Krisis Visa Bayangi Timnas Iran di Piala Dunia 2026: 4 Delegasi Menang Banding, 11 Anggota Lain Tetap Dilarang Masuk AS

Persoalan yang menimpa Timnas Iran di Piala Dunia 2026 seperti tidak ada habisnya.

BolaCom | Benediktus Gerendo PradigdoDiterbitkan 14 Juni 2026, 11:15 WIB
Timnas sepak bola Iran berpose untuk foto bersama sebelum pertandingan kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 zona Asia Grup A antara Iran dan Uzbekistan, pada 25 Maret 2025 di Teheran. (AFP)

Bola.com, Jakarta - Timnas Iran menghadapi kendala besar di Piala Dunia 2026 setelah sejumlah anggota delegasinya mengalami masalah visa untuk memasuki Amerika Serikat, salah satu negara tuan rumah turnamen.

Dari 15 anggota delegasi Iran yang awalnya ditolak permohonan visanya oleh pemerintah Amerika Serikat, 10 orang mengajukan kembali permohonan setelah tiba di Meksiko, yang kini menjadi markas tim selama turnamen berlangsung.

Advertisement

Hasilnya, hanya empat orang yang berhasil mendapatkan visa setelah proses banding. Mereka adalah seorang analis tim dari staf teknis dan dua pejabat dari departemen internasional Federasi Sepak Bola Iran.

Sementara itu, enam pemohon lainnya kembali ditolak. Di antara mereka terdapat Presiden Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) Mehdi Taj, salah satu wakil presiden federasi, dua administrator tim, seorang petugas media, dan seorang petugas keamanan.

Nikmati liputan ekslusif Piala Dunia 2026 di Bola.com. Kami menyajikan berbagai liputan menarik, unik, dan analisis yang konferhensif dengan datang langsung ke Amerika Serikat. Klik link ini!

 

Jurnalis KLY Sports, Hery Kurniawan, peliput Piala Dunia 2026. (Multimedia KLY)


Ketegangan Politik Pengaruhi Persiapan Iran

Pelatih kepala Timnas Iran, Amir Ghalenoei (C), berbicara kepada para pemainnya selama sesi latihan di markas mereka di Antalya, pada 19 Mei 2026. Timnas Iran tiba di Turki pada 19 Mei 2026 untuk kamp pelatihan dan menyelesaikan aplikasi visa menjelang Piala Dunia 2026, kata koresponden AFP. (Satu SAN/AFP)

Masalah visa ini muncul di tengah hubungan yang sangat tegang antara Iran dan Amerika Serikat.

Bahkan sebelumnya, Iran telah memutuskan memindahkan pusat latihan dan markas Piala Dunia mereka ke Meksiko karena kekhawatiran terkait konflik yang sedang berlangsung antara kedua negara.

Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya menegaskan para pemain Iran tetap diizinkan mengikuti turnamen. Namun, sejumlah individu yang memiliki keterkaitan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) berpotensi menghadapi pembatasan masuk.

Federasi Sepak Bola Iran sebelumnya juga mengajukan daftar 10 syarat kepada FIFA terkait partisipasi mereka di Piala Dunia 2026, termasuk permintaan agar pemain, pelatih, dan ofisial yang pernah menyelesaikan wajib militer di IRGC tetap diizinkan mengikuti turnamen.


Jadwal Iran Tetap Berjalan di Amerika Serikat

Pemain depan Iran, Mehdi Taremi, memberikan tanda tangan untuk para penggemar di luar Hotel Marriott sebelum berangkat untuk sesi latihan di Tijuana, Meksiko, pada 10 Juni 2026, menjelang turnamen sepak bola Piala Dunia FIFA 2026. (Guillermo Arias/AFP)

Terlepas dari polemik tersebut, Iran tetap dijadwalkan memainkan pertandingan grup mereka di Amerika Serikat. Iran akan memulai perjalanan mereka dengan menghadapi Selandia Baru di Los Angeles pada 15 Juni.

Setelah itu, mereka kembali bermain di kota yang sama melawan Belgia pada 21 Juni sebelum bertemu Mesir di Seattle pada 26 Juni.

Tidak hanya delegasi yang menghadapi masalah, pendukung Iran juga terkena dampaknya. Alokasi tiket untuk suporter Iran pada fase grup dilaporkan telah dicabut oleh otoritas Amerika Serikat.

Meski demikian, FIFA menyatakan masih berupaya mencari solusi. "FIFA sedang bekerja untuk memaksimalkan peluang bagi para pendukung Iran agar dapat menghadiri pertandingan."


FIFA dan Blatter Ikut Soroti Persoalan Visa

Kasus Iran bukan satu-satunya masalah visa yang muncul pada Piala Dunia 2026. Beberapa suporter dari negara tertentu juga dilaporkan mengalami pembatasan masuk.

Selain itu, wasit asal Somalia, Omar Artan, juga tidak mendapatkan izin masuk ke Amerika Serikat untuk bertugas di turnamen.

Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, turut mengkritik situasi tersebut dan menilai negara tuan rumah memiliki kewajiban untuk menjamin akses bagi seluruh peserta resmi turnamen.

"Negara tuan rumah Piala Dunia FIFA harus menjamin dua prinsip mendasar: keamanan negara dan akses masuk tanpa hambatan bagi seluruh tim, ofisial, serta wasit yang telah memenuhi syarat."

Blatter juga menyoroti kasus wasit Somalia tersebut.

"Kasus wasit Omar Artan dari Somalia bertentangan dengan salah satu kewajiban tersebut. FIFA tidak boleh mengorbankan universalitas sepak bola."

Kontroversi visa yang melibatkan Iran dan sejumlah pihak lain kini jadi salah satu isu non-teknis terbesar yang mewarnai penyelenggaraan Piala Dunia 2026, di tengah upaya FIFA menjaga semangat inklusivitas dalam turnamen sepak bola terbesar di dunia.

Sumber: BBC

Berita Terkait