FIFA Diselidiki Terkait Penjualan Tiket Piala Dunia 2026, Harga Dinilai Terlalu Mahal

Penyelenggaraan Piala Dunia 2026 kembali menjadi perhatian. Kali ini bukan soal persaingan di lapangan, melainkan kontroversi penjualan tiket yang membuat FIFA berada dalam sorotan otoritas Amerika Serikat.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 28 Mei 2026, 09:15 WIB
Sebuah papan iklan yang mempromosikan Piala Dunia 2026 terlihat di luar Faneuil Hall Marketplace pada 10 Maret 2026 di Boston, Massachusetts. (Maddie Meyer/Getty Images via AFP)

Bola.com, Jakarta - Penyelenggaraan Piala Dunia 2026 kembali menjadi perhatian. Kali ini bukan soal persaingan di lapangan, melainkan kontroversi penjualan tiket yang membuat FIFA berada dalam sorotan otoritas Amerika Serikat.

Jaksa Agung New York Letitia James dan Jaksa Agung New Jersey Jennifer Davenport resmi meluncurkan investigasi terhadap praktik penjualan tiket Piala Dunia 2026. Investigasi tersebut difokuskan pada pertandingan yang berlangsung di Stadion MetLife, New Jersey, termasuk partai final yang dijadwalkan digelar pada 19 Juli 2026.

Advertisement

FIFA bahkan telah menerima subpoena atau surat perintah untuk menyerahkan berbagai dokumen terkait mekanisme penjualan tiket. Keluhan suporter mengenai harga yang melonjak drastis hingga dugaan informasi kursi yang menyesatkan menjadi alasan utama dimulainya penyelidikan tersebut.

Piala Dunia 2026 memang menjadi edisi terbesar sepanjang sejarah dengan melibatkan 48 negara dan total 104 pertandingan di Amerika Serikat, Kanada, serta Meksiko. Namun, tingginya harga tiket justru memunculkan gelombang kritik dari banyak pihak.

 


Harga Tiket Melonjak Drastis

Ilustrasi Piala Dunia 2026. (Dok. fifa.com)

Menurut laporan sejumlah media Amerika Serikat, FIFA menggunakan sistem dynamic pricing untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia. Sistem tersebut membuat harga tiket berubah mengikuti tingkat permintaan pasar.

Akibatnya, harga tiket mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Investigasi New York dan New Jersey menyebut FIFA menaikkan harga tiket lebih dari 90 pertandingan antara Oktober 2025 hingga April 2026, dengan rata-rata kenaikan mencapai 34 persen untuk kategori utama.

Beberapa pertandingan bahkan memiliki harga yang dinilai tidak masuk akal. Tiket termurah untuk laga Prancis melawan Senegal di MetLife Stadium disebut mencapai 2.100 dolar AS, sedangkan tiket final menembus lebih dari 16 ribu dolar AS di pasar resmi penjualan ulang FIFA.

Presiden FIFA Gianni Infantino sebelumnya membela kebijakan tersebut dengan alasan tingginya permintaan pasar. Ia menilai harga tiket mengikuti standar industri hiburan di Amerika Serikat.

 


Suporter Keluhkan Posisi Kursi

Ilustrasi Piala Dunia 2026. (Dok. fifa.com)

Selain harga mahal, banyak suporter mengeluhkan lokasi kursi yang dianggap tidak sesuai dengan kategori tiket yang dibeli. Investigasi menyebut sejumlah pembeli tiket kategori premium justru memperoleh kursi yang lebih jauh dari lapangan.

Masalah muncul setelah FIFA memperkenalkan kategori baru bernama “Front Category” usai penjualan awal berlangsung. Kategori tersebut menawarkan kursi paling dekat lapangan dengan harga jauh lebih mahal, sementara pembeli lama tidak mendapat akses ke area tersebut.

Jennifer Davenport menilai FIFA menciptakan “kelangkaan palsu” dalam penjualan tiket demi mendorong harga naik lebih tinggi. Pernyataan itu memperkuat kemarahan publik yang sebelumnya sudah kecewa dengan sistem distribusi tiket turnamen.

 


FIFA Belum Beri Respons Resmi

Hingga saat ini FIFA belum memberikan komentar resmi terkait investigasi tersebut. Namun tekanan terhadap badan sepak bola dunia itu terus meningkat menjelang kick-off Piala Dunia 2026 pada 11 Juni mendatang.

Kontroversi tiket juga membuat sejumlah politisi Amerika Serikat ikut angkat bicara. Mereka meminta FIFA menghadirkan harga yang lebih terjangkau agar masyarakat umum tetap bisa menikmati atmosfer pesta sepak bola terbesar di dunia.

Berita Terkait