti. Ia bahkan akan berusia 76 tahun pada Agustus mendatang.
Tak ketinggalan, legenda sepak bola Italia Gianni Rivera juga turut meramaikan bursa calon. Peraih Ballon d'Or itu telah menyatakan minatnya untuk maju, meski kini telah berusia 82 tahun.
Minimnya Regenerasi Jadi Sorotan
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan kepemimpinan sepak bola Italia. Di tengah tuntutan perubahan dan modernisasi, figur-figur yang muncul justru berasal dari generasi lama.
Sebagai perbandingan, Gravina sendiri menjabat sejak 2018, setelah sebelumnya aktif dalam berbagai peran, termasuk sebagai Presiden Lega Pro periode 2015 hingga 2018. Ia menggantikan Carlo Tavecchio, yang wafat pada Januari 2023 di usia 79 tahun.
Bahkan, dukungan terhadap figur senior juga masih kuat. Presiden Asosiasi Pelatih Italia (AIAC), Renzo Ulivieri, yang kini berusia 85 tahun, mengaku sebenarnya berharap Gravina tetap memimpin federasi.
Situasi ini menunjukkan bahwa sepak bola Italia masih sangat bergantung pada tokoh-tokoh lama, baik dari sisi pengalaman maupun pengaruh.
Tantangan Besar Menuju Era Baru
Dengan pemilihan yang semakin dekat, FIGC dihadapkan pada pilihan penting. Apakah tetap mempertahankan pola lama dengan figur senior, atau mulai membuka jalan bagi generasi baru yang lebih segar.
Krisis yang melanda tim nasional seharusnya menjadi momentum untuk melakukan pembenahan menyeluruh, termasuk dalam struktur kepemimpinan.
Kini, siapa pun yang terpilih nanti akan memikul tanggung jawab besar. Tidak hanya mengembalikan prestasi Timnas Italia, tetapi juga membawa sepak bola Italia keluar dari bayang-bayang stagnasi yang mulai terasa dalam beberapa tahun terakhir.