Air Mata Arsenal di Budapest, Mikel Arteta Sulit Menerima Kekalahan di Final Liga Champions

Setelah membawa Arsenal mencapai final Liga Champions pertama sejak 2006, Arteta harus menyaksikan timnya gagal di ambang sejarah setelah kalah dalam drama adu penalti melawan juara Prancis tersebut.

BolaCom | Benediktus Gerendo PradigdoDiterbitkan 31 Mei 2026, 03:45 WIB
Para pemain Paris Saint-Germain memberi aplaus untuk para pemain Arsenal yang akan menerima medali runner up Liga Champions 2025/2026 di Puskas Arena, Budapest, Minggu (31/5/2026) dini hari WIB. (Attila Kisbenedek/AFP)

Bola.com, Jakarta - Impian Arsenal untuk mengangkat trofi Liga Champions pertama dalam sejarah klub harus pupus dengan cara menyakitkan. The Gunners kalah dari Paris Saint-Germain (PSG) melalui adu penalti pada final Liga Champions 2025/2026, hasil yang membuat pelatih Mikel Arteta dan para pemainnya larut dalam kesedihan.

Setelah membawa Arsenal mencapai final Liga Champions pertama sejak 2006, Arteta harus menyaksikan timnya gagal di ambang sejarah setelah kalah dalam drama adu penalti melawan juara Prancis tersebut.

Advertisement

Arsenal sebenarnya mengawali pertandingan dengan sempurna. Tim asal London Utara itu berhasil membuka keunggulan hanya enam menit setelah kick-off melalui gol Kai Havertz.

Keunggulan cepat tersebut membuat Arsenal tampil percaya diri dan mampu mengendalikan jalannya pertandingan dalam sebagian besar babak pertama. Arteta pun dinilai berhasil menyusun strategi yang efektif untuk meredam permainan PSG.

Namun, situasi mulai berubah pada pertengahan babak kedua ketika PSG mendapatkan hadiah penalti setelah Cristhian Mosquera menjatuhkan Khvicha Kvaratskhelia di dalam kotak penalti.


Penalti Dembele Ubah Jalannya Laga

Penyerang Paris Saint-Germain (PSG), Ousmane Dembele, mencetak gol penyeimbang kedudukan dari titik putih ke gawang Arsenal dalam laga final Liga Champions 2025/2026, Sabtu (30/5/2026). (FRANCK FIFE / AFP)

PSG tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Ousmane Dembele sukses menuntaskan tugasnya dari titik putih dan menyamakan kedudukan.

Skor imbang bertahan hingga waktu normal berakhir. Babak tambahan waktu pun berlangsung ketat dan minim peluang berbahaya dari kedua tim.

Pada akhirnya, pertandingan harus ditentukan melalui adu penalti. Dalam momen yang paling menentukan, Arsenal harus menerima kenyataan pahit setelah kalah 3-4 dalam tos-tosan.


Gabriel Jadi Sorotan dalam Adu Penalti

Bek Arsenal, Gabriel Magalhaes, gagal melakukan tugasnya sebagai eksekutor kelima dalam drama adu penalti melawan Paris Saint-Germain (PSG) di final Liga Champions 2025/2026, Sabtu (30/5/2026). Kegagalan itu memastikan PSG back to back juara Liga Champions. (Odd ANDERSEN / AFP)

Salah satu momen paling menyakitkan bagi Arsenal terjadi saat eksekusi penalti dilakukan. Bek andalan mereka, Gabriel Magalhaes, gagal menjalankan tugasnya setelah tendangannya melambung di atas mistar gawang.

Kesalahan tersebut menjadi titik balik yang membuat PSG akhirnya keluar sebagai juara Eropa.

Bagi Arsenal yang datang ke final sebagai juara Premier League, kekalahan ini terasa sangat menyakitkan karena mereka hanya berjarak satu langkah dari pencapaian terbesar dalam sejarah klub.


Arteta: Kekalahan Ini Sangat Sulit Diterima

Ekspresi gelandang Arsenal Eberechi Eze (kiri) dan rekan-rekannya setelah kalah dari Paris Saint-Germain di final Liga Champions 2025/2026 di Puskas Arena, Budapest, Minggu (31/5/2026) dini hari WIB. (Nicolas Tucat/AFP)

Usai pertandingan, Arteta tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Pelatih asal Spanyol itu mengakui kekalahan melalui adu penalti merupakan hasil yang sangat sulit diterima setelah perjalanan luar biasa timnya sepanjang kompetisi.

"Sangat sulit untuk menerimanya ketika Anda tampil begitu konsisten sepanjang kompetisi hingga mencapai final, lalu kalah melalui adu penalti. Ini benar-benar situasi yang sulit diterima."

Kekecewaan Arsenal semakin bertambah karena pada babak tambahan waktu mereka sempat menuntut penalti setelah terjadi kontak antara Noni Madueke dan Nuno Mendes di kotak terlarang PSG.

Namun, wasit memilih untuk tidak menunjuk titik putih. Keputusan itu memicu kemarahan para pemain dan staf pelatih Arsenal, yang merasa tim mereka seharusnya mendapatkan peluang emas untuk menentukan hasil pertandingan sebelum adu penalti.

Pada akhirnya, malam yang sempat menjanjikan kejayaan bagi Arsenal berubah menjadi malam penuh air mata, sementara PSG berpesta merayakan gelar Liga Champions mereka.

Sumber: Express

Berita Terkait