Bola.com, Parepare - Asisten pelatih PSM Makassar, Ahmad Amiruddin, membongkar sederet masalah yang dialami anak asuhnya saat gagal menumbangkan Persis Solo pada laga pekan ke-26 BRI Super League 2025/2026.
Dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion Gelora B.J. Habibie, Parepare, Sabtu (4/4/2026) sore WIB itu, PSM Makassar sebetulnya sudah sempat unggul. Namun, mereka akhirnya harus puas berbagi angka karena laga berakhir imbang 1-1.
Ahmad Amiruddin mengatakan, anak asuhnya sudah bermain sesuai instruksi pada babak pertama. Apalagi, Juku Eja bisa mencetak keunggulan lewat tandukan Yuran Fernandes (18’) yang memaksimalkan sepak pojok Victor Luiz.
“Saya mewakili PSM Makassar memohon maaf kepada semuanya, karena hasil ini tidak sesuai dengan harapan kita. Dari kacamata kami tim pelatih, babak pertama sebetulnya sudah sesuai dengan yang direncanakan,” kata Amir dalam konferensi pers, Sabtu (4/4/2026).
“Kami bermain lebih menyerang, berusaha untuk mencetak gol, dan masuk ke ruang ganti dengan situasi unggul. Dan hal itu sudah terjadi. Namun, pada babak kedua, problem mulai terjadi,” imbuhnya.aky.
Intensitas Menurun
Amir mengatakan, intensitas permainan Juku Eja mengalami penurunan pada babak kedua. Upaya memasukkan pemain untuk memberikan penyegaran tak membuahkan hasil. Intensitas PSM malah semakin anjlok.
“Intensitas kami pada babak kedua mulai menurun. Opsi pertama yang kami ambil untuk menutupi hal tersebut ialah kami coba dengan pergantian pemain. Sayangnya, hasilnya masih tetap sama,” kata dia.
“Para pemain yang kami harap bisa memberikan nuansa baru saat dimainkan, tidak terjadi. Malahan sebaliknya, tidak ada peluang dari mereka. Yang terjadi, intensitas permainan justru semakin menurun,” imbuhnya.
Yang lebih menyakitkan, Juku Eja justru kebobolan lewat skema serangan balik cepat Persis Solo yang sukses dimaksimalkan oleh Roman Paparyga (64’). Menurut Amir, faktor mentalitas berpengaruh besar dalam kondisi ini.
“Yang lebih parahnya lagi, kami kebobolan karena kesalahan sendiri. Nanti saya akan berbicara kepada pemain. Ini soal mentalitas. Apakah kami ingin memberikan yang lebih untuk PSM, atau kami hanya sekedar menjalankan kewajiban?” ujarnya.
Tidak Punya Leader
Juru taktik berusia 43 tahun itu mengatakan, kendala terbesar yang dihadapi PSM Makassar di tengah situasi sulit semacam ini ialah absennya sosok pemain yang bisa diandalkan sebagai pemimpin di lapangan.
“Secara keseluruhan, saya harus mengapresiasi pemain karena sudah berjuang. Tetapi, terkadang, di momen-momen sulit seperti ini, kami membutuhkan sosok leader yang bisa mengangkat satu sama lain,” kata Amir.
“Bukan hanya satu atau dua orang, tetapi secara menyeluruh. Semua pemain yang ada di lapangan harus punya keberanian dan memberi kontribusi lebih untuk tim. Dan itu yang mungkin agak kurang di PSM,” imbuhnya.
Pemain Minta Maaf
Sementara itu, pemain PSM, Dzaky Asraf, menyampaikan permohonan maaf karena gagal membawa timnya meraih kemenangan. Dia berjanji Juku Eja akan berusaha lebih keras pada pertandingan selanjutnya.
“Saya ingin meminta maaf karena hasil yang kami inginkan tidak bisa didapatkan. Mungkin penonton dan suporter menginginkan tiga poin, tetapi kami hanya bisa memberikan hasil imbang. Kami akan fokus menghadapi pertandingan berikutnya dan berlatih lebih keras,” ujar Dz