Taktik yang Bisa Membawa Arsenal Menaklukkan PSG dan Juara Liga Champions

Ulasan taktik yang bisa bikin Arsenal mengalahkan PSG dan meraih gelar Liga Champions pertama dalam sejarah klub.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 30 Mei 2026, 14:20 WIB
Ilustrasi PSG, Arsenal, Liga Champions. (Foto by Gemini AI)

Bola.com, Jakarta - Arsenal hanya tinggal selangkah lagi dari gelar Liga Champions. Namun, untuk mewujudkannya, tim asuhan Mikel Arteta itu harus lebih dulu menaklukkan Paris Saint-Germain (PSG) pada partai final, Sabtu malam nanti.

Meriam London datang ke laga puncak dengan modal yang menjanjikan. Mereka menjadi tim dengan catatan nirbobol terbanyak di Liga Champions musim ini, yakni sembilan kali.

Advertisement

Pendekatan berbasis penguasaan bola yang diterapkan Arteta membuat Arsenal mampu membatasi peluang lawan secara konsisten sepanjang turnamen.

Di sisi lain, PSG menunjukkan wajah berbeda. Tim racikan Luis Enrique tersebut hanya mencatat lima clean sheet, tetapi menjadi mesin gol paling produktif di kompetisi dengan torehan 44 gol, jauh di atas Arsenal yang mengoleksi 29 gol.

Statistik tersebut menghadirkan duel yang menarik: pertahanan terbaik menghadapi lini serang paling tajam.

Meski begitu, Arteta diperkirakan tidak akan membiarkan timnya bermain terlalu pasif. Arsenal justru berpeluang mengambil inisiatif dan menekan di wilayah permainan PSG, seperti yang sempat mereka lakukan dalam sebagian besar duel semifinal musim lalu.


Senjata "Nomor 9"

Aksi Mikel Merino saat pertandingan Liga Champions antara Arsenal vs Olympiacos di Stadion Emirates, London, Inggris, Kamis, 2 Oktober 2025. (AP Photo/Kin Cheung)

Satu di antara pendekatan yang cukup efektif saat Arsenal menghadapi PSG musim lalu adalah penggunaan Mikel Merino sebagai penyerang tengah.

Pada laga tersebut, PSG menerapkan tekanan agresif dari lini depan dengan sistem penjagaan satu lawan satu ketika Arsenal mencoba membangun serangan dari belakang.

Dalam konsep permainan posisi, menemukan pemain yang bebas dari penjagaan menjadi kunci. Namun, ketika lawan menerapkan pengawalan individu, ruang gerak biasanya menjadi lebih terbatas.

Saat Merino bergerak turun ke area gelandang, bek tengah PSG, Willian Pacho, enggan mengikuti pergerakannya. Situasi itu membuat PSG tetap memiliki satu pemain tambahan di lini belakang.

Namun, konsekuensinya, Arsenal mendapatkan keunggulan jumlah pemain di sektor tengah.

Ketika gelandang PSG bergeser untuk mengawal Merino, ruang bagi gelandang Arsenal lainnya terbuka. Situasi itu membantu Arsenal membawa bola melewati tekanan lawan dan bergerak lebih dekat ke area pertahanan PSG.

Meski Viktor Gyokeres menutup musim dengan performa impresif, Merino maupun Kai Havertz dinilai lebih cocok menjalankan peran tersebut karena karakter permainan mereka memungkinkan rotasi posisi yang lebih fleksibel.

Selain itu, Arsenal bisa memanfaatkan umpan langsung melewati garis tekanan pertama PSG.

Merino dan Havertz memiliki kemampuan menjaga bola atau menyambut umpan panjang dari David Raya sebelum rekan-rekan mereka berebut bola kedua. Pola ini berpotensi menjadi satu di antara jalan keluar saat PSG menekan tinggi.

Sementara itu, Gyokeres dapat memanfaatkan bola-bola panjang dengan berduel di area sayap dan berlari ke ruang kosong di belakang garis pertahanan lawan. 


Berani Bermain di Area Sempit

Penyerang Arsenal asal Inggris Bukayo Saka (tengah) berebut bola dengan penyerang Paris Saint-Germain asal Prancis Bradley Barcola (kedua dari kiri) dan Bek asal Maroko Achraf Hakimi (kedua dari kanan) selama pertandingan leg kedua semifinal Liga Champions UEFA antara Paris Saint-Germain (PSG) dan Arsenal di stadion Parc des Princes di Paris, pada 7 Mei 2025.Thomas SAMSON / AFP

Satu di antara kendala Arsenal saat menghadapi PSG musim lalu adalah kesulitan mencetak gol. Faktor besar di balik situasi tersebut adalah performa gemilang kiper Gianluigi Donnarumma.

Meski PSG cukup solid dalam bertahan musim ini, sejumlah tim mampu menemukan celah. Chelsea, Lens, dan Bayern Munchen termasuk di antaranya.

Ketiga tim tersebut memancing para pemain PSG berkumpul di satu area lapangan dengan menempatkan pemain-pemain mereka dalam jarak berdekatan. Ketika PSG mengikuti pergerakan tersebut, ruang kosong muncul di bagian lapangan lain.

Mengalirkan bola dari area yang padat menuju ruang yang lebih terbuka menjadi satu di antara cara efektif untuk membongkar organisasi pertahanan PSG, terutama melalui jalur tengah.

Arsenal biasanya lebih berhati-hati ketika menyerang lewat tengah. Mereka cenderung mengandalkan permainan yang lebih aman dan umpan silang karena kehilangan bola di area sentral dapat memicu serangan balik berbahaya.

Namun, dalam pertandingan sebesar final Liga Champions, Arteta mungkin perlu mengambil risiko tersebut.

Leandro Trossard, Havertz, Bukayo Saka, Martin Zubimendi, dan Eberechi Eze memiliki kemampuan bermain dalam ruang sempit sambil menghadapi tekanan lawan. Kombinasi itu bisa membantu Arsenal menciptakan peluang melalui area tengah yang selama ini relatif jarang mereka eksploitasi.


Cara Meredam Ancaman PSG

Gelandang Arsenal asal Spanyol Mikel Merino (bawah) ditekel oleh gelandang Paris Saint-Germain asal Portugal Joao Neves (kanan) saat bek Paris Saint-Germain asal Brasil Marquinhos (belakang tengah) menghalau bola selama pertandingan sepak bola Leg Pertama Semifinal Liga Champions UEFA antara Arsenal dan Paris Saint-Germain (PSG) di Stadion Emirates di London utara, pada 29 April 2025.Adrian Dennis / AFP

Di kubu PSG, perhatian utama Arsenal hampir pasti tertuju kepada Khvicha Kvaratskhelia. Winger kiri asal Georgia itu merupakan satu di antara pemain paling berbahaya di Eropa saat ini.

Di bawah arahan Luis Enrique, PSG memainkan sepak bola yang sangat dinamis. Posisi pemain kerap berubah selama pertandingan, tetapi struktur dasar tim tetap terjaga.

PSG selalu berusaha memastikan beberapa area lapangan tetap terisi, seperti kedua posisi bek tengah, kedua sisi lapangan, dan posisi penyerang tengah. Yang berubah bukan areanya, melainkan siapa pemain yang menempatinya.

Rotasi terus-menerus tersebut sering kali merusak bentuk pertahanan lawan.

Kvaratskhelia kerap memulai permainan dari sisi kiri. Dari area itu, pergerakan tanpa bolanya menjadi ancaman utama.

Contohnya terlihat saat PSG menghadapi Bayern Munchen. Desire Doue beberapa kali turun ke area yang lebih dalam untuk menerima bola. Lantaran Dayot Upamecano tidak memberikan tekanan ketat, Doue memiliki waktu untuk mengangkat kepala dan mengirim umpan.

Pada saat yang sama, Kvaratskhelia berulang kali melakukan gerakan tipuan. Ia seolah berlari ke belakang pertahanan, lalu berhenti, turun mendekat, kemudian kembali berlari ke ruang kosong.

Pergerakan tersebut membuat bek Bayern ragu mengambil keputusan. Ketika ruang akhirnya terbuka, Doue mengirim umpan terobosan yang berujung gol.

Arsenal harus menentukan pendekatan yang jelas untuk menghadapi pola semacam itu. Mereka bisa menempel ketat pemain yang turun menjemput bola agar tidak memiliki waktu mengirim umpan.

Pilihan lain adalah membiarkan mereka menguasai bola di area tertentu sambil mengurangi ruang di belakang garis pertahanan.

Musim lalu, setelah tertinggal 0-1 pada leg pertama, Arteta melakukan perubahan dalam organisasi bertahan timnya.

"Kami memiliki satu masalah yang berhasil kami perbaiki setelah 15-20 menit dan itu mengubah jalannya pertandingan," kata Arteta seusai laga.

Satu di antara perubahan yang dilakukan adalah memodifikasi peran Martin Odegaard saat menekan lawan. Selain itu, William Saliba diberi tugas lebih spesifik untuk mengawal Ousmane Dembele, bahkan ketika sang pemain turun jauh ke area tengah.

Pendekatan tersebut sejalan dengan pandangan mantan pelatih Chelsea, Enzo Maresca, yang pernah mengalahkan PSG 3-0 di Piala Dunia Antarklub 2025.

"Ide kami adalah bermain satu lawan satu. PSG sangat bagus sehingga jika Anda memberi mereka waktu, Anda akan kesulitan. Anda harus menekan mereka dengan sangat intens," ujar Maresca.


Bola Mati Bisa Menjadi Pembeda

Gelandang Arsenal, Declan Rice bersiap mengambil tendangan sudut selama pertandingan perempat final Liga Champions 2025/2026 leg kedua antara Arsenal dan Sporting Lisbon di Stadion Emirates di London utara pada 15 April 2026. (Ben STANSALL / AFP)

Jika ada satu aspek yang tidak boleh diabaikan Arsenal, itu adalah situasi bola mati. PSG hanya kebobolan 29 gol di liga musim ini, tetapi enam di antaranya berasal dari situasi bola mati non-penalti.

Postur skuad PSG yang tidak terlalu dominan dalam duel udara membuat area tersebut menjadi titik lemah yang bisa dimanfaatkan lawan.

Tottenham Hotspur sempat menunjukkan caranya. Meski kalah dari PSG di Liga Champions dan kemudian tersingkir lewat adu penalti pada Piala Super UEFA, mereka mampu mencetak tiga gol melalui skema bola mati.

Dalam ketiga gol tersebut, Tottenham mengarahkan bola ke tiang jauh sebelum mengembalikannya ke depan gawang melalui sundulan.

PSG terlihat tidak nyaman menghadapi umpan silang yang melambung melewati kepala para pemain bertahan mereka. Ketika harus bergerak mundur dan kemudian berbalik arah untuk mengantisipasi sundulan kedua, mereka sering kehilangan posisi.

Arsenal memiliki sumber daya yang lebih baik untuk mengeksploitasi kelemahan tersebut.

Itulah mengapa, setiap tendangan sudut maupun tendangan bebas di area berbahaya berpotensi menjadi peluang emas bagi tim London Utara tersebut.

Momen-momen individual brilian memang sulit diprediksi atau dihentikan. Namun, dari berbagai aspek taktis yang terlihat sepanjang musim ini, Arsenal memiliki cukup alasan untuk percaya diri bahwa mereka mampu melukai sang juara bertahan dan mengangkat trofi Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah klub.

 

Sumber: BBC

Berita Terkait