Bola.com, Jakarta - Keberhasilan Aston Villa menjuarai Liga Europa 2025/2026 bersama Unai Emery bukan sekadar mengakhiri puasa trofi selama 30 tahun. Gelar tersebut juga membangkitkan kembali memori kejayaan terbesar klub asal Birmingham itu di Eropa.
Sebelum Youri Tielemans, Emiliano Buendia, dan Morgan Rogers membawa Aston Villa menaklukkan Freiburg di final Liga Europa 2026, The Villans pernah berdiri di puncak tertinggi sepak bola Eropa pada 1982. Saat itu, Aston Villa secara mengejutkan menaklukkan raksasa Jerman Bayern Munchen untuk menjuarai Piala Champions Eropa, kompetisi yang kini dikenal sebagai Liga Champions.
Final bersejarah tersebut berlangsung di Stadion De Kuip, Rotterdam, pada 26 Mei 1982. Aston Villa menang tipis 1-0 lewat gol Peter Withe dan menorehkan salah satu kisah paling ikonik dalam sejarah sepak bola Inggris.
Empat dekade lebih berlalu, kisah malam itu masih hidup dalam ingatan pendukung Aston Villa. Mulai dari gol “aneh” Peter Withe, penampilan heroik Nigel Spink yang mendadak masuk sebagai kiper pengganti, hingga suasana santai para pemain Villa sebelum laga terbesar dalam hidup mereka.
Gol kemenangan Aston Villa lahir pada menit ke-67 lewat Peter Withe. Momen tersebut bahkan diabadikan lewat komentar legendaris Brian Moore di televisi Inggris.
“It must be. It is. Peter Withe!”
Bagi Withe, gol itu mungkin bukan yang terbaik sepanjang kariernya, tetapi jelas menjadi yang paling penting. Sentuhan canggung yang mengenai tulang kering dan pergelangan kaki justru membawa Aston Villa menuju puncak Eropa.
“Tony Morley melewati bek lawan ke kiri dan kanan. Klaus Augenthaler awalnya menjaga saya, tapi kemudian bergerak menutup ruang sehingga saya bebas di kotak enam yard,” ujar Withe.
“Tony mengirim bola keras melintasi gawang dan semuanya terasa berjalan lambat. Saya bilang ke diri sendiri, ‘Fokus!’ Bola memantul sedikit dari rumput, mengenai tulang kering dan pergelangan kaki saya sebelum masuk mengenai tiang.”
“Saya yakin kalau saya menendangnya dengan sempurna, kiper justru akan bisa menyelamatkannya.”
Gol Peter Withe yang Jadi Penentu Sejarah Aston Villa
Gol Withe memang tidak lahir dengan cara indah. Bahkan rekan setimnya sendiri sering menjadikannya bahan candaan selama bertahun-tahun.
Mantan gelandang Aston Villa, Gordon Cowans, menyebut gol tersebut sebagai “shank” alias tendangan salah sasaran yang justru masuk ke gawang.
“Withey sebenarnya berusaha gagal mencetak gol, tapi entah bagaimana bola tetap masuk,” canda Cowans.
Meski begitu, tidak ada yang peduli bagaimana gol itu tercipta. Yang terpenting, Aston Villa unggul atas Bayern Munchen dan semakin dekat menuju sejarah.
Des Bremner juga mengakui Withe memang lebih terkenal lewat kaki kirinya dibanding kaki kanan.
“Withey tidak terlalu banyak mencetak gol dengan kaki kanan. Dari gol itu, Anda bisa melihat alasannya,” kata Bremner sambil tertawa.
“Tapi tidak masalah bagaimana caranya bola masuk. Yang penting Peter mencetak gol di depan pendukung kami.”
Aston Villa Datang Santai ke Final, Sampai Sempat Foto-Foto di Lapangan
Salah satu kisah paling unik dari final 1982 adalah bagaimana santainya para pemain Aston Villa menghadapi pertandingan terbesar dalam hidup mereka.
Beberapa pemain bahkan membawa kamera dan berfoto di lapangan sebelum kick-off. Sikap itu sampai membuat legenda Nottingham Forest, Brian Clough, yang menjadi komentator televisi malam itu, keheranan.
“Saya tidak percaya tim ini datang ke final Piala Champions Eropa,” ujar Clough.
“Mereka bahkan berfoto-foto di lapangan!”
Tony Morley menjadi salah satu pemain paling santai malam itu. Ia bahkan belum berganti pakaian sampai sekitar 20 menit sebelum pertandingan dimulai.
“Saya masih berada di luar stadion untuk memberikan tiket kepada teman-teman,” kata Morley.
“Orang-orang bertanya apakah saya benar-benar akan bermain. Saya bilang saya hanya butuh 10 menit untuk berganti pakaian.”
Meski tampak santai, Aston Villa sebenarnya datang dengan keyakinan besar. Kapten Dennis Mortimer mulai merasa bahwa trofi itu memang ditakdirkan untuk mereka.
“Saya berpikir, Liverpool dan Nottingham Forest bisa memenanginya. Jadi kenapa bukan Aston Villa?” ujar Mortimer.
Nigel Spink, Kiper Cadangan yang Mendadak Jadi Pahlawan
Drama besar Aston Villa dimulai hanya sembilan menit setelah pertandingan berjalan. Kiper utama Jimmy Rimmer mengalami cedera leher dan tidak bisa melanjutkan pertandingan.
Masuklah Nigel Spink, penjaga gawang berusia 23 tahun yang baru sekali tampil di tim utama Aston Villa sebelumnya.
Tak ada yang menyangka Spink justru tampil luar biasa di panggung terbesar Eropa.
“Saya sama sekali tidak tahu Jimmy bermasalah,” kata Spink.
“Saya benar-benar santai sebelum pertandingan karena saya tidak pernah berpikir akan bermain.”
Spink kemudian melakukan sejumlah penyelamatan penting untuk menggagalkan peluang Bayern Munchen yang diperkuat nama-nama besar seperti Karl-Heinz Rummenigge, Dieter Hoeness, hingga Paul Breitner.
Bahkan ketika Spink sudah terkalahkan lewat sundulan Klaus Augenthaler, Kenny Swain muncul menyapu bola di garis gawang.
Ken McNaught mengungkapkan Aston Villa juga melakukan perubahan taktik penting untuk meredam duet penyerang Bayern.
“Kami sadar Dieter Hoeness terlalu dominan di udara dan Rummenigge terlalu cepat,” kata McNaught.
“Jadi kami mengubah sistem menjadi penjagaan satu lawan satu dan itu berhasil.”
Dennis Mortimer dan Momen Mengangkat Trofi Eropa
Saat peluit panjang berbunyi, para pemain Aston Villa langsung berlari menuju tribune suporter untuk merayakan kemenangan bersejarah tersebut.
Namun Dennis Mortimer hanya memikirkan satu hal: mengangkat trofi Piala Champions Eropa.
“Saya hanya memikirkan bagaimana caranya memegang trofi itu,” kata Mortimer.
“Saat menerima trofi, saya tidak ingin melepaskannya. Saya memastikan sebanyak mungkin foto diambil bersama trofi tersebut.”
Kemenangan itu menjadi malam paling magis dalam sejarah Aston Villa. Sampai sekarang, momen tersebut tetap dikenang sebagai fondasi identitas besar klub asal Birmingham tersebut di Eropa.
Kini, setelah Unai Emery membawa Aston Villa kembali menjuarai kompetisi Eropa lewat Liga Europa 2025/2026, kisah Rotterdam 1982 kembali terasa hidup bagi generasi baru pendukung The Villans.