Kondisi Fisik Jadi Pembeda, PSG Punya Keuntungan Besar di Final Liga Champions

PSG lebih segar, Arsenal lebih terkuras? Ini keuntungan besar PSG di final Liga Champions.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 29 Mei 2026, 19:45 WIB
Ilustrasi PSG, Arsenal, Liga Champions. (Foto by Gemini AI)

Bola.com, Jakarta - Sekilas, Paris Saint-Germain (PSG) dan Arsenal tampak memasuki final Liga Champions dengan beban yang hampir sama.

Final yang akan digelar di Budapest pada Sabtu malam nanti menjadi pertandingan ke-63 Arsenal musim ini. Sementara itu, PSG akan memainkan laga ke-56 mereka.

Advertisement

Namun, angka tersebut tidak menceritakan keseluruhan situasi.

PSG memang memainkan lebih sedikit pertandingan musim ini, tetapi mereka juga sempat menjalani tujuh laga tambahan di Piala Dunia Antarklub 2025.

Jika dihitung sejak Juni 2025, kedua tim sebenarnya sama-sama telah menjalani 62 pertandingan kompetitif.

Perbedaannya terletak pada cara kedua klub mengelola tenaga para pemain sepanjang musim.

Arsenal menikmati masa jeda musim panas secara normal. Sebaliknya, PSG harus terbang ke Amerika Serikat untuk mengikuti Piala Dunia Antarklub yang dimulai hanya 14 hari setelah mereka mengalahkan Inter Milan di final Liga Champions musim lalu.

Tim asuhan Luis Enrique itu bahkan hampir tidak memiliki waktu pemulihan setelah turnamen tersebut berakhir. Tepat satu bulan kemudian, mereka sudah harus memainkan Piala Super Eropa melawan Tottenham Hotspur sebelum memulai pertahanan gelar Ligue 1 beberapa hari setelahnya.

Kalender padat tersebut sempat memunculkan kekhawatiran bahwa PSG akan menjalani musim yang berat. Namun, kenyataan di lapangan justru menunjukkan hal berbeda.

 


Rajin Memutar Pemain

Pelatih kepala Paris Saint-Germain (PSG) asal Spanyol, Luis Enrique (kanan), berbicara kepada para pemainnya saat jeda pertandingan leg kedua perempat final Liga Champions UEFA antara Liverpool dan Paris Saint-Germain di Anfield, Liverpool, Inggris barat laut pada 14 April 2026. (FRANCK FIFE/AFP)

Sejak awal musim 2025/2026, Arsenal menjadi tim dengan jumlah pertandingan terbanyak di antara seluruh klub dari lima liga top Eropa.

Perjalanan panjang di Premier League, Liga Champions, Piala FA, dan Piala Liga membuat jadwal The Gunners jauh lebih padat dibanding sebagian besar rival mereka.

Masalahnya, Mikel Arteta tidak banyak melakukan rotasi. Situasi itu sangat berbeda dengan PSG.

Saat PSG membuka musim domestik melawan Nantes, hanya dua pemain starter final Liga Champions musim sebelumnya yang langsung dimainkan sejak menit pertama.

Nama-nama seperti Nuno Mendes, Achraf Hakimi, Ousmane Dembele, Desire Doue, dan Khvicha Kvaratskhelia baru masuk dari bangku cadangan untuk membantu PSG meraih kemenangan 1-0.

Kebijakan tersebut terus dipertahankan Luis Enrique sepanjang musim.

 


Menit Bermain

Ousmane Dembele merayakan gol pembuka untuk Paris Saint-Germain di Anfield saat laga leg kedua perempat final Liga Champions 2025/2026 melawan Liverpool, 14 April 2026. (AFP/FRANK FIFE).

Pelatih asal Spanyol itu berulang kali mengistirahatkan para pemain kuncinya dalam pertandingan Ligue 1. Akibatnya, meski PSG memainkan banyak pertandingan, beban menit bermain para pemain inti jauh lebih terjaga.

Data musim ini menunjukkan betapa ekstremnya rotasi yang dilakukan PSG.

Pemenang Ballon d'Or, Ousmane Dembele, hanya menjadi starter dalam 11 dari 34 pertandingan Ligue 1. Joao Neves, Nuno Mendes, dan Fabian Ruiz masing-masing hanya mencatatkan 13 kali menjadi starter.

Khvicha Kvaratskhelia memulai 18 pertandingan, Achraf Hakimi dan Desire Doue 16 kali, sedangkan Marquinhos hanya 11 kali.

Menariknya, mereka juga tidak terlalu sering dimainkan sebagai pemain pengganti. Tidak satu pun dari nama-nama tersebut mencatatkan lebih dari separuh total menit bermain PSG di Ligue 1 musim ini.

 


Liga Champions Jadi Prioritas Utama

Gelandang Portugal Paris Saint-Germain bernomor punggung 17, Vitinha, dan rekan-rekan setimnya merayakan kemenangan tim mereka di akhir pertandingan leg pertama babak 16 besar Liga Champions UEFA antara Paris Saint-Germain (PSG) dan Chelsea di stadion Parc des Princes di Paris pada 12 Maret 2026. (FRANCK FIFE/AFP)

Kebijakan Luis Enrique menunjukkan satu hal yang jelas: para pemain terbaiknya sengaja disimpan untuk Liga Champions.

Nuno Mendes dan Marquinhos bahkan menghabiskan lebih banyak menit bermain di Liga Champions dibandingkan Ligue 1 musim ini, meski PSG memainkan 18 pertandingan lebih sedikit di kompetisi Eropa tersebut.

PSG memang mengalami beberapa masalah cedera, tetapi sebagian besar pemain absen karena rotasi.

Kvaratskhelia hanya melewatkan tiga pertandingan liga akibat cedera. Marquinhos dua laga, Nuno Mendes delapan, Joao Neves sembilan, dan Dembele sepuluh.

Di luar itu, mereka lebih sering mendapat waktu istirahat yang sengaja diberikan staf pelatih.

Faktor usia juga mendukung PSG. Sebagian besar skuad mereka berada pada usia emas atau masih relatif muda sehingga lebih mudah menghadapi jadwal pertandingan yang padat.

Luis Enrique memanfaatkan dominasi PSG di Ligue 1 untuk mengatur beban fisik pemainnya. Klub ibu kota Prancis itu berhasil menjuarai Ligue 1 untuk musim kelima secara beruntun sehingga mereka tidak perlu menguras energi dalam perebutan gelar hingga pekan-pekan terakhir.

 


Arsenal Menempuh Jalan Lebih Berat

Kiper Arsenal, David Raya, bereaksi setelah pertandingan Liga Inggris antara West Ham dan Arsenal di London, Minggu, 10 Mei 2026. (Foto AP/Ian Walton)

Situasi yang dihadapi Arsenal sangat berbeda. The Gunners harus berjuang keras sepanjang musim untuk mengamankan gelar Premier League. Tiga musim beruntun finis di posisi kedua membuat tekanan makin besar.

Keinginan menghindari kegagalan serupa membuat Arsenal hampir tidak memiliki ruang untuk mengendurkan intensitas.

Kemenangan tipis 1-0 atas Burnley yang sudah terdegradasi pada laga kedua terakhir musim bahkan menjadi contoh bagaimana Arsenal harus bekerja keras hingga garis finis.

Selain jadwal yang padat, minimnya rotasi juga menambah beban fisik para pemain utama.

David Raya memainkan setiap menit pertandingan Premier League hingga gelar juara dipastikan. Ia juga menjadi starter dalam 13 dari 14 pertandingan Arsenal di Liga Champions.

Di lini tengah, Declan Rice hampir tidak tergantikan dan hanya absen dalam dua laga Premier League. Martin Zubimendi bahkan tampil di seluruh pertandingan liga. Sementara itu, Gabriel Magalhaes dan William Saliba hampir selalu bermain setiap kali berada dalam kondisi fit.

Kelima pemain tersebut masing-masing menjadi starter sedikitnya 30 kali di Premier League musim ini.

 


Kondisi Fisik Bisa Jadi Pembeda

Selebrasi Bukayo Saka dkk. dalam laga Arsenal vs Atletico Madrid di leg kedua semifinal Liga Champions 2025/2026, Rabu (6/5/2026). (AP Photo/Alastair Grant)

Sebagai perbandingan, tidak ada satu pun pemain PSG yang menjadi starter lebih dari 27 kali di Ligue 1.

Dalam seluruh kompetisi, Raya, Rice, Zubimendi, Gabriel, dan Saliba semuanya telah melampaui 4.000 menit bermain musim ini.

Di kubu PSG, hanya Warren Zaire-Emery yang berhasil menembus angka tersebut.

Secara keseluruhan, terdapat 12 pemain dari kedua tim yang telah memainkan sedikitnya 3.000 menit sepak bola kompetitif musim ini. Sembilan di antaranya berasal dari Arsenal.

Jika Jurrien Timber dinyatakan fit, seluruh pemain tersebut berpeluang menjadi starter pada final nanti.

Tentu saja, satu pertandingan tambahan tidak akan langsung membuat para pemain Arsenal kehabisan tenaga. Mereka adalah atlet elite yang terbiasa menghadapi tuntutan fisik tinggi.

Namun, ketika final memasuki fase-fase penentuan, bahkan berpotensi berlangsung hingga 120 menit, kondisi fisik yang lebih segar bisa menjadi pembeda.

Di atas kertas, PSG tampaknya memiliki keuntungan yang mungkin tidak terlihat dalam statistik biasa, tetapi bisa sangat menentukan saat perebutan trofi Liga Champions mencapai titik paling krusial.

 

Sumber: The Guardian

Berita Terkait