Jika Ini Piala Dunia Terakhir Messi, Bisakah Ia Melampaui Maradona?

Bisakah Lionel Messi menjuarai Piala Dunia lagi dan melampaui Maradona?

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 07 Juni 2026, 12:30 WIB
Ilustrasi Lionel Messi, Timnas Argentina. (Foto by Gemini AI)

Bola.com, Jakarta - Piala Dunia 2022 di Qatar terasa seperti akhir yang sempurna bagi Lionel Messi. Selama bertahun-tahun, kapten Timnas Argentina itu hidup dalam bayang-bayang perbandingan dengan Diego Maradona.

Namun, berbeda dengan Maradona yang kehidupannya dipenuhi drama, kontroversi, skandal narkoba, cedera, hingga hubungan dengan dunia kriminal, perjalanan Messi tampak jauh lebih sederhana.

Advertisement

Ia dikenal sebagai bocah berbakat yang kemudian mempertahankan level permainan elite selama lebih dari dua dekade. Gelar demi gelar diraih, rekor demi rekor dipecahkan.

Ada kekecewaan dan air mata dalam kariernya, tetapi tidak pernah ada kisah hidup yang penuh gejolak seperti yang melekat pada Maradona.

Itulah mengapa, Qatar menghadirkan dimensi cerita yang berbeda.

Kesuksesan di level klub ternyata belum cukup bagi Messi. Ia datang dengan motivasi besar untuk menuntaskan satu misi yang selama ini terus menghantuinya.

Setahun sebelumnya, ia telah membantu Argentina menjuarai Copa America di Brasil dan mulai menunjukkan sisi kepemimpinan yang jarang terlihat.

Messi, yang biasanya pendiam, mulai lebih vokal di ruang ganti. Ia memberi arahan kepada rekan-rekannya dan tampil sebagai figur sentral tim.

Momen yang paling diingat mungkin terjadi setelah kemenangan Argentina atas Belanda pada perempat final di Qatar. Dalam wawancara televisi, Messi melontarkan kalimat kepada Wout Weghorst yang berdiri di dekatnya.

"Que mira, bobo?" atau "Apa yang kamu lihat, bodoh?"

Ucapan itu langsung menjadi bahan perbincangan. Banyak yang melihatnya sebagai simbol perubahan Messi: sosok tenang yang akhirnya menunjukkan emosi secara terbuka.

Saat itu, hampir semua orang meyakini Qatar adalah Piala Dunia terakhirnya.

Setiap pertandingan fase gugur terasa seperti kemungkinan penampilan terakhir Messi di panggung terbesar sepak bola. Kegeniusan yang masih ia miliki berpadu dengan kesan rapuh akibat usia yang terus bertambah, menciptakan narasi yang sulit diabaikan.


Qatar dan Lingkaran yang Seolah Telah Sempurna

Pemain Timnas Argentina, Lionel Messi melakukan selebrasi usai mencetak gol pertama Argentina ke gawang Timnas Prancis melalui eksekusi penalti dalam laga final Piala Dunia 2022 di Lusail Stadium, Lusail, Qatar, Minggu (18/12/2022) malam WIB. (AP Photo/Manu Fernandez)

Keberhasilan Argentina di Qatar juga terasa seperti penutup sebuah perjalanan panjang.

Pada 1995, Argentina menjuarai Piala Dunia U-20 di Qatar. Itu merupakan awal dari periode emas sepak bola usia muda mereka di bawah Jose Pekerman dan Hugo Tocalli, yang menghasilkan lima gelar dunia U-20 dalam rentang 12 tahun.

Pelatih Timnas Argentina saat ini, Lionel Scaloni, merupakan bagian dari skuad juara pada 1995. Begitu pula dua asistennya, Walter Samuel dan Pablo Aimar.

Sementara itu, Messi menjadi bagian dari generasi terakhir yang meraih gelar U-20 pada 2007. Papu Gomez berada dalam tim yang sama, sedangkan Ángel Di María sudah lebih dulu menjadi juara pada 2005.

Jejak warisan Pekerman dan Tocalli terasa kuat dalam skuad Argentina yang menjuarai Piala Dunia 2022.

Ada pula kekhawatiran bahwa generasi-generasi muda yang begitu sukses itu pada akhirnya tidak akan menghasilkan apa pun di level senior. Namun, kemenangan di Qatar menghapus keraguan tersebut.

Seolah-olah, kisah yang dimulai di Qatar akhirnya ditutup dengan gemilang di tempat yang sama. Jika Messi benar-benar mengikuti tuntutan sebuah cerita yang sempurna, mungkin ia sudah mengakhiri karier internasional saat mengangkat trofi.

Ia bisa saja menolak bisht yang dikenakan saat seremoni penyerahan piala, menjalani putaran kehormatan, lalu mengumumkan pensiun.

Gambarnya yang diarak rekan-rekan setim akan menjadi penutup ideal, mengingatkan publik pada perayaan Maradona setelah menjuarai Piala Dunia 1986 di Stadion Azteca.

Tirai turun. Cerita selesai. Namun, kenyataannya tidak demikian.


Messi Mengubah Alur Cerita

Pelatih kepala Timnas Argentina, Lionel Scaloni saat memimpin latihan persiapan menjelang laga FIFA Matchday melawan Mauritania di Ezeiza, Buenos Aires, Argentina, Rabu (25/03/2026). (AFP/Luis Robayo)

Empat tahun setelah malam bersejarah itu, Argentina kembali bersiap menuju Piala Dunia 2026 dan Messi masih ada di dalamnya. Ia seolah menolak akhir cerita yang telah disiapkan banyak orang.

Saat Piala Dunia 2026 bergulir, Messi akan berusia 39 tahun. Ia bakal menjadi pemain tertua Argentina yang pernah tampil di Piala Dunia.

Meski begitu, secara keseluruhan ia hanya akan menjadi pemain tertua ke-10 di Piala Dunia 2026. Fenomena pemain yang bertahan lebih lama memang makin umum dalam sepak bola modern.

Tentu ada risiko besar. Messi bisa saja mengakhiri petualangannya dengan hasil mengecewakan, menghadirkan antiklimaks yang mengingatkan Argentina pada berbagai kegagalan mereka sebelum akhirnya menjadi juara di Qatar.

Namun, kemungkinan sebaliknya juga tetap terbuka. Bagaimana jika ia mampu melakukannya lagi?

Banyak orang beranggapan Messi sudah tidak perlu membuktikan apa pun. Semua target telah tercapai. Ia bisa menikmati masa pensiun, menjadi pelatih, analis pertandingan, atau menjalani profesi lain.

Akan tetapi, atlet elite sering kali memiliki keyakinan diri yang melampaui logika kebanyakan orang. Mungkin Messi masih percaya, dirinya bisa membawa Argentina menuju puncak sekali lagi. 


Kesempatan Melampaui Maradona

Poster Lionel Messi dan Diego Maradona (c) AFP

Selama bertahun-tahun, kritik yang paling sering ditujukan kepada Messi selalu sama.

Sebanyak apa pun trofi yang ia menangkan bersama Barcelona, ia belum pernah memberikan Argentina gelar Piala Dunia seperti yang dilakukan Maradona. Qatar akhirnya membungkam kritik itu.

Kini, muncul pertanyaan baru yang sebelumnya hampir mustahil dibayangkan.

Mungkinkah Messi justru melampaui Maradona? Bagaimana jika ia berhasil membawa Argentina menjuarai Piala Dunia untuk kedua kalinya?

Apakah akan tiba masanya para penggemar Argentina yang berkumpul di sekitar tempat barbekyu mengakui bahwa sehebat apa pun Maradona, ia hanya memenangkan Piala Dunia satu kali?


Masih Mampukah Messi Bersaing?

Selebrasi Lionel Messi dengan Rodrigo de Paul di laga lanjutan MLS 2026 antara DC United vs Inter Miami di M&T Bank Stadium, Minggu (08/03/2026). (AP Photo/Stephanie Scarbrough)

Kendati gagasan itu menarik, pertanyaan besarnya adalah seberapa realistis peluang tersebut. Di Qatar, Messi sebenarnya sudah terlihat menua.

Dalam banyak pertandingan, ia lebih sering berada di pinggir permainan sebelum tiba-tiba muncul dengan satu momen brilian yang mengubah segalanya.

Rodrigo De Paul bekerja tanpa lelah untuk menutupi keterbatasan fisiknya. Peran itu bahkan begitu penting sampai Inter Miami kemudian merekrut De Paul agar dapat melakukan tugas serupa di Major League Soccer.

Selain De Paul, Julian Alvarez dan Enzo Fernandez juga berkontribusi besar dalam menjaga keseimbangan tim.

Di sisi lain, mungkin penurunan fisik tambahan tidak akan terlalu berpengaruh jika semua orang sudah memahami bahwa Messi bukan lagi pemain yang mengandalkan kecepatan dan intensitas lari.

Ia justru menjadi ancaman ketika bergerak diam-diam di area yang tidak terjangkau lawan.

Meski begitu, ada perbedaan penting dibanding empat tahun lalu. Menjelang Piala Dunia 2022, Messi masih bermain rutin di level kompetisi yang sangat tinggi. Pada paruh pertama musim sebelum turnamen, ia tampil 13 kali di Ligue 1 dan lima kali di Liga Champions.

Tahun ini ia memainkan 14 pertandingan MLS dan dua laga Piala Champions CONCACAF.

Jumlah pertandingan memang tidak jauh berbeda, tetapi kualitas kompetisinya jelas tidak setara dengan kasta tertinggi sepak bola Prancis.

Kabar baiknya, kontribusi Messi bersama Argentina belum menunjukkan penurunan drastis. Ia tetap menjadi pemain penting saat Argentina menjuarai Copa America terakhir, begitu pula dalam laga-laga kualifikasi dan pertandingan persahabatan setelahnya.


Ketakutan yang Mengiringi Akhir Karier

Pada tahun berikutnya, Lionel Messi berhasil memenangi trofi Finalissima 2022 bersama Argentina dengan mengalahkan Juara Euro 2020, Italia. Pertandingan yang berlangsung di Stadion Wembley itu berakhir dengan skor 3-0 untuk kemenangan La Albiceleste. Gol kemenangan Argentina kala itu dicetak oleh Lautaro Martinez, Angel Di Maria, dan Paulo Dybala. (AFP/Adrian Dennis)

Tidak ada yang benar-benar tahu apakah Messi masih memiliki kapasitas untuk memimpin Argentina menuju gelar dunia lainnya.

Ada kekhawatiran bahwa ia suatu saat akan berubah menjadi bayangan dari dirinya sendiri, sosok yang hanya mengingatkan publik pada kejayaan masa lalu tanpa mampu memberikan dampak nyata di lapangan.

Itulah ketakutan yang kerap menghantui banyak atlet saat mendekati akhir karier: bertahan terlalu lama dan kehilangan nilai yang dulu membuat mereka istimewa.

Lalu, apa yang akan dilakukan Messi setelah pensiun?

Kepribadiannya yang tertutup membuat sulit menebak apakah ia tertarik menjadi pelatih atau pengamat sepak bola. Tidak banyak petunjuk mengenai arah hidupnya setelah meninggalkan lapangan.

Jika masa depannya hanya berisi kegiatan promosi merek dan menghabiskan waktu bermain gim, wajar ia enggan memikirkan akhir dari karier profesionalnya.

Namun, mungkin cara pandang itu terlalu biasa untuk diterapkan kepada Messi. Sepanjang hidupnya, ia hampir tidak pernah mengikuti standar yang berlaku bagi kebanyakan orang.

Qatar memang tampak seperti penutup yang sempurna. Tetapi, ada kemungkinan malam itu bukan akhir cerita, melainkan hanya bab pertama menuju penutup yang jauh lebih besar.

Dan, jika itu benar terjadi, Messi berpeluang melakukan sesuatu yang belum pernah dicapainya sebelumnya: menjuarai Piala Dunia untuk kedua kalinya.

 

Sumber: The Guardian

Berita Terkait