Kisah Sebenarnya di Balik Bekas Luka di Wajah Franck Ribery

Di balik bekas Luka di wajah Franck Ribery, ada kisah yang mengubah hidupnya.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 11 April 2026, 08:45 WIB
Gelandang baru Fiorentina, Frank Ribery tersenyum saat diperkenalkan resmi di Florence, Italia (22/8/2019). Ribery didapat Fiorentina dengan gratis. Ribery tak memiliki klub setelah tidak memperpanjang kontraknya dengan Bayern Munchen. (AFP Photo/Andreas Solaro)

Bola.com, Jakarta - Sosok Franck Ribery dikenal sebagai satu di antara pemain sayap terbaik dalam sejarah sepak bola. Kariernya gemilang, penuh trofi, dan dihiasi aksi-aksi memukau di lapangan.

Namun, di balik itu, ada kisah pilu yang membentuk karakter kuatnya, terutama bekas luka di wajah yang menjadi ciri khasnya.

Advertisement

Pada masa keemasannya, Ribery tampil luar biasa baik di level klub maupun timnas.

Bersama Bayern Munchen, ia menjelma ikon, terutama lewat duet legendaris dengan Arjen Robben yang dikenal luas sebagai "Robbery".

Berbagai gelar bergengsi pun berhasil ia raih, termasuk Liga Champions 2013.

Kini, di usia 43 tahun, Ribery masih berkecimpung di dunia sepak bola sebagai bagian staf teknis di Salernitana. Selain karena bakatnya, publik juga selalu mengingatnya lewat bekas luka yang terlihat jelas di wajahnya.


Kecelakaan Mengubah Hidup

Pesepakbola yang kini berusia 39 tahun itu bergabung dengan tim promosi Serie A, Salernitana, dari Fiorentina musim panas tahun lalu. (Alessandro Garofalo/LaPresse via AP)

Dalam wawancara dengan Canal Sports+, yang dikutip dari Mirror, Ribery mengungkapkan masa kecilnya yang penuh cobaan. Ia bahkan tidak pernah bertemu orang tua kandungnya setelah ditinggalkan di depan sebuah biara saat masih bayi.

Cobaan itu belum berhenti. Saat berusia dua tahun, Ribery mengalami kecelakaan mobil serius yang mengubah hidupnya selamanya.

Dalam insiden tersebut, mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan truk. Karena tidak mengenakan sabuk pengaman, tubuh kecilnya terpental menembus kaca depan.

Akibatnya, ia mengalami luka parah di wajah dan harus menjalani sekitar 100 jahitan.

Ribery mengaku masa kecilnya tidak mudah karena bekas luka tersebut sering menjadi bahan ejekan.

"Orang-orang berkata: 'Lihat wajahnya, lihat kepalanya. Apa itu bekas luka? Jelek sekali.' Ke mana pun saya pergi, orang-orang selalu menatap saya. Bukan karena saya orang baik atau karena nama saya Franck atau karena saya pemain bagus, tetapi karena bekas luka itu," ungkapnya.


Sisi Positif

3. Franck Ribery (Bayern Munchen) - Pemain asal Prancis ini memutuskan hengkang dari Allianz Arena setelah 12 tahun mengabdi. Pria berusia 36 tahun itu sudah mencatatkan 422 laga dengan torehan 123 gol dan 183 assist. (AFP/Christof Stache)

Namun, ia memilih melihat sisi positif dari pengalaman pahit tersebut.

"Mereka memberi saya karakter dan kekuatan. Karena ketika Anda masih kecil dan punya bekas luka seperti ini, itu tidak mudah. Cara orang melihat Anda, komentar-komentar mereka, keluarga saya juga ikut merasakan. Yang berbicara tentang Anda adalah orang tua anak-anak lain, dan itu sangat kejam. Saya tidak pernah bersembunyi di sudut dan menangis, meskipun saya menderita," lanjutnya.

Dalam wawancara lain, Ribery bahkan menyebut kecelakaan itu sebagai sumber motivasi.

"Dengan cara tertentu, kecelakaan ini membantu saya. Saat kecil, itu memotivasi saya. Tuhan memberi saya perbedaan ini. Bekas luka ini adalah bagian dari diri saya, dan orang-orang harus menerima saya apa adanya," katanya.


Karier Gemilang di Klub

13. Franck Ribery - Siapa yang tidak kenal dengan pemain yang memulai karier bersama Marseille ini. Kelincahannya saat membela timnas Prancis membuat Bayern munchen langsung menebus Ribery dengan dana fantastis. (AFP/Christof Stache)

Perjalanan karier Ribery tidak instan. Ia sempat berpindah-pindah akademi di Prancis sebelum mendapatkan kesempatan besar bersama Galatasaray pada 2005.

Tak lama kemudian, ia bergabung dengan Marseille dan mulai menarik perhatian berkat kemampuan dribel dan kreativitasnya. Pada 2007, ia direkrut Bayern Munchen, klub yang kemudian menjadi panggung utama dalam kariernya.

Selama 12 tahun, Ribery membantu Bayern meraih banyak gelar, termasuk Bundesliga, Piala Jerman, dan Liga Champions.

Meski sempat dilanda cedera, ia tetap menjadi satu di antara pemain dengan jumlah penampilan terbanyak dalam sejarah klub.

Ia mengakhiri karier profesionalnya setelah sempat memperkuat Fiorentina dan kembali ke Salernitana.


Perjalanan di Timnas

Franck Ribery memilih pensiun dari Timnas Prancis seusai Piala Dunia 2014 dalam usia 31 tahun. Frustasi karena cedera yang terus mendera membuat pemain yang sudah bermain 81 kali untuk Timnas Prancis ini memilih pensiun dini. (AFP/Franck Fife)

Ribery memulai debut bersama Timnas Prancis pada 2006 dan langsung menjadi pemain penting. Ia turut membawa timnya mencapai final Piala Dunia 2006, meski harus puas sebagai runner-up.

Seiring mundurnya pemain-pemain senior seperti Zinedine Zidane dan Thierry Henry, peran Ribery makin besar di tim.

Namun, perjalanan internasionalnya tidak lepas dari kontroversi. Ia sempat menjadi sorotan saat Prancis tersingkir lebih awal di Piala Dunia 2010, yang kala itu ditangani pelatih Raymond Domenech.

Ribery kemudian meminta maaf atas perannya dalam situasi tersebut sebelum akhirnya pensiun dari timnas pada 2014, dua tahun sebelum Prancis mencapai final Piala Eropa 2016 di kandang sendiri.

 

Sumber: Give Me Sport