3 Keputusan Fatal Arne Slot yang Bikin Liverpool Kandas di Liga Champions: Ceroboh soal Isak hingga Cadangkan Salah

Sorotan utama kekalahan Liverpool dari PSH tertuju pada keputusan-keputusan kontroversial Arne Slot.

BolaCom | Wiwig PrayugiDiterbitkan 15 April 2026, 15:00 WIB
Pelatih Liverpool, Arne Slot, bersama Virgil van Dijk memberikan aplaus setelah laga melawan PSG pada leg pertama perempat final Liga Champions di Parc des Princes, Paris hari Kamis (09/04/2026) dini hari WIB. (AFP/Anne-Christine Poujoulat)

Bola.com, Jakarta - Kekalahan telak Liverpool dari Paris Saint-Germain di perempat final Liga Champions 2025/26 bukan sekadar hasil buruk. Ini adalah simbol dari serangkaian keputusan fatal yang kini menghantui pelatih Arne Slot.

Harapan The Reds untuk meraih trofi musim ini hancur total setelah disingkirkan PSG dengan agregat meyakinkan. Bahkan sebelum leg kedua dimulai di Anfield, tanda-tanda kehancuran sebenarnya sudah terlihat sejak kekalahan di leg pertama. Liverpool bisa dibilang beruntung hanya tertinggal dua gol kala itu, namun kegagalan memanfaatkan peluang di kandang sendiri menjadi pukulan terakhir.

Advertisement

Atmosfer Anfield sempat membara. Dukungan suporter menciptakan energi khas yang selama ini identik dengan comeback dramatis Liverpool di Eropa. Namun kali ini, keajaiban itu tak pernah benar-benar terasa dekat. Permainan tim tampak datar, tanpa arah, dan jauh dari intensitas yang dibutuhkan di level tertinggi.

Sorotan utama tentu tertuju pada keputusan-keputusan kontroversial Arne Slot. Apa saja?


Bocorkan Situasi Alexander Isak

Bek Brasil Paris Saint-Germain #05, Marquinhos, berebut bola dengan striker Swedia Liverpool #09 Alexander Isak selama pertandingan leg kedua perempat final Liga Champions UEFA antara Liverpool dan Paris Saint-Germain di Anfield, Liverpool, barat laut Inggris pada 16 April 2026. (Paul ELLIS/AFP)

Dalam sebuah langkah yang dianggap naif, ia secara terbuka mengungkap bahwa Alexander Isak hanya mampu bermain selama 45 menit, meski tetap diturunkan sebagai starter.

Pernyataan ini secara tidak langsung memberi keuntungan besar kepada pelatih PSG, Luis Enrique, yang bisa dengan mudah membaca rencana permainan lawan.

 


Cadangkan Salah

Mohamed Salah fokus menatap bola dalam laga panas di Anfield saat Liverpool menghadapi Paris Saint-Germain pada leg kedua perempat final Liga Champions 2025/2026, 14 April 2026. (AFP/FRANK FIFE)

Keputusan lainnya yang tak kalah mengejutkan adalah mencadangkan Mohamed Salah di laga sepenting ini. Slot beralasan bahwa ia membutuhkan kekuatan fisik dari Isak dan Hugo Ekitike di lini depan. Namun, strategi tersebut justru menjadi bumerang.

PSG hanya perlu bertahan selama 45 menit pertama, mengetahui bahwa Liverpool akan melakukan perubahan besar setelahnya. Di level Liga Champions, memberikan informasi seperti itu kepada lawan adalah kesalahan yang mahal.

Situasi semakin buruk ketika Ekitike harus ditarik keluar pada menit ke-32 akibat cedera. Masuknya Salah memang langsung memberi dampak instan, bahkan hampir membuka peluang emas melalui Virgil van Dijk, namun semuanya sudah terlambat.

Keputusan mencadangkan Salah pun menuai kritik keras. Sebagai pemain yang telah berkali-kali menjadi pembeda di panggung besar, absennya sang bintang sejak awal pertandingan dianggap sulit dipahami. Bahkan di musim yang tidak sepenuhnya konsisten, kualitas dan pengalaman Salah tetap tak tergantikan.


Menarik Joe Gomez

Slot juga membuat keputusan mengejutkan dengan menarik Joe Gomez hanya 22 menit setelah masuk, tanpa indikasi cedera yang jelas. Reaksi emosional sang pemain mencerminkan ketegangan di dalam tim.

Di balik semua itu, muncul laporan bahwa Slot sebenarnya telah memprioritaskan Liga Champions sejak Januari. Jika benar, maka kegagalan ini terasa jauh lebih menyakitkan. Tiga bulan fokus penuh hanya untuk tersingkir tanpa perlawanan berarti di laga penentuan.

Ditambah dengan performa yang tidak konsisten di kompetisi domestik, musim debut Slot kini berubah dari penuh harapan menjadi kekecewaan besar. Apa yang awalnya terlihat sebagai awal era baru yang menjanjikan, kini justru berubah menjadi tanda tanya besar.

Sumber: Sportsmole

Berita Terkait