Bola.com, Jakarta - Petarung MMA Indonesia, Yudi Cahyadi, semakin dekat dengan mimpi besar menembus Ultimate Fighting Championship (UFC). Fighter berjuluk “Prabu Gagak Lumayung” itu akan tampil dalam ajang Road to UFC di Makau menghadapi petarung asal China, Xie Bin.
Pertarungan tersebut menjadi kesempatan emas bagi Yudi untuk mengikuti jejak JK Saragih sebagai petarung Indonesia yang berhasil mendapatkan panggung UFC. Bedanya, jalur yang ditempuh Yudi kali ini bukan lewat format turnamen, melainkan laga non-turnamen dengan satu target mutlak, menang meyakinkan demi menarik perhatian UFC.
Dalam sesi konferensi pers, Yudi banyak mendapatkan pertanyaan terkait kesiapan menghadapi Xie Bin, termasuk soal tekanan untuk meraih kemenangan spektakuler. Sejumlah angle utama dalam sesi wawancara tersebut juga menggali detail persiapan teknis hingga mental sang fighter.
Yudi pun tampil cukup percaya diri menghadapi tantangan besar tersebut. Meski mengakui lawannya memiliki pengalaman panjang di UFC Performance Institute, petarung asal Indonesia itu merasa punya modal kuat untuk memberikan kejutan di Makau nanti.
Selain membahas strategi menghadapi Xie Bin, Yudi juga berbicara soal senjata andalan di oktagon, kelemahan yang masih ingin diperbaiki, hingga makna julukan “Prabu Gagak Lumayung” yang kini mulai dikenal publik MMA Indonesia.
Yudi Sudah Pelajari Gaya Bertarung Xie Bin
Salah satu fokus utama dalam konferensi pers adalah bagaimana persiapan Yudi menghadapi Xie Bin yang dikenal memiliki kekuatan di wrestling dan submission. Dalam kesempatan tersebut, Yudi mengaku sudah mempelajari gaya bertarung lawannya secara detail.
Menurut Yudi, Xie Bin memiliki postur tinggi dan cukup sering memenangkan laga lewat teknik kuncian. Karena itu, ia harus mencari cara untuk masuk ke area serangan dengan efektif.
“Saya sudah mempelajari setiap pertandingannya. Xie Bin kebanyakan menang dengan kuncian dan memiliki postur yang tinggi,” ujar Yudi.
“Celahnya, saya harus bisa masuk dan menyerang dengan pukulan atau tendangan. Tendangan bisa lebih efektif karena jangkauannya lebih panjang,” lanjutnya.
Yudi bahkan menilai kemenangan lewat submission atas Xie Bin akan menjadi sesuatu yang sangat spesial mengingat lawannya dikenal kuat dalam ground fighting.
“Kalau bisa mengalahkan dia dengan kuncian, itu akan jadi kemenangan yang spektakuler, mengingat dia adalah spesialis wrestling dan kuncian,” tegasnya.
Striking Jadi Senjata Utama di Oktagon
Dalam pertanyaan lanjutan Greg dari Bola.com, Yudi juga membahas soal identitas bertarungnya di oktagon. Meski memiliki latar belakang berbagai cabang combat sport, ia menegaskan dirinya tetap seorang striker.
Petarung berjuluk “Prabu Gagak Lumayung” itu mengaku paling nyaman bermain dalam duel stand-up fight dengan kombinasi pukulan dan tendangan.
“Senjata andalan saya di striking, pukul dan tendang. Basic saya memang striker,” kata Yudi.
Meski demikian, ia memastikan tetap membuka peluang bertarung di bawah jika situasi memungkinkan.
“Tapi tidak menutup kemungkinan kalau ada peluang kuncian, saya bisa lakukan,” lanjutnya.
Modal striking tersebut didukung pengalaman panjang Yudi di berbagai ajang internasional seperti Wushu Sanda, kickboxing, hingga Muay Thai. Ia juga pernah menghadapi petarung level UFC, Kai Kara-France, pada awal kariernya.
Tekanan Menang Spektakuler Justru Jadi Motivasi
Road to UFC edisi kali ini memiliki format berbeda dibanding sebelumnya. Berdasarkan informasi yang diterima Yudi, kemenangan saja belum tentu cukup untuk mendapatkan kontrak UFC.
Karena itu, Greg dari Bola.com kembali menanyakan apakah tekanan untuk menang spektakuler menjadi beban tersendiri bagi dirinya.
Namun Yudi justru melihat situasi itu sebagai motivasi tambahan. Ia ingin tampil agresif dan membuktikan kualitas fighter Indonesia di panggung internasional.
“Sama sekali tidak jadi beban, itu justru jadi motivasi dan bahan bakar semangat saya,” ujar Yudi.
Ia juga menjelaskan arti “menang spektakuler” yang dimaksud dalam Road to UFC. Menurutnya, kemenangan ideal adalah menang KO, submission, atau tampil dominan dalam ronde-ronde awal.
Ground Fighting Masih Jadi Fokus Perbaikan
Meski percaya diri dengan kemampuan striking miliknya, Yudi tetap menyadari masih ada aspek yang perlu diperbaiki sebelum menghadapi level UFC.
Dalam pertanyaan penutup Greg dari Bola.com, Yudi secara terbuka mengakui ground fighting dan wrestling masih menjadi area yang paling ingin ia tingkatkan.
“Yang perlu lebih diasah adalah ground fighting dan wrestling, karena basic saya dari stand-up, saya seorang striker,” ujar Yudi.
“Tapi tanpa meninggalkan striking yang juga terus saya tajamkan,” lanjutnya.
Yudi menilai perkembangan fighter Indonesia sebenarnya tidak kalah dibanding petarung luar negeri. Menurutnya, yang paling dibutuhkan saat ini adalah jam terbang dan kompetisi yang lebih rutin.
“Menurut saya, sebenarnya fighter Indonesia itu sama saja, kita hanya kurang jam terbang. Kalau pertandingan MMA di Indonesia semakin banyak dan kompetitif, skill fighter Indonesia tidak akan kalah dari petarung luar,” katanya.
Terinspirasi Khabib Nurmagomedov
Dalam sesi konferensi pers tersebut, Yudi juga mengungkap dua sosok yang menjadi inspirasinya di dunia MMA, yakni Khabib Nurmagomedov dan Jon Jones.
Ia mengagumi Khabib karena dominasi ground fighting sekaligus kemampuannya membawa identitas sebagai petarung Muslim di atas oktagon.
“Yang pertama Khabib Nurmagomedov, saya kagum karena dia petarung Muslim yang bisa mensyiarkan agamanya di oktagon, dan dia sangat kuat di ground fighting,” tutur Yudi.
Sementara Jon Jones menjadi inspirasi dari sisi teknik dan kemampuan bertarung di level elite UFC.
Menjelang keberangkatannya ke Makau, Yudi berharap mendapat dukungan penuh dari masyarakat Indonesia agar mampu meraih kemenangan dan membuka jalan menuju UFC.
“Mohon doa dan dukungannya untuk saya yang akan berlaga di Road to UFC di Makau melawan Xie Bin. Semoga saya bisa menang dan mendapatkan kontrak UFC. Amin,” pungkasnya.