Pimred dan Petinggi-Petinggi Media di Italia Tolak Wacana Gli Azzurri Gantikan Iran di Piala Dunia 2026

Wacana tak biasa muncul jelang Piala Dunia 2026. Italia, yang gagal lolos dari jalur kualifikasi, disebut-sebut bisa menggantikan Iran di putaran final.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 24 April 2026, 14:45 WIB
Para pemain Italia berdiri untuk lagu kebangsaan menjelang pertandingan final kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa antara Bosnia-Herzegovina dan Italia di stadion Bilino-Polje di Zenica pada 1 April 2026. (Elvis BARUKCIC/AFP)

Bola.com, Jakarta - Wacana tak biasa muncul jelang Piala Dunia 2026. Italia, yang gagal lolos dari jalur kualifikasi, disebut-sebut bisa menggantikan Iran di putaran final.

Gagasan itu dikaitkan dengan Paolo Zampolli, utusan khusus Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam laporan Financial Times, ia mengusulkan Italia mengambil slot Iran di turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.

Advertisement

Namun, respons dari Italia terbilang keras. Banyak pihak menilai ide tersebut tidak masuk akal dan bertentangan dengan prinsip dasar sepak bola.

Di dalam negeri, kegagalan Gli Azzurri menembus Piala Dunia justru dianggap sebagai konsekuensi dari performa di lapangan, bukan sesuatu yang bisa “diperbaiki” lewat jalur lain.

 


Media Italia: Tidak Masuk Akal dan Tanpa Dasar

Pemain Timnas Italia bereaksi dalam pertandingan leg kedua perempat final UEFA Nations League melawan Jerman di Signal Iduna Park, Dortmund, Senin dini hari WIB (24-3-2025). (Bola.com/figc.it)

Editor Corriere dello Sport, Ivan Zazzaroni, langsung menolak keras wacana tersebut. Ia menyebut usulan itu tidak memiliki landasan apa pun.

Zazzaroni menambahkan bahwa aturan FIFA sudah jelas. Jika ada tim yang mundur, penggantinya harus berasal dari konfederasi yang sama, bukan tim Eropa yang gagal di kualifikasi.

“Zampolli bukan sosok yang perlu dianggap serius. Ini omong kosong dan sama sekali tidak berdasar,” tegasnya.

“Kami gagal lolos, kami tersingkir, dan selesai sampai di situ. Kenapa harus diikutkan kembali? Atas dasar apa? Karena kami punya empat gelar Piala Dunia? Itu benar, tapi kami juga absen tiga edisi beruntun.”

 


Harus Lewat Lapangan, Bukan Jalur Lain

Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), Gabriele Gravina, meninggalkan markas FIGC setelah pertemuan otoritas sepak bola Italia, di Roma pada 2 April 2026. (AFP/Alberto Pizzoli)

Presiden Asosiasi Jurnalis Olahraga Italia, Gianfranco Coppola, mengakui bahwa politik kerap memengaruhi dunia olahraga. Namun, ia menegaskan bahwa hasil di lapangan tetap menjadi tolok ukur utama.

“Menurut saya, keputusan akhir harus tetap ditentukan di lapangan, oleh mereka yang memang meraihnya,” ujarnya.

Ia juga menyebut kehadiran Italia memang menarik dari sisi komersial, baik untuk sponsor maupun penyiar. Namun, hal itu tidak cukup menjadi alasan.

“Tim nasional kami memang belum cukup layak untuk berada di sana. Federasi juga sedang dalam situasi sulit. Kami butuh pelatih baru dan harus membangun ulang tim.”

 


Italia Diminta Introspeksi, Bukan Berharap Keajaiban

Kegagalan lolos ke Piala Dunia 2026 menjadi pukulan telak bagi Italia. Ini menjadi kali ketiga secara beruntun mereka absen di ajang terbesar sepak bola dunia.

Situasi tersebut bahkan berujung pada mundurnya Presiden Federasi Sepak Bola Italia, Gabriele Gravina, serta pelatih timnas Gennaro Gattuso.

Di tengah kondisi tersebut, mayoritas pihak di Italia memilih untuk fokus berbenah, bukan berharap peluang dari luar.

Pesan yang muncul cukup jelas: tiket ke Piala Dunia harus diraih lewat pertandingan, bukan diberikan begitu saja.

Sumber: TRT World

Berita Terkait