Kai Havertz: Nonton Final Liga Champions Saja Sudah Istimewa, Bermain di Sana Rasanya Sulit Dipercaya

Kai Havertz menungkapkan perasaannya bermain di final Liga Champions bersama Arsenal.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 29 Mei 2026, 22:00 WIB
Gelandang Arsenal asal Jerman, nomor punggung 29 Kai Havertz, merayakan gol pembuka dalam pertandingan Liga Inggris antara Arsenal dan Burnley di Stadion Emirates di London pada 18 Mei 2026. (Glyn KIRK/AFP)

Bola.com, Jakarta - Kai Havertz tahu persis seperti apa rasanya berdiri di panggung terbesar sepak bola antarklub Eropa.

Empat tahun lalu, penyerang Jerman itu menjadi penentu kemenangan Chelsea atas Manchester City pada final Liga Champions 2021 di Porto. Gol tunggalnya membawa The Blues mengangkat trofi dan mengukir satu di antara malam paling berkesan dalam kariernya.

Advertisement

Kini, Havertz memiliki kesempatan untuk mengulang pengalaman serupa bersama Arsenal saat menghadapi Paris Saint-Germain pada final Liga Champions di Budapest, Sabtu (30-5-2026).

Kenangan di Porto masih melekat kuat dalam ingatannya.

"Itu sesuatu yang tidak akan pernah saya lupakan," kata Havertz.

"Saat masih kecil, saya tidak pernah membayangkan bisa mencetak gol di final Liga Champions dan memenangkan pertandingan itu. Saya akan selalu bangga dengan momen tersebut. Sekarang saya hanya mencoba membawa perasaan yang sama dan berharap hal itu bisa terjadi lagi," imbuhnya.


Final Kedua, Situasi Berbeda

Selebrasi gelandang Chelsea, Kai Havertz dengan menggigit medali juara setelah mengalahkan Manchester City pada laga final Liga Champions 2020/2021 di Dragao Stadium, Porto (29/5/2021). Kai Havertz menjadi pemain terbaru yang meninggalkan Chelsea menuju Arsenal setelah sempat menyumbang trofi Liga Champions pada musim 2020/2021. Mulai musim 2023/2024 ia akan resmi membela sang rival, Arsenal setelah dilepas The Blues dengan mahar 70 juta euro. (AFP/Pool/David Ramos)

Menjelang laga melawan PSG, banyak pihak tidak menempatkan Arsenal sebagai favorit juara. Namun, Havertz mengingatkan bahwa situasi serupa pernah ia alami saat membela Chelsea.

Ketika itu, tim asuhan Thomas Tuchel menghadapi Manchester City racikan Pep Guardiola, yang baru saja menjuarai Premier League dengan keunggulan 12 poin. Chelsea hanya finis di posisi keempat dan tertinggal 19 poin dari Man City.

"Kami memang bukan unggulan saat itu," ujar Havertz.

"Kami tidak menjalani musim terbaik. Namun, sekarang situasinya benar-benar berbeda," katanya.

Arsenal datang ke final dengan modal gelar Premier League pertama sejak 2004. Havertz juga berpeluang tampil sebagai starter setelah dalam beberapa pertandingan terakhir lebih sering dipilih ketimbang rekrutan mahal musim panas lalu, Viktor Gyokeres.


Sulit Digambarkan

Kai Havertz berhasil membungkam kritik setelah kepindahan dari Chelsea dengan harga mahal. Havertz kini sudah dianggap sebagai pemain penting bagi tim asuhan Mikel Arteta. Setelah menjadi pemain inti reguler, Havertz sangat pantas untuk mengenakan nomor punggung 10 di Arsenal. (Glyn KIRK / AFP)

Bagi pemain berusia 26 tahun itu, kesempatan memainkan final Liga Champions untuk kedua kalinya tetap menghadirkan perasaan yang sulit digambarkan.

"Kompetisi ini memiliki begitu banyak sejarah," katanya.

"Banyak pemain hebat pernah bermain di sana. Bisa berada di final dan bersaing untuk memenangkan trofi itu adalah sesuatu yang luar biasa."

"Saya ingat ketika masih kecil selalu menonton pertandingan Liga Champions. Bahkan hanya menyaksikan finalnya saja sudah terasa sangat istimewa. Jadi, bisa bermain di final itu rasanya sulit dipercaya," ungkap pemain berusia 26 tahun itu.

"Anda harus lebih dulu mencapai final, lalu masih harus mengambil langkah berikutnya, yaitu memenangkannya. Itu akan sulit, tetapi kami akan mempersiapkan diri sebaik mungkin," tambahnya.


Balas Kepercayaan Arteta

Arsenal akhirnya sukses mengakhiri catatan buruk mereka di Portugal setelah menaklukkan Sporting CP dengan skor tipis 1-0 pada leg pertama perempat final Liga Champions. (AP Photo/Armando Franca)

Ketika Arsenal mengeluarkan dana sekitar 65 juta paun untuk merekrut Havertz dari Chelsea, banyak pihak mempertanyakan keputusan tersebut.

Namun, pemain asal Jerman itu mampu menjawab keraguan dengan performa yang konsisten. Musim lalu ia menjadi pencetak gol terbanyak Arsenal, meski harus melewatkan tiga bulan terakhir kompetisi akibat cedera hamstring.

Kini, Havertz berharap dapat membalas kepercayaan Mikel Arteta di panggung terbesar.

"Dialah orang yang membawa saya ke klub ini," ujar Havertz.

"Dia mengajari saya banyak hal, baik di dalam maupun di luar lapangan. Saya sangat berterima kasih atas semua bantuan yang dia berikan, terutama ketika saya mengalami masa-masa sulit."

"Karena itu menyenangkan rasanya ketika kami bisa memberikan sedikit hadiah untuknya sekarang, yaitu gelar Premier League. Dia membawa klub ini kembali ke tempat yang semestinya," ucap mantan pemain Bayern Leverkusen itu.


Bangkit dari Masa Sulit

Francisco Conceicao dari Porto, kanan, berpegangan pada Kai Havertz dari Arsenal selama pertandingan sepak bola babak 16 besar Liga Champions antara FC Porto dan Arsenal di stadion Dragao di Porto, Portugal, Rabu, 21 Februari 2024. (AP Photo/Luis Vieira)

Musim ini tidak berjalan mulus bagi Havertz. Ia mengalami cedera lutut pada laga pembuka musim melawan Manchester United dan harus menepi hampir lima bulan sebelum kembali bermain pada Januari lalu.

Awalnya, cedera tersebut diperkirakan hanya membuatnya absen beberapa pekan. Namun, situasinya berkembang lebih rumit hingga ia harus menjalani dua operasi dan menghabiskan berminggu-minggu menggunakan penyangga lutut.

"Saya berada dalam kondisi yang buruk saat cedera," ungkap Havertz.

"Anda hanya berada di dalam gedung. Tidak bisa keluar, tidak bisa berjalan, tidak melakukan apa pun."

"Tetapi semua pemain dan staf membantu saya untuk tetap percaya kepada diri sendiri dan kembali ke performa terbaik."

"Sejak Januari semua orang terus mengatakan kepada saya bahwa masih ada banyak hal yang bisa diperjuangkan musim ini. Dari situlah semangat saya kembali tumbuh."

"Saya senang bisa berada di sini lagi sekarang. Saya selalu berusaha membantu tim setiap hari. Bahkan saat cedera pun saya mencoba membantu dari luar lapangan. Itu juga penting."


Kontribusi Havertz

Pemain Arsenal, Kai Havertz, melakukan selebrasi setelah mencetak gol ke gawang Sporting CP pada leg pertama perempat final Liga Champions 2025/2026 di Estadio Jose Alvalade, Rabu (8/4/2026). (AP Photo/Armando Franca)

Kontribusi Havertz sepanjang perjalanan Arsenal menuju final sangat besar.

Ia mencetak gol saat menghadapi Bayer Leverkusen pada babak 16 besar Liga Champions, kemudian kembali mencatatkan namanya di papan skor saat melawan Sporting CP pada perempat final.

Di kompetisi domestik, golnya ke gawang Burnley di Emirates Stadium menjadi gol Premier League pertamanya di kandang dalam lebih dari setahun dan membuka jalan menuju pesta juara Arsenal pada malam berikutnya.

Ia juga sempat mencetak gol ketika Arsenal kalah dari Man City di Stadion Etihad, April lalu.


Titik Balik Musim Arsenal

Hasil ini memastikan Manchester City keluar sebagai juara Carabao Cup musim 2025/2026. Arsenal yang dilatih Mikel Arteta harus puas mengakhiri perjalanan mereka sebagai runner-up. (AP Photo/Richard Pelham)

Menariknya, Havertz tidak menganggap kekalahan dari Man City di Premier League sebagai momen yang mengubah musim Arsenal. Menurutnya, titik balik sesungguhnya terjadi setelah Arsenal kalah dari Man City pada final Piala Liga Inggris.

"Itu adalah momen ketika kami merasa sebenarnya bisa tampil jauh lebih baik," kata Havertz.

"Kami merasa tim ini masih memiliki potensi yang lebih besar dan semua orang perlu kembali mengangkat semangatnya."

"Setelah itu ada jeda internasional dan kami mengatakan kepada diri sendiri bahwa kami harus kembali lebih kuat."

"Sejak saat itu banyak hal berubah dan kami menjadi lebih sukses. Itu momen yang sangat penting."

"Anda selalu merasa frustrasi ketika kalah di final. Karena itu bisa bangkit dari situasi tersebut dan kemudian menjuarai liga seperti yang kami lakukan, adalah sesuatu yang luar biasa."

Kesuksesan mengakhiri puasa gelar Premier League membuat kepercayaan diri Arsenal melonjak menjelang duel melawan PSG.

"Kami sudah bersaing di level tertinggi selama beberapa tahun terakhir dan akhirnya berhasil memenangkan Premier League," ujar Havertz.

"Itu memberi kami dorongan besar. Tidak masalah apakah orang menganggap kami bukan unggulan atau apa pun."

"Kami akan masuk ke lapangan dan kami akan mengalahkan mereka," tegas pemain Timnas Jerman tersebut.

 

Sumber: The Guardian

Berita Terkait