Hidup Mark Viduka Berubah Total setelah Pensiun, Kini Jauh dari Dunia Sepak Bola

Mark Viduka kini menjalani hidup yang sangat berbeda setelah pensiun dari sepak bola.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 04 Mei 2026, 11:15 WIB
Penyerang Newcastle United asal Australia, Mark Viduka (kiri), berduel dengan bek Liverpool asal Denmark, Daniel Agger, selama pertandingan sepak bola Liga Premier Inggris di Anfield, Liverpool, pada 3 Mei 2009. (AFP/PAUL ELLIS)

Bola.com, Jakarta - Nama Mark Viduka pernah identik dengan gol-gol tajam di Liga Inggris. Namun, setelah gantung sepatu pada 2009, mantan penyerang andalan Leeds United, Newcastle United, dan Middlesbrough itu memilih jalan hidup yang jauh dari sorotan.

Alih-alih mengikuti jalur umum sebagai pelatih atau analis sepak bola, Viduka menjalani rutinitas yang sama sekali berbeda. Ia kini mengelola kedai kopi dan sesekali bermain musik bersama band anaknya.

Advertisement

Di kalangan penggemar, Viduka kerap masuk kategori "Barclaysmen", sebutan untuk pemain-pemain ikonik era lama Premier League yang kini kembali populer lewat video kompilasi di media sosial.

Namun, kehidupan setelah pensiun yang ia pilih jauh dari stereotip mantan pesepak bola. Dalam wawancara eksklusif dengan Mail Online, Viduka menjelaskan alasannya menjauh dari dunia yang membesarkan namanya.

Ia dikenal sebagai sosok yang mencintai sepak bola sebagai permainan, tetapi tidak nyaman dengan aspek di luar lapangan.

"Semua omong kosong itu," begitu ia menyebut dinamika politik dan kepalsuan di level tertinggi sepak bola.

Pilihan hidupnya setelah pensiun pun mencerminkan sikap tersebut.

 


Hidup Tenang di Kroasia

Pemain sepak bola Australia, Mark Viduka (kanan), menandatangani tanda tangan untuk penggemar muda setelah sesi latihan di Ohringen, 6 Juni 2006, menjelang Piala Dunia 2006. (FOTO AFP/Torsten BLACKWOOD)

Kini, Viduka menetap di Kroasia, negara yang pernah ia bela di awal karier bersama Dinamo Zagreb. Ia memilih tinggal di wilayah perbukitan di utara ibu kota Zagreb, jauh dari keramaian.

Di sana, ia membuka kedai kopi bernama Non Plus Ultra, yang dalam bahasa Inggris berarti "tidak ada yang lebih tinggi".

Tempat itu ia bangun bukan semata bisnis, tetapi juga ruang santai yang terbuka bagi siapa saja.

Ia menjelaskan alasan memilih Kroasia ketimbang Australia atau Inggris, tempat ia pernah menjadi idola suporter.

"Saya meninggalkan Australia untuk bergabung dengan Croatia Zagreb saat usia 19 tahun dan langsung jatuh cinta dengan gaya hidupnya. Kami memang ingin punya kafe, sekadar untuk bersenang-senang, tempat di mana semua orang diterima. Jadi, ya di sinilah kami sekarang," kata Viduka.

 

 


Main Band

Penyerang Middlesbrough, Mark Viduka (kemeja merah, kiri), menerobos pertahanan Bolton Wanderers untuk mencetak gol kedua Middlesbrough selama pertandingan Liga Inggris mereka di Stadion Riverside di Middlesbrough, 26 Maret 2006. (FOTO AFP/GLENN CAMPBELL)

Dengan nada bercanda, mantan pemain yang mencatat 43 caps untuk Timnas Australia itu mengaku bukan dirinya yang paling sibuk di kafe tersebut.

"Istri saya yang mengerjakan semuanya, saya cuma duduk di sini minum kopi," ucapnya.

Kedai itu juga kerap didatangi figur publik, termasuk mantan juara Wimbledon 2001, Goran Ivanisevic.

Selain mengelola kafe, Viduka mengisi waktunya dengan musik. Ia memainkan gitar dan sesekali bergabung dengan band milik putranya, Oliver, yang berperan sebagai drummer.

"Selain minum kopi? Saya main gitar. Anak saya, Oliver, drummer di sebuah band. Kalau salah satu temannya tidak bisa datang, saya yang menggantikan. Kami latihan di basement. Tetangga tidak terlalu senang! Saya dan anak-anak suka Arctic Monkeys. Liriknya, luar biasa," ujarnya.

Pilihan hidup tersebut membuat Viduka menjalani keseharian yang tenang, jauh dari tekanan dan sorotan yang biasa mengiringi mantan pemain top.

 


Perjalanan Karier

Mark Viduka (Leeds United) - Viduka mencatatkan waktu 11,90 detik ketika membobol gawang Charlton Athletic di laga Premier League pada Maret 2001. (AFP/Paul Barker)

Viduka memulai karier di Melbourne bersama Melbourne Knights sebelum direkrut Dinamo Zagreb. Di klub Kroasia itu, ia mencetak lima gol dari 19 penampilan.

Namanya kemudian melejit saat memperkuat Celtic. Pada musim penuh pertamanya di Skotlandia, ia mencetak 27 gol dan meraih penghargaan Pemain Terbaik.

Performa tersebut membuka jalan ke Premier League bersama Leeds United. Satu di antara momen paling dikenang terjadi saat ia mencetak empat gol ke gawang Liverpool di Elland Road.

Menariknya, Viduka justru tidak menganggap penampilannya saat itu istimewa.

"Saya tidak bermain terlalu baik. Banyak kontrol buruk, permainan menahan bola juga kurang. Tapi, hari itu saya punya empat peluang dan semuanya jadi gol. Seberapa sering itu terjadi?"

 


Level Internasional

Pemain sepak bola Australia, Mark Viduka (kanan), merayakan gol yang dicetaknya di samping Timothy Cahill (kiri) selama pertandingan putaran pertama Grup A Piala Asia antara Australia dan Thailand di Bangkok, 16 Juli 2007. Kapten Mark Viduka mencetak dua gol penting di babak kedua untuk memberikan Australia kemenangan 4-0 atas Thailand yang meningkatkan moral dan tetap bertahan di Piala Asia. (Pornchai KITTIWONGSAKUL PORNCHAI KITTIWONGSAKUL/AFP)

Setelah Leeds, ia melanjutkan karier ke Middlesbrough pada 2004, lalu menutup perjalanan profesionalnya bersama Newcastle United sebelum pensiun pada 2009.

Di level internasional, Viduka mencetak 11 gol untuk Australia dan menjadi bagian penting generasi yang mengangkat nama negaranya di panggung dunia, bersama pemain, seperti Harry Kewell dan Tim Cahill.

Kini, jauh dari gemerlap stadion, Viduka memilih kehidupan yang lebih sederhana, mengganti sorak sorai tribune dengan aroma kopi dan dentingan gitar.

 

Sumber: Give Me Sport