Kontroversi VAR Warnai Swiss Vs Qatar di Piala Dunia 2026, Eks Wasit FIFA: Teknologi Gagal!

Qatar tahan Swiss di Piala Dunia 2026, tetapi sorotan tertuju pada keputusan VAR yang memicu perdebatan.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 14 Juni 2026, 11:45 WIB
Pemain Swiss, Michel Aebischer (kiri), berebut bola dengan pemain Qatar, Issa Laye, dalam pertandingan Grup B Piala Dunia 2026, Minggu (14/6/2026). (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Bola.com, Jakarta - Laga pembuka Grup B Piala Dunia 2026 antara Swiss dan Qatar di San Francisco, Minggu (14-6-2026) dini hari WIB, menghadirkan drama sejak menit-menit awal hingga peluit akhir.

Duel yang berakhir imbang itu tidak hanya dikenang karena gol penyeimbang pada masa injury time, tetapi juga karena keputusan VAR yang memicu perdebatan panjang.

Advertisement

Qatar, tuan rumah Piala Dunia 2022, berhasil mengamankan satu poin berkat sundulan Boualem Khoukhi pada menit ke-94.

Namun, jauh sebelum gol tersebut tercipta, sorotan sudah tertuju pada sebuah insiden penalti yang terjadi pada menit ke-17.

Situasi bermula ketika Remo Freuler menyambut bola sundulan di dalam kotak penalti. Gelandang Swiss itu kemudian berusaha mencungkil bola melewati kiper Qatar, Mahmud Abunada, yang bergerak maju menutup ruang.

Benturan keras tak terhindarkan dan membuat kedua pemain terjatuh.


Bahan Perdebatan

Bek Swiss, Manuel Akanji, berduel udara dengan pemain Qatar pada lanjutan Piala Dunia 2026. (Fran Santiago / AFP)

Wasit asal Honduras, Hector Said Martinez, langsung menunjuk titik putih. Swiss memperoleh penalti dan Breel Embolo menjalankan tugasnya tanpa kesulitan untuk membawa timnya unggul.

Keputusan tersebut kemudian menjadi bahan perdebatan. Tayangan ulang memperlihatkan Freuler diduga berada dalam posisi offside saat menerima bola.

VAR pun melakukan pemeriksaan, tetapi proses peninjauan justru menimbulkan tanda tanya baru.

Tidak ada garis offside maupun grafis semi-otomatis yang ditampilkan kepada penonton.

Setelah pemeriksaan selesai, keputusan penalti tetap dipertahankan. Penonton di stadion maupun pemirsa televisi tidak mendapatkan penjelasan visual mengenai dasar keputusan tersebut.


Pundit Mengkritik

Manuel Akanji (kiri) berduel udara dengan Jassem Gaber di laga Qatar Vs Swiss di matchday 1 Grup B Piala Dunia 2026 di San Francisco Bay Area Stadium, Minggu (14/6/2026) dini hari WIB. (AP Photo/Eakin Howard)

Mantan bek Timnas Inggris, Gary Neville, mengkritik keras kurangnya transparansi dalam proses itu.

"Mereka punya bukti dari keputusan otomatis tersebut. Kenapa mereka tidak menunjukkannya kepada kita?" ujar Neville.

Ia bahkan membandingkan pendekatan FIFA dalam kasus tersebut dengan sebuah "kediktatoran".

Kritik serupa juga datang dari Ian Wright. Mantan striker Arsenal itu menyebut minimnya keterbukaan dalam proses VAR sebagai sesuatu yang memalukan.

Sementara itu, komentator ITV, Lee Dixon, mengaku sempat yakin VAR akan membatalkan keputusan penalti tersebut.

"Pasti ada yang salah dengan monitor saya," kata Dixon.


Komentar Eks Wasit

Breel Embolo berhasil mencetak gol ke gawang Qatar pada lanjutan Piala Dunia 2026. (Fran Santiago / AFP)

Perdebatan makin panas setelah mantan wasit FIFA sekaligus eks kepala PGMOL, Keith Hackett, ikut menyampaikan pandangannya melalui media sosial X.

Ia menanggapi unggahan mantan pemain Timnas Norwegia, Jan Aage Fjortoft, yang mempertanyakan mengapa VAR lebih fokus meninjau penalti dibanding dugaan offside yang terjadi sebelumnya.

Menurut Hackett, keputusan di lapangan seharusnya berbeda.

"Gol ini seharusnya dianulir karena offside. Teknologinya gagal," tulis Hackett.

Namun, pandangan berbeda disampaikan analis perwasitan ITV, Christina Unkel. Ia menjelaskan bahwa sesuai protokol FIFA, grafis semi-otomatis offside hanya ditampilkan apabila hasil pemeriksaan VAR berujung pada perubahan keputusan wasit.


Bela Teknologi FIFA di Piala Dunia 2026

Selebrasi Qatar usai mencuri poin dari Swiss di Piala Dunia 2026 (AFP)

Lantaran keputusan awal tetap dipertahankan, garis dan grafis offside tidak pernah ditayangkan kepada publik.

Unkel juga membela teknologi yang digunakan FIFA di Piala Dunia 2026. Menurutnya, sistem tersebut memiliki tingkat akurasi yang jauh melampaui kemampuan pengamatan manusia.

"Teknologi yang diterapkan di Piala Dunia ini berada pada level yang lebih tinggi sehingga hasilnya akan jauh lebih tajam dan lebih presisi," ujar Unkel.

Pada akhirnya, Qatar berhasil menghindari kekalahan berkat sundulan Khoukhi pada menit-menit akhir. Meski demikian, hasil imbang tersebut tidak serta-merta meredakan kontroversi.

Pertanyaan mengenai proses pemeriksaan VAR dan alasan di balik dipertahankannya keputusan penalti untuk Swiss tampaknya masih akan terus menjadi bahan perdebatan.

 

Sumber: Give Me Sport

Berita Terkait