Bola.com, Jakarta - Senegal datang ke Piala Dunia 2026 dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi. Tim berjuluk Singa Teranga itu bahkan tidak ragu memasang target besar untuk menjuarai turnamen paling bergengsi di dunia tersebut.
Pelatih Senegal, Pape Thiaw, secara terbuka menyatakan keyakinannya bahwa timnya mampu bersaing hingga level tertinggi di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Pernyataan itu langsung menjadi perhatian karena jarang ada tim Afrika yang secara terang-terangan berbicara mengenai peluang menjadi juara dunia.
“Jika bahkan sedetik saja saya ragu bisa memenangkan Piala Dunia bersama Senegal, maka saya akan mundur,” tegas Pape Thiaw seusai pertandingan pada Maret lalu.
Ucapan itu bukan sekadar optimisme kosong. Senegal memang datang dengan modal besar setelah dalam beberapa tahun terakhir menjelma sebagai salah satu kekuatan paling konsisten di Afrika.
Dalam satu dekade terakhir, Senegal nyaris selalu tampil kompetitif di Piala Afrika. Mereka mampu menjuarai AFCON atau tersingkir dari tim yang akhirnya menjadi juara. Konsistensi tersebut membuat Senegal kini mendapatkan respek besar dari dunia sepak bola internasional.
Jurnalis Prancis-Senegal, Babacar Diarra, menilai skuad Senegal memang memiliki keyakinan penuh untuk menciptakan sejarah di Piala Dunia 2026.
“Itu bukan sekadar kata-kata kosong. Para pemain dan pelatih benar-benar percaya mereka bisa memenangkan Piala Dunia,” ujar Diarra.
Generasi Emas Senegal Siap Pecah Telur
Piala Dunia 2026 disebut menjadi momentum emas bagi generasi terbaik Senegal dalam sejarah modern. Nama-nama seperti Sadio Mane, Kalidou Koulibaly, Idrissa Gana Gueye, hingga Edouard Mendy dianggap berada pada titik paling matang dalam karier mereka.
Pada Piala Dunia 2018, Senegal sebenarnya tampil cukup impresif, tetapi tersingkir secara dramatis akibat aturan fair play setelah memiliki jumlah kartu lebih banyak dibanding Jepang.
Sementara pada edisi 2022 di Qatar, Senegal harus angkat koper di babak 16 besar setelah kalah dari Inggris. Saat itu mereka tampil tanpa Sadio Mane yang mengalami cedera sebelum turnamen dimulai.
“Untuk generasi emas ini, ini adalah momen yang tepat. Sekarang atau tidak sama sekali,” kata Diarra.
Akademi Senegal Jadi Mesin Penghasil Bintang
Salah satu kekuatan terbesar Senegal terletak pada sistem pembinaan pemain mudanya. Negara dengan populasi sekitar 20 juta jiwa itu terus menghasilkan talenta-talenta hebat dalam jumlah besar.
Beberapa akademi terkenal seperti Generation Foot, Diambars, Dakar Sacre Coeur, hingga Casa Sports menjadi fondasi utama perkembangan sepak bola Senegal.
Dari akademi-akademi tersebut lahir nama-nama besar seperti Sadio Mane, Ismaila Sarr, Nicolas Jackson, Pape Matar Sarr, hingga Emmanuel Adebayor.
Bahkan, dari 28 pemain Senegal pada Piala Afrika 2025, sebanyak 13 pemain berasal dari akademi lokal Senegal.
Namun di balik keberhasilan itu, muncul pula kritik terkait hubungan bisnis antara akademi Senegal dan klub-klub Eropa. Banyak pihak menilai keuntungan terbesar justru dinikmati klub luar negeri yang merekrut pemain muda Senegal dengan harga murah sebelum menjualnya dengan nilai fantastis.
Pendukung Timnas Senegal, Mamadou Ndiaye, menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk ketimpangan ekonomi dalam sepak bola Afrika.
“Anak-anak muda memang mendapatkan pendidikan dan fasilitas bagus. Tetapi investor juga datang untuk bisnis. Mereka melihat bakat di sini, mengolahnya, lalu menjualnya ke Eropa,” ujar Ndiaye.
Diaspora Jadi Senjata Tambahan Senegal
Selain mengandalkan akademi lokal, Senegal juga semakin agresif merekrut pemain diaspora yang lahir di Eropa.
Dalam beberapa bulan terakhir, federasi sepak bola Senegal sukses meyakinkan wonderkid Paris Saint-Germain Ibrahim Mbaye dan bek Chelsea Mamadou Sarr untuk membela Singa Teranga.
Padahal keduanya sempat memperkuat Timnas Prancis kelompok umur.
Strategi tersebut dianggap sebagai langkah besar Senegal dalam memperkuat skuad nasional mereka menjelang Piala Dunia 2026.
Direktur pengembangan Diambars FC, Cherif Sadio, menjelaskan bahwa Senegal kini memiliki pendekatan yang jauh lebih matang dalam merekrut pemain diaspora.
“Federasi fokus kepada pemain diaspora usia 16 hingga 19 tahun sebelum mereka terikat dengan negara lain,” jelas Sadio.
“Selain itu, identitas budaya juga menjadi faktor penting. Banyak pemain lahir di Prancis atau Inggris, tetapi tumbuh dalam keluarga Senegal dengan budaya dan nilai-nilai yang tetap kuat.”
Kombinasi Pengalaman dan Talenta Muda
Skuad Senegal saat ini dinilai memiliki kombinasi ideal antara pemain senior dan talenta muda.
Idrissa Gana Gueye yang kini berusia 36 tahun masih menjadi sosok penting di lini tengah. Di sisi lain, pemain muda seperti Ibrahim Mbaye menghadirkan energi baru untuk masa depan tim.
Perpaduan pemain lokal, diaspora, pengalaman, dan bakat muda membuat Senegal yakin mampu bersaing dengan tim-tim elite dunia di Piala Dunia 2026.
Keyakinan besar itulah yang membuat Pape Thiaw berani berbicara lantang mengenai peluang Senegal menjadi juara dunia.