Hampir Terjadi, Jean Todt Bongkar Gagalnya Transfer Ayrton Senna ke Ferrari

Mantan bos Ferrari, Jean Todt, ungkap alasan tim Kuda Jingkrak gagal manggaet Ayrton Senna.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 16 April 2026, 09:45 WIB
Sebuah poster yang memuat foto pembalap F1 Brasil, Ayrton Senna, yang ditandatangani oleh penggemar, dipajang selama upacara pada 1 Mei 2019 yang menandai peringatan 25 tahun kematian sang pembalap di sirkuit Imola "Enzo dan Dino Ferrari" selama Grand Prix San Marino 1994. (ANDREAS SOLARO/AFP)

Bola.com, Jakarta - Mantan team principal Ferrari, Jean Todt, mengungkap alasan utama yang membuat legenda Ayrton Senna gagal bergabung dengan tim asal Italia tersebut pada awal 1990-an.

Kisah ini kembali mencuat setelah kepindahan Lewis Hamilton ke Ferrari menjelang musim 2024 menjadi sorotan besar dunia olahraga.

Advertisement

Menurut Todt, situasi yang melibatkan Senna kala itu berpotensi menimbulkan dampak serupa jika saja keputusan berbeda diambil.

Dalam perbincangan di "High Performance Podcast", Todt mengungkap bahwa Senna sebenarnya menjadi pembalap impian pertamanya saat membahas masa depan Ferrari.

"Pembalap impian pertama yang saya diskusikan adalah Ayrton Senna," kata Todt.


Pertemuan Intens

Ayrton Senna_(AFP PHOTO/JEAN-LOUP GAUTREAU)

Ia bahkan mengingat pertemuan langsung dengan Senna yang berlangsung cukup intens.

"Ia datang ke kamar saya dan kami menghabiskan sebagian malam bersama untuk membahas kemungkinan ia bergabung dengan Ferrari. Ia ingin datang. Ia ingin datang, tetapi pada 1994. Pada 1994, kami sudah memiliki kontrak dengan Gerhard Berger dan Jean Alesi," ungkap Todt.

Todt menegaskan bahwa saat itu Ferrari tidak bisa memenuhi keinginan Senna.

"Saya mengatakan kepadanya bahwa 1994 tidak memungkinkan. Pertama, kami belum siap, lalu kami sudah memiliki kontrak. Ia menjawab kepada saya, 'Di Formula 1, kontrak tidak penting.' Saya bilang, 'bagi saya, kontrak itu penting.'"

Prinsip yang dipegang Todt tersebut tergolong jarang ditemui di dunia Formula 1, terutama di era modern, ketika klausul pelepasan menjadi hal umum dan pembalap kerap memaksakan kepindahan, meski masih terikat kontrak.


Klausul tanpa Senna

Foto legenda Formula 1 (F1), Ayrton Senna, dipajang di acara ekshibisi “Ayrton Senna. Malam Terakhir”, di Monza, Italia, 16 Februari 2016. Pebalap asal Brasil itu tewas dalam kecelakaan di GP San Marino, pada 1994. (EPA/Daniel Dal Zennaro)

Sebelum akhirnya bergabung dengan Williams pada musim 1994, Senna membela McLaren, tim yang paling identik dengan dirinya dan tempat ia meraih tiga gelar juara dunia.

Kepindahan ke Williams sebenarnya bisa terjadi lebih cepat, terutama setelah Honda mundur dari Formula 1.

Namun, adanya klausul "tanpa Senna" dalam kontrak Alain Prost membuat hal tersebut tidak memungkinkan, bahkan ketika Senna menawarkan diri untuk membalap tanpa bayaran.

Todt menambahkan bahwa pembicaraan lanjutan sebenarnya sempat terjadi.

"Saya mendengar ada kontak sebelum saya, tetapi saya tidak bisa membicarakannya. Dengan saya sebagai kepala tim Formula 1, pembicaraan terjadi pada September 1993 untuk kedatangannya pada 1995, sementara ia ingin datang pada 1994. Itu sebabnya ia pergi ke Williams," kata Todt.

 

Sumber: Crash

Berita Terkait