Refleksi Jacksen Tiago Setelah Tendangan Kungfu di EPA U-20, Serukan Investasi Manusia: Prioritaskan Psikologis, Karakter, Komunikasi

Direktur Akademi Borneo FC Samarinda, Jacksen F. Tiago, membagikan pandangannya mengenai insiden kekerasan yang terjadi dalam Elite Pro Academy (EPA) Super League U-20 2025/2026. (uds)

BolaCom | Muhammad Adi YaksaDiterbitkan 21 April 2026, 13:15 WIB
Mantan pelatih Timnas Indonesia, Jacksen F. Tiago, saat menemui media di Restoran Bluegrass, Jakarta, Senin (4/11/2017). Dirinya akan membina 13 anak Maluku dalam pelatihan Liga Remaja UC News. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Bola.com, Samarinda - Direktur Akademi Borneo FC Samarinda, Jacksen F. Tiago, membagikan pandangannya mengenai insiden kekerasan yang terjadi dalam Elite Pro Academy (EPA) Super League U-20 2025/2026.

Pelatih legendaris di Liga Indonesia itu mengajak semua pihak melihat persoalan secara menyeluruh. Menurutnya, kejadian tersebut perlu menjadi bahan evaluasi bersama.

Advertisement

Eks arsitek Persipura Jayapura itu menilai bahwa sepak bola seharusnya tetap menjunjung sportivitas, rasa hormat, dan nilai-nilai pendidikan.

Ia juga menyinggung pengalaman saat baru kembali dari Spanyol. Di sana, Jacksen melihat bagaimana sepak bola menjadi hiburan yang mampu menyatukan banyak orang.

"Kita melihat langsung bagaimana sepak bola di sana menjadi sebuah hiburan yang luar biasa, sebuah bahasa universal yang menyatukan banyak orang dengan penuh rasa hormat, sportivitas, dan kebanggaan," ujar Jacksen dalam akun Instagramnya, @jt_jacksen_f_tiago_coach, Senin (20/4/2026).


Perkembangan Positif di EPA

Manajer tim Persis Solo, Jacksen F. Tiago saat menghadapi Rans Cilegon FC dalam laga final Liga 2 2021 di Stadion Pakansari, Bogor, Kamis (30/12/2021). (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Jacksen mengaku muncul kegelisahan ketika kembali menyaksikan situasi di Indonesia. Dia mempertanyakan apakah ambisi menjadi yang terbaik harus ditempuh dengan segala cara.

"Namun, ketika kita kembali ke negara kita, muncul sebuah refleksi mendalam: seolah kita sedang memainkan olahraga yang berbeda. Hal ini membawa kita kepada pertanyaan penting, apakah untuk menjadi yang terbaik, kita harus menghalalkan segala cara?" jelasnya.

Kendati begitu, Jacksen menilai EPA musim ini tetap menunjukkan perkembangan positif. Dia menyoroti adanya kemajuan dari sisi organisasi, kurikulum, hingga konsep kepelatihan.

Menurutnya, fondasi tersebut penting untuk masa depan pembinaan usia muda. Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan, yakni investasi pada manusia.

"Namun demikian, ada satu aspek yang menurut saya harus menjadi fokus utama ke depan, yaitu investasi pada manusia," kata Jacksen.


Membentuk Pribadi

Jacksen menekankan bahwa pembinaan pemain muda tidak cukup hanya mengejar prestasi di lapangan. Pengembangan karakter, psikologis, dan kemampuan komunikasi juga harus menjadi perhatian serius.

"Sepak bola dimainkan oleh manusia. Oleh karena itu, pengembangan aspek psikologis, karakter, serta kemampuan komunikasi, termasuk bahasa asing, harus menjadi prioritas kita. Kita tidak hanya membentuk pemain, tetapi juga membentuk pribadi," imbuh Jacksen.

Dia pun mengusulkan adanya langkah lebih serius dalam bidang psikologi olahraga. Menurut Jacksen, kerja sama dengan tenaga ahli dapat membantu pembinaan berjalan lebih utuh.

"Dengan demikian, arah pembinaan kita tidak hanya berorientasi pada performa, tetapi juga pada human development secara menyeluruh," tulis Jacksen.

Jacksen juga menyoroti tantangan era digital bagi pemain muda. Menurutnya, media sosial dapat memberi dampak besar bila tidak disertai pendampingan yang tepat.

"Tanpa pendampingan yang tepat, kita berisiko kehilangan banyak generasi muda kita, bukan karena kurang bakat, tetapi karena kurangnya arah dan karakter," ungkapnya.


Momentum Perbaiki Sistem Pembinaan Sepak Bola Nasional

Soal hukuman kepada pihak yang terlibat dalam insiden tersebut, Jacksen memahami adanya tuntutan dari publik. Namun, ia meminta semua pihak tidak hanya terpaku pada sanksi.

"Sebagai pembina dan juga sebagai seorang ayah, saya meyakini hukuman moral yang sedang dihadapi oleh para pemain dan keluarga mereka sudah sangat berat," terangnya.

Jacksen berharap kejadian ini justru menjadi momentum untuk memperbaiki sistem pembinaan sepak bola nasional. Dia ingin semua pihak bersatu agar kasus serupa tidak terulang.

"Piala bisa berkarat oleh waktu, tetapi karakter akan bertahan seumur hidup," papar pengoleksi empat gelar Liga Indonesia sebagai pelatih itu.


Unggahan Jacksen Tiago

Berita Terkait