Bola.com, Jakarta - Ketika matahari musim panas perlahan tenggelam di langit Seattle, cahaya keemasan masih menggantung di atap stadion. Puluhan ribu orang memenuhi tribun dengan keyakinan masing-masing. Dari satu sisi, genderang Senegal berdentum tanpa putus, mengiringi lautan merah, hijau, dan kuning yang bergoyang seperti ombak dari pantai Dakar. Dari sisi lain, merah Belgia hadir dengan cara yang berbeda: lebih tenang, lebih tertahan, seolah setiap orang di sana sedang menyimpan doa yang tidak ingin terlalu cepat diucapkan.
Belum ada gol.
Belum ada pahlawan.
Belum ada pecundang.
Yang ada hanyalah sebuah bola yang diletakkan di titik tengah lapangan, menunggu disentuh untuk pertama kalinya.
Tak seorang pun di stadion mengetahui bahwa benda kecil itu akan membawa dua bangsa melewati seratus dua puluh menit yang mengubah harapan menjadi keputusasaan, lalu mengubah keputusasaan menjadi keajaiban.
Di atas rumput yang tampak tenang itu, dua cerita besar akan saling bertabrakan.
Yang satu adalah Senegal, bangsa yang bermain dengan keberanian seolah sejarah sedang membuka pintu baru bagi mereka.
Yang lain adalah Belgia, bangsa yang telah terlalu lama memikul beban sebuah generasi emas yang selalu menjanjikan, tetapi berkali-kali pulang tanpa mahkota.
Sebelum peluit pertama dibunyikan, semua kemungkinan masih hidup.
Skor masih 0-0.
Papan pertandingan masih bersih.
Tidak ada air mata.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada penyesalan.
Hanya waktu yang berdiri diam di sudut lapangan, seolah sedang menunggu manusia mulai merasa yakin bahwa mereka mampu menaklukkannya.
Padahal waktu tidak pernah bisa ditaklukkan.
Ia hanya memberi kesempatan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256926/original/015234200_1781176644-Cover_Liputan_Langsung_1__.jpg)
Jurnalis KLY Sports, Hery Kurniawan, memantau langsung kondisi cuaca di sekitar Gillette Stadium, Boston, Amerika Serikat, jelang pertandingan Inggris melawan Ghana pada fase Grup L Piala Dunia 2026. Cuaca menjadi salah satu faktor yang berpotensi me...
Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)
Rumah Bagi Ingatan
Dan malam itu, kesempatan itu akan bertahan tepat selama 120 menit-cukup lama untuk membuat sebuah bangsa percaya bahwa kemenangan telah berada di tangannya, dan cukup singkat untuk merenggut keyakinan itu hanya dalam tiga menit.
Sepak bola memang menyimpan ingatan.
Ia membuat pendukung membawa masa lalu ke dalam setiap pertandingan.
Begitu pula para pelatih.
Sebelum bola pertama ditendang, mereka telah memainkan pertandingan itu berkali-kali di dalam kepala. Mereka menyusun kemungkinan, menghafal kebiasaan lawan, membayangkan puluhan skenario yang mungkin terjadi. Namun ketika peluit awal dibunyikan, semua rencana itu perlahan berpindah dari papan taktik ke hati sebelas pemain.
Sejak saat itu, seorang pelatih hanya dapat berdiri di tepi lapangan, memandang nasib yang berjalan beberapa meter di depannya.
Seattle tidak pernah benar-benar diam malam itu.
Stadion itu seperti memiliki denyut nadinya sendiri. Ia bergetar mengikuti setiap sentuhan bola, setiap tekel, setiap sorakan, bahkan setiap tarikan napas yang lahir dari dua bangsa yang sedang mempertaruhkan sejarahnya.
Kadang-kadang kita mengira stadion hanyalah beton, baja, dan ribuan kursi.
Padahal setiap stadion besar sesungguhnya adalah rumah bagi ingatan. Ia menyimpan gol-gol yang mengubah sejarah, air mata yang luput dari kamera, dan wajah-wajah manusia yang belajar menerima kemenangan maupun kehilangan.
Ketika wasit meniup peluit awal, kedua kenangan itu bertabrakan di atas rumput.
Dua Dunia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8895793/original/058171000_1782941911-Senegal_s_Ismaila_Sarr_is_congratulated.jpg)
Senegal tidak bermain seperti tim yang datang untuk bertahan hidup.
Mereka bermain seperti bangsa yang ingin menulis babak baru sejarahnya.
Setiap perebutan bola dilakukan tanpa ragu. Setiap duel udara terasa seperti pertarungan harga diri. Setiap serangan mengandung keberanian yang jarang dimiliki tim yang berhadapan dengan nama sebesar Belgia.
Di tepi lapangan, Pape Thiaw tidak banyak bergerak. Sesekali ia mengangkat telapak tangannya, meminta garis pertahanan tetap rapat dan irama permainan tidak berubah. Wajahnya tampak tenang, tetapi matanya tidak pernah berhenti mengikuti setiap perpindahan bola. Pengalaman mengajarkannya bahwa pertandingan belum pernah benar-benar dimenangkan sebelum peluit terakhir berbunyi.
Lalu lahirlah gol pertama.
Habib Diarra berlari menjauh sambil mengepalkan tangan.
Di tribun Senegal, ribuan orang melonjak hampir bersamaan. Ada yang menangis. Ada yang memeluk orang asing di sebelahnya. Ada bendera yang terlepas dari tangan pemiliknya karena terlalu keras dilambaikan.
Di lapangan, para pemain Belgia hanya saling memandang.
Belum ada kepanikan.
Masih ada waktu.
Babak kedua baru berjalan beberapa menit ketika Ismaïla Sarr menggandakan keunggulan.
Skor berubah menjadi 2-0.
Di saat seperti itu, stadion sebenarnya mulai terbelah menjadi dua dunia.
Diam-Diam Berubah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8900016/original/074053500_1782943846-Belgium_s_Youri_Tielemans_senegal.jpg)
Di satu sisi, lagu-lagu kemenangan mulai dinyanyikan lebih keras. Genderang dipukul semakin cepat. Para pendukung Senegal tidak lagi sekadar memberi semangat. Mereka mulai merayakan masa depan.
Di sisi lain, tribun Belgia menjadi sunyi.
Sunyi yang tidak kosong.
Sunyi yang dipenuhi hitung-hitungan.
Berapa menit lagi?
Masih mungkinkah?
Di bangku cadangan Belgia, para pemain berdiri lebih sering daripada duduk. Setiap bola yang keluar lapangan segera diambil. Tidak ada lagi yang berjalan santai. Bahkan anak-anak pengambil bola ikut merasakan bahwa pertandingan sedang berlari lebih cepat daripada jarum jam.
Di sisi lapangan yang lain, Rudi Garcia tidak lagi duduk. Ia berjalan tanpa henti di sepanjang garis teknis, sesekali mengepal kedua tangannya, sesekali memanggil pemain yang berada paling dekat dengannya. Seorang pelatih sesungguhnya mengalami penderitaan yang sunyi. Ia telah mengganti pemain, mengubah formasi, mengirimkan segala pesan yang bisa disampaikan. Setelah itu, ia tidak lagi memiliki kuasa atas pertandingan selain berharap keputusan-keputusan yang telah diambil menemukan takdirnya.
Sementara itu, para pemain Senegal mulai melakukan sesuatu yang sangat manusiawi.
Mereka mulai melihat jam.
Setelah memenangkan begitu banyak duel, mereka perlahan mulai berusaha mempertahankan kemenangan itu.
Di situlah pertandingan diam-diam berubah.
Kita Belum Selesai
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8896227/original/086707700_1782942096-Belgium_s_Romelu_Lukaku.jpg)
Karena dalam sepak bola, ada perbedaan besar antara bermain untuk menang dan bermain agar tidak kalah.
Menit-menit berikutnya dipenuhi oleh napas yang semakin pendek.
Setiap sapuan terasa seperti penyelamatan.
Setiap lemparan ke dalam terasa terlalu lama.
Setiap detik terasa lebih berat daripada sebelumnya.
Lalu tibalah menit ke-86.
Romelu Lukaku mencetak gol.
Tidak ada selebrasi panjang.
Ia bahkan hampir tidak tersenyum.
Tangannya segera mengambil bola dari dalam gawang.
Ia berlari menuju garis tengah.
Seolah ingin berkata kepada seluruh rekan-rekannya,
“Kita belum selesai.”
Muncul Harapan
Kalimat itu tidak pernah diucapkan.
Tetapi semua orang mendengarnya.
Yang berubah lebih dahulu bukan papan skor.
Yang berubah adalah suara stadion.
Sorak-sorai Senegal tidak benar-benar hilang.
Tetapi untuk pertama kalinya malam itu terdengar jeda.
Jeda yang pendek.
Namun cukup untuk dimasuki harapan Belgia.
Di tepi lapangan, Rudi Garcia untuk pertama kalinya mengangkat kedua tangannya ke udara. Bukan untuk merayakan gol, melainkan untuk memanggil keyakinan yang nyaris padam.
Di sisi seberang, Pape Thiaw segera mengumpulkan pemain-pemainnya. Tangannya bergerak cepat, suaranya semakin keras, memberi instruksi agar anak-anak asuhnya kembali tenang. Namun bahkan seorang pelatih pun mengetahui bahwa ada sesuatu yang tidak pernah bisa diatur dengan papan taktik.
Momentum.
Dan momentum adalah makhluk yang tidak pernah tunduk kepada siapa pun.
Tribun Belgia yang selama hampir sembilan puluh menit tertahan tiba-tiba meledak.
Bukan karena mereka merasa sudah menang.
Melainkan karena mereka kembali melihat cahaya harapan.
Dan harapan, sering kali, lebih berisik daripada kemenangan itu sendiri.
Wajah Mulai Berubah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8900739/original/009738500_1782944126-Belgium_s_Timothy_Castagne_senegal.jpg)
Di sisi lain lapangan, wajah-wajah Senegal mulai berubah.
Tidak ada yang salah dengan teknik mereka.
Tidak ada yang salah dengan strategi mereka.
Yang mulai goyah adalah sesuatu yang tidak pernah tercatat dalam statistik.
Keyakinan.
Bola yang sejak tadi mengalir begitu tenang mendadak lebih sering memantul. Umpan-umpan sederhana terasa lebih sulit. Langkah kaki menjadi sedikit lebih lambat, seolah rumput Seattle tiba-tiba bertambah berat.
Tiga menit kemudian, sebuah umpan melayang ke kotak penalti.
Youri Tielemans menyambutnya.
Sundulan.
Gol.
2-2.
Dan dalam satu detik yang nyaris mustahil dijelaskan, suasana stadion berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda.
Suara yang tadi memenuhi langit mendadak hilang dari satu sisi tribun.
Sebaliknya, sisi lainnya meledak seperti gunung yang baru terbangun.
Menentukan Sejarah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8888290/original/030850900_1782938816-Senegal_s_Habib_Diarra__21__scores_their_first_goal_against_Belgium_goalkeeper_Thibaut_Courtois.jpg)
Para pendukung Belgia saling berpelukan tanpa mengenal siapa yang mereka peluk.
Para pendukung Senegal tetap berdiri.
Mereka tidak marah.
Mereka hanya menatap lapangan dengan tatapan yang hanya dimiliki manusia ketika menyaksikan sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan dapat terjadi.
Rudi Garcia mengepalkan tangan sekeras-kerasnya. Bukan karena pertandingan telah dimenangkan, melainkan karena harapan yang hampir padam akhirnya kembali bernapas.
Beberapa meter di depannya, Pape Thiaw berdiri tanpa bergerak. Pandangannya tetap tertuju ke lapangan, seolah sedang mencari jawaban atas satu pertanyaan yang paling menyakitkan dalam sepak bola: bagaimana mungkin delapan puluh lima menit permainan yang nyaris sempurna dapat berubah hanya dalam tiga menit?
Babak tambahan bukan lagi pertandingan tentang taktik.
Ia berubah menjadi pertarungan dua jenis kelelahan.
Kelelahan tubuh.
Dan kelelahan harapan.
Kaki para pemain mulai berat.
Kaus mereka dipenuhi keringat.
Beberapa kali pemain hanya mampu berdiri sambil kedua tangan bertumpu di lutut.
Namun justru ketika tubuh mulai kehilangan tenaga, jiwa mengambil alih pertandingan.
Belgia terus maju karena percaya.
Senegal terus bertahan karena takut kehilangan.
Perbedaan itu nyaris tak terlihat.
Tetapi sering kali itulah yang menentukan sejarah.
Dua Wajah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8899597/original/014754500_1782943656-Belgian_players_celebrate_youre_tieleman_s_goal.jpg)
Pape Thiaw beberapa kali menepuk dada para pemainnya ketika pertandingan terhenti, seolah ingin mengatakan bahwa keberanian harus bertahan lebih lama daripada rasa takut.
Di seberang lapangan, Rudi Garcia tidak lagi banyak berbicara.
Kadang-kadang seorang pelatih mengetahui bahwa semua kata telah habis.
Kini pertandingan harus diselesaikan oleh keberanian.
Lalu tibalah menit 120+5.
Semua mata menuju titik putih.
Puluhan ribu orang menahan napas pada saat yang sama.
Youri Tielemans berdiri sendiri.
Di belakangnya ada seratus dua puluh menit perjuangan.
Di depannya hanya tinggal beberapa langkah.
Tetapi beberapa langkah itu terasa sepanjang sejarah.
Peluit berbunyi.
Langkah diambil.
Bola meluncur.
Jaring bergetar.
Skor berubah menjadi 3-2.
Kamera menangkap dua wajah yang tidak mungkin dilupakan.
Tidak Pernah Menyerah Sebelum Waktu Habis
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8906362/original/015018600_1782947098-BELGIA.jpg)
Rudi Garcia memejamkan mata beberapa detik sebelum memeluk staf pelatihnya. Tidak ada selebrasi yang berlebihan. Yang tampak hanyalah kelegaan seorang manusia yang baru saja lolos dari jurang kegagalan.
Di sisi lain, Pape Thiaw tetap berdiri menghadap lapangan. Ia tidak segera berjalan ke ruang ganti. Ia membiarkan matanya menyusuri rumput Seattle yang selama hampir dua jam menjadi saksi bagaimana kemenangan dapat berubah menjadi kehilangan. Dalam diamnya, ia seolah sedang menerima pelajaran paling tua dalam sepak bola: tidak ada strategi yang mampu mengalahkan waktu ketika momentum telah berpindah tangan.
Malam itu sepak bola kembali membuktikan sesuatu yang sederhana sekaligus menyakitkan.
Kemenangan bukanlah milik mereka yang paling lama memimpin.
Ia adalah milik mereka yang tetap percaya, bahkan ketika jam pertandingan hampir kehabisan detaknya.
Karena kehidupan pun demikian.
Kita sering merayakan sesuatu sebelum waktunya. Kita mengira pekerjaan telah selesai ketika yang tersisa hanya beberapa langkah. Kita merasa telah menggenggam masa depan, padahal waktu masih menyimpan satu halaman yang belum dibuka.
Seattle mengajarkan bahwa delapan puluh lima menit dapat dibatalkan oleh tiga menit.
Bahwa sebuah perjalanan yang tampak sempurna dapat berubah hanya oleh satu percikan keyakinan.
Dan bahwa harapan, sekecil apa pun, selalu memiliki kemampuan yang tidak dimiliki kepastian: ia tidak pernah menyerah sebelum waktu benar-benar berakhir.
Stadion Padam
Satu per satu lampu stadion mulai dipadamkan.
Tribun yang beberapa menit sebelumnya dipenuhi nyanyian perlahan kosong. Bendera-bendera dilipat. Genderang Senegal yang sejak awal malam berdentum kini dipanggul pulang dalam diam. Dari sisi lain, syal-syal merah Belgia masih dipeluk erat, seolah para pendukungnya belum sepenuhnya percaya pada keajaiban yang baru saja mereka saksikan.
Para pemain telah meninggalkan lapangan.
Para pelatih telah masuk ke lorong stadion.
Para wartawan mengejar kutipan.
Kamera-kamera dimatikan.
Sorak-sorai berubah menjadi gema yang semakin jauh.
Namun di lapangan, masih ada satu benda yang tertinggal.
Sebuah bola.
Ia terdiam begitu saja di atas rumput hijau.
Beberapa menit sebelumnya, benda itulah yang diperebutkan dengan seluruh tenaga, seluruh kecerdasan, seluruh mimpi, bahkan seluruh harga diri dua bangsa.
Kini ia kembali menjadi benda yang sunyi.
Seolah tidak pernah mengetahui bahwa karena dirinya ada yang menangis, ada yang tertawa, ada yang dipuji sebagai pahlawan, dan ada yang pulang memikul luka.
Pantang Rayakan Kemenangan Sebelum Waktu Selesai
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8892127/original/099569000_1782940442-Belgium_s_Kevin_De_Bruyne.jpg)
Mungkin memang begitulah waktu bekerja.
Ia tidak pernah ikut bersorak ketika seseorang menang.
Ia tidak pernah ikut menangis ketika seseorang kalah.
Ia hanya terus berjalan, meninggalkan manusia untuk belajar dari apa yang baru saja terjadi.
Dan bola itu tetap berada di sana.
Diam.
Bulat.
Tenang.
Seolah sedang berbisik kepada siapa pun yang masih mau mendengarnya:
“Jangan pernah rayakan kemenangan sebelum waktu selesai menulis kalimat terakhirnya.”
Azis Subekti
*) Pemerhati dan penulis sepak bola, pendiri Serikat Masyarakat Produktif Indonesia, dan anggota DPR RI Fraksi Gerindra
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,565,20,0)/kly-media-production/medias/8952821/original/093080800_1782971833-Belgia.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256544/original/005689900_1781161216-500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4018834/original/046767800_1652230460-000_329U96L.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8916640/original/046732400_1782951883-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8902672/original/048339500_1782945204-meksiko.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8928602/original/001454600_1782959117-as.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8642272/original/008119400_1782648829-portugal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8642300/original/072652300_1782649004-swiss.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8642146/original/044834600_1782648664-spanyol.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8642046/original/084628200_1782648544-as.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5245748/original/054274300_1749388049-Screenshot_2025-06-08_200508.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8641829/original/009070200_1782648351-belgia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8871935/original/048030200_1782932122-063_2284214893.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8493901/original/090493200_1782410000-WhatsApp_Image_2026-06-26_at_00.52.07.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8472858/original/090210900_1782378363-WhatsApp_Image_2026-06-25_at_16.03.35.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8339231/original/062209600_1782211000-WhatsApp_Image_2026-06-23_at_17.35.12.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5070744/original/007720000_1735524609-viet.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8226517/original/021098000_1781086668-timnas_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5539804/original/000101600_1774621490-20260327AA_Timnas_Indonesia_vs_Sein-10.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5916792/original/069199100_1778815278-548845334_18142649845421517_5061483859199162001_n.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7336618/original/055797600_1780120424-20260530_105918.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8173102/original/079246200_1781029177-20260609BL_Timnas_Indonesia_Vs_Mozambik_FIFA_Matchday_2026-26.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8952821/original/093080800_1782971833-Belgia.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4018834/original/046767800_1652230460-000_329U96L.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8916640/original/046732400_1782951883-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8902672/original/048339500_1782945204-meksiko.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8928602/original/001454600_1782959117-as.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8932329/original/085800200_1782961214-003_-_Meet___Greet_Persija_bareng_Indofood.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8925257/original/078069000_1782957180-000_18P3T2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8932141/original/090109900_1782961083-500958697_18504373222047411_3282038761652757832_n.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5047885/original/037805000_1734002196-gespens-2_4b3b7b6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8723533/original/024438900_1782814934-IMG_2484.JPG.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5072989/original/055690300_1735615675-Marcus_Rashford_Manchester_United_vs_Newcastle_United-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5513797/original/004673200_1772071238-AP26056733960822.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5057626/original/008436000_1734597740-Newcastle_United_vs_Brentford-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4376848/original/048420100_1680147630-000_336N2QD.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5138175/original/064500400_1740020096-20250220-PSG-AFP_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5554661/original/074206000_1776086114-000_93VH8DX.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5294460/original/077442800_1753406080-mason_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8666203/original/007626600_1782698654-000_B8H28ZD.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8678191/original/057318500_1782724191-20260629HK_Pressconf_Timnas_Inggris_01.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715583/original/010059000_1782810897-nad4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8957196/original/054271300_1782974404-1000961032.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5473047/original/034735000_1768385202-Screenshot_2026-01-14_170326.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8955702/original/086428700_1782973430-IMG-20210108-WA0173_copy_800x600_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8953453/original/012456000_1782972142-156864.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8793270/original/072328500_1782899753-kpk3.jpg)