Gedung Putih Bela Penolakan Visa Wasit Terbaik Afrika dan Sejumlah Delegasi Iran di Piala Dunia 2026

Pejabat Gedung Putih membela penolakan visa wasit FIFA asal Somalia dan sejumlah delegasi Iran untuk Piala Dunia 2026.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 10 Juni 2026, 14:45 WIB
Andrew Giuliani berpose di karpet merah sebelum Pengundian Resmi Piala Dunia 2026 di John F. Kennedy Center for the Performing Arts pada 5 Desember 2025 di Washington, DC. (Kevin Dietsch/Getty Images via AFP)

Bola.com, Jakarta - Direktur Eksekutif Satuan Tugas Piala Dunia Gedung Putih, Andrew Giuliani, membela keputusan pemerintah Amerika Serikat yang menolak memberikan visa kepada seorang wasit FIFA asal Somalia serta beberapa anggota staf pendukung Timnas Iran.

Dalam sebuah acara yang digelar Atlantic Council di Washington, Selasa (9-6-2026), Giuliani menegaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga keamanan selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026.

Advertisement

"Hingga saat ini sudah ada 35 tim yang datang ke Amerika Serikat," kata Giuliani.

"Tidak ada pemain maupun pelatih yang ditolak masuk," lanjutnya.

"Memang ada beberapa ofisial yang ditolak, dan itu dilakukan dengan alasan yang sangat kuat," imbuhnya.


Jaga Keseimbangan

Wasit Somalia, Omar Abdulkadir Artan, memberi isyarat selama pertandingan Grup D Piala Afrika (CAN) 2024 antara Mauritania dan Aljazair di Stade de la Paix di Bouake pada 23 Januari 2024. (KENZO TRIBOUILLARD/AFP)

Pernyataan tersebut muncul setelah muncul pertanyaan mengenai keputusan pemerintah Amerika Serikat yang melarang wasit Somalia, Omar Artan, memasuki negara tersebut.

Seorang pejabat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengatakan kepada AFP pada Selasa malam bahwa Artan dianggap tidak memenuhi syarat untuk masuk ke negara itu karena memiliki keterkaitan dengan individu yang diduga merupakan anggota organisasi teroris.

"Yang bersangkutan memiliki hubungan dengan individu yang diduga anggota organisasi teroris sehingga membuat pelancong tersebut tidak memenuhi syarat untuk diterima masuk ke Amerika Serikat," kata pejabat tersebut.

Giuliani menegaskan pemerintah berusaha menjaga keseimbangan antara kelancaran turnamen dan aspek keamanan nasional.

"Kami berusaha menjaga keseimbangan itu, memastikan siapa pun yang berniat buruk dan mencoba masuk ke negara ini dengan memanfaatkan Piala Dunia sebagai kedok tidak mendapatkan akses ke Amerika Serikat," ujarnya. 


Wasit Ditolak Masuk

Wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, batal memimpin pertandingan Piala Dunia 2026 karena tak mendapatkan izin masuk ke Amerika Serikat. (AFP/Issouf SANOGO)

Kasus Artan menarik perhatian karena ia baru saja dinobatkan sebagai Wasit Pria Terbaik Tahun 2025 oleh Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF). Jika bertugas di Piala Dunia 2026, ia akan menjadi warga Somalia pertama yang memimpin pertandingan pada ajang tersebut.

Namun, Artan akhirnya ditolak masuk saat tiba di Bandara Miami.

Somalia termasuk daftar negara yang terkena larangan perjalanan yang diberlakukan pemerintahan Presiden Donald Trump sebagai bagian dari kebijakan pengetatan imigrasi.

Selain Somalia, Iran menghadapi sejumlah kendala menjelang turnamen.


Kasus dengan Timnas Iran

Foto yang diberikan ini, diambil dan dirilis oleh Kantor Pers Federasi Sepak Bola Iran pada 6 Juni 2026, menunjukkan para pemain Timnas Iran (Dari Kiri) bek Mehdi Torabi, pemain sayap kiri Mehdi Ghayedi, gelandang Amirmohammad Razzaghinia, pemain sayap kiri Mohammad Mohebi, dan kiper Payam Niazmand menaiki pesawat di Bandara Antalya menjelang keberangkatan mereka ke Meksiko untuk turnamen sepak bola Piala Dunia 2026, di Antalya, Turki, pada 6 Juni 2026. Iran mengecam Amerika Serikat pada 6 Juni karena menolak visa kepada beberapa staf pendukung skuad Piala Dunia mereka karena para pemain untuk meninggalkan Turki menuju Meksiko. (Foto: Kantor Pers Federasi Sepak Bola Iran/AFP)

Timnas Iran, yang dijadwalkan memainkan seluruh laga fase grup di wilayah Amerika Serikat, terpaksa memindahkan pusat latihan mereka ke Meksiko akibat konflik militer yang masih berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat.

Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) pada Selasa menyatakan alokasi tiket bagi para pendukung mereka telah dicabut. Selain itu, sejumlah anggota staf pendukung tim juga tidak memperoleh visa.

Menanggapi hal tersebut, Giuliani menegaskan bahwa seluruh staf pelatih Iran tetap akan diizinkan masuk ke Amerika Serikat.

"Semua staf pelatih Iran akan masuk," katanya.

Namun, ia mengakui ada beberapa pejabat Iran yang tidak mendapatkan izin masuk.

"Ada beberapa ofisial Iran yang tidak akan masuk, dan sekali lagi, itu karena alasan yang sangat kuat," ujar Giuliani.


Tak Ungkap Alasan Penolakan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump di New York pada 22 Mei 2026. (Dok. AP/Ryan Murphy)

Giulani menolak menjelaskan lebih terperinci alasan penolakan tersebut.

"Saya tidak bisa membahas detail kasusnya, tetapi ada beberapa orang yang mengaku sebagai pelatih, padahal mungkin sebenarnya bukan pelatih," katanya.

Menurut Giuliani, Presiden Trump ingin memastikan seluruh peserta Piala Dunia 2026 memperoleh perlakuan yang setara selama turnamen berlangsung.

Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat juga ingin memastikan individu yang memiliki hubungan langsung dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) tidak dapat memasuki wilayah negara tersebut.

Trump, kata Giuliani, ingin memastikan adanya "lapangan permainan yang setara" bagi seluruh peserta Piala Dunia 2026, sekaligus memastikan bahwa orang-orang yang bekerja langsung dengan IRGC "tidak memiliki kemampuan untuk mengakses Amerika Serikat".


Belum Ada Ancaman Kredibel

Polisi terlihat di Gedung Bandara saat Tim Jerman tiba di Bandara Smith Reynolds pada 8 Juni 2026 di Winston-Salem, North Carolina. Tim Jerman akan menjadikan Winston-Salem sebagai markas mereka selama Piala Dunia 2026. Alexander Hassenstein/Getty Images via AFP)

Kendati sejumlah isu keamanan mencuat menjelang Piala Dunia 2026, Giuliani menegaskan sejauh ini belum ada ancaman yang dinilai kredibel terhadap penyelenggaraan turnamen sepak bola terbesar sejagat itu.

Ia mengatakan komunitas intelijen Amerika Serikat telah meningkatkan pengawasan secara signifikan dan akan terus memantau perkembangan situasi hingga turnamen berakhir.

"Saat ini tidak ada ancaman yang kredibel," kata Giuliani.

Ia menambahkan komunitas intelijen telah melipatgandakan upaya pengawasan hingga tiga kali lipat dan akan terus memonitor situasi mulai sekarang sampai gol terakhir tercipta pada 19 Juli.

 

Sumber: AFP via Yahoo