Bola.com, Jakarta - Penurunan performa Pecco Bagnaia dalam dua musim terakhir menjadi teka-teki besar di paddock MotoGP. Legenda balap, Mick Doohan, mengaku heran melihat sang juara dunia dua kali itu seolah kehilangan taji dan sulit bersaing di barisan depan.
Setelah bertarung memperebutkan gelar juara selama empat tahun berturut-turut, grafik Pecco Bagnaia menurun drastis. Ia hanya mampu finis di posisi kelima klasemen akhir 2025.
MotoGP 2026 pun diawali dengan rapor merah: dari tiga seri yang sudah berjalan, Pecco Bagnaia terdampar di posisi ke-9 klasemen sementara dengan koleksi 25 poin saja, start terburuknya sejak 2022.
Penampilan Pecco Bagnaia di lintasan sejauh ini memang jauh dari kata memuaskan. Pada seri pembuka, MotoGP Thailand, start dari P13, hanya mampu merangkak ke P9.
Lalu MotoGP Brasil, ia gagal finis (DNF) akibat kecelakaan setelah kualifikasi di P11. Pada seri ketiga MotoGP Amerika Serikat, meski menempati posisi empat kualifikasi, ia melorot ke P10 di balapan utama akibat kendala ban belakang setelah hanya delapan putaran.
Dua Teori Doohan: Masalah Motor atau Faktor Marc Marquez?
Mick Doohan, pemegang lima gelar juara dunia kelas 500cc, melihat ada dua kemungkinan besar di balik kemunduran Pecco Bagnaia. Ia mempertanyakan apakah ini masalah adaptasi teknis atau tekanan psikologis.
Pecco Bagnaia memang tampak kesulitan menjinakkan Ducati GP25 musim lalu dan GP26 musim ini. Masalah klasik seperti pengereman dan cornering speed yang menghantuinya di 2025 ternyata masih terbawa hingga sekarang.
Lalu kedatangan Marc Marquez ke tim pabrikan Ducati pada 2025 diyakini Doohan menjadi pukulan mental bagi Pecco. Terlebih, Marquez langsung tampil dominan dengan mengemas 11 kemenangan dari 18 seri pada musim debutnya bersama Ducati tersebut.
"Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan Bagnaia, tapi dia punya talenta luar biasa. Saya tidak tahu apakah ini karena motor, atau pengaruh bergabungnya Marc Marquez. Tapi Anda tidak bisa membantah betapa dominannya dia saat menjuarai dua gelar dunia," ujar Doohan kepada Marca.
Luka Lama yang Belum Sembuh
Kemunduran Bagnaia sebenarnya sudah terendus sejak akhir 2024. Meski meraih 11 kemenangan pada balapan hari Minggu saat itu, ia harus merelakan gelar juara jatuh ke tangan Jorge Martin dengan selisih tipis 10 poin.
Kegagalan menyakitkan itu kabarnya terus membayangi pikiran Pecco, bahkan saat ia menjalani masa liburan musim dingin.
Di MotoGP Brasil lalu, Bagnaia mengakui dirinya masih bingung mengapa kecepatannya hilang saat balapan menggunakan ban Michelin kompon keras.
Jika tidak segera menemukan solusi, posisi Pecco sebagai pembalap utama Ducati bisa semakin terancam oleh dominasi rekan setimnya sendiri.
Sumber: Motogpnews