Brasil Menggantungkan Mimpi Juara Piala Dunia 2026 kepada Vinicius Junior

Brasil butuh Vinicius Junior untuk jadi jawaban atas semua doa mereka...

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 14 Juni 2026, 15:30 WIB
Sepanjang pertandingan, Maroko justru tampil lebih agresif pada babak pertama. Mereka membuka keunggulan lewat gol Ismael Saibari sebelum akhirnya Brasil menyamakan kedudukan melalui Vinícius Júnior. (AP Photo/Adam Hunger)

Bola.com, Jakarta - Ketika Brasil kesulitan menemukan jalan keluar, semua mata tertuju kepada Vinicius Junior.

Bukan sekadar karena statusnya sebagai satu di antara pemain terbaik dunia, melainkan karena ia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki banyak pemain lain.

Advertisement

Bahkan, menurut asisten pelatih Timnas Brasil, Francesco Mauri, keistimewaan itu terletak pada cara Vinicius menggunakan pergelangan kakinya saat melepaskan tembakan.

"Ia fenomenal dalam cara menggunakan pergelangan kakinya," kata Mauri dalam podcast "Cronache di Spogliatoio".

"Ia tidak membutuhkan ancang-ancang panjang untuk menghasilkan tenaga dalam tendangannya. Setelah mengontrol atau membawa bola, ia tidak membuang waktu untuk mempersiapkan tembakan. Ia menggunakan pergelangan kakinya untuk mengarahkan bola dan mencetak gol. Ia sudah mencetak banyak gol dengan cara seperti itu," ulasnya.

Masalahnya, gol-gol yang dimaksud Mauri lebih banyak lahir saat Vinicius mengenakan seragam Real Madrid, bukan Brasil.

Publik Brasil sudah lama menunggu pemain berusia 25 tahun itu menampilkan pengaruh yang sama saat membela Selecao.

Mereka pernah melihatnya mencetak gol penentu kemenangan atas Liverpool pada final Liga Champions 2022 di Paris dan kembali bersinar saat Real Madrid mengalahkan Borussia Dortmund pada final Liga Champions 2024 di Wembley.

Pertanyaannya selalu sama: kapan Vinicius menghadirkan momen serupa untuk Brasil?


Saat Brasil Kehabisan Jawaban

Pemain Timnas Brasil, Vinicius Junior, merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Maroko dalam laga pertama Grup C Piala Dunia 2026 di East Rutherford, New Jersey, Minggu (14/6/2026) pagi WIB. (AP Photo/Adam Hunger)

Pertanyaan itu kembali muncul ketika Brasil menghadapi Maroko pada laga pembuka Grup C Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium, New Jersey.

Brasil tertinggal 0-1 dan kesulitan mengimbangi permainan lawan selama sekitar 30 menit pertama. Maroko tampil lebih terorganisasi, lebih agresif, dan lebih nyaman menguasai pertandingan.

Dalam situasi seperti itu, harapan Brasil mengarah kepada Vinicius.

Namun, catatan golnya bersama timnas masih jauh dari gambaran pemain yang pernah masuk perdebatan Ballon d'Or.

Dalam 49 pertandingan bersama Brasil, Vinicius baru mencetak sembilan gol. Jumlah yang terasa tidak sebanding dengan reputasinya sebagai satu di antara pemain paling berbahaya di dunia.

Sebagai perbandingan, jumlah itu sama dengan koleksi gol mantan rekan setimnya di Real Madrid, Casemiro.

Sehari sebelum pertandingan melawan Maroko, seorang jurnalis mengingatkan Vinicius tentang status yang pernah melekat kepadanya.

"Anda pernah menjadi pemain terbaik dunia..."

Lalu muncul pertanyaan, apakah ia bisa kembali mencapai level tersebut?

"Saya hanya ingin memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin dan membuktikan kepada semua orang bahwa kami bisa menjadi juara," jawab Vinicius.

Namun, permainan Brasil di New Jersey belum mencerminkan tim calon juara dunia.


Maroko Mengguncang Brasil

Penjaga gawang Maroko, Yassine Bounou (1), meninju bola menjauh dari pemain Brasil, Gabriel Magalhaes (3), saat pemain Maroko, Ayyoub Bouaddi (6), Chadi Riad (18) dan Issa Diop, ikut bermain selama pertandingan Grup C Piala Dunia 2026 di East Rutherford, N.J., dekat New York, Minggu, 14 Juni 2026. (AP Photo/Matt Slocum)

Bek Maroko, Achraf Hakimi, pernah menggambarkan timnya sebagai "Brasil dari Afrika". Julukan itu seolah terlihat di lapangan.

Maroko bermain dengan percaya diri dan penuh kualitas. Ayyoub Bouaddi mengendalikan lini tengah dengan tenang, sementara Brahim Diaz kembali menunjukkan sentuhan kreatif yang membawanya bersinar pada Piala Afrika 2025.

Satu di antara aksinya menghasilkan umpan terobosan yang membuka jalan bagi Ismael Saibari untuk mencetak gol pembuka.

"Saya rasa kami memulai pertandingan dengan sangat buruk," kata Vinicius.

"Kami kebobolan gol pertama dan setelah itu sangat sulit untuk bangkit. Kami harus lebih mampu menguasai bola dan bergerak lebih baik. Lawan memiliki serangan balik yang sangat cepat."

"Tidak banyak yang bisa dikatakan sekarang. Kami harus berkembang," imbuhnya.


Penunjukkan Ancelotti

Pemain depan Real Madrid asal Brasil #07, Vinicius Junior (kiri), mendengarkan pelatih Real Madrid asal Italia, Carlo Ancelotti, selama pertandingan leg pertama perempat final Copa del Rey (Piala Raja) antara Club Deportivo Leganes SAD dan Real Madrid CF di Stadion Kota Butarque di Leganes, Kamis dini hari WIB (6-2-2025). (JAVIER SORIANO/AFP)

Penunjukan Carlo Ancelotti sebagai pelatih Brasil sebenarnya juga memiliki tujuan khusus: mengeluarkan kemampuan terbaik Vinicius seperti yang terjadi di Real Madrid.

Di bawah arahan Ancelotti, Vinicius berkembang dari pemain berbakat menjadi satu di antara penyerang paling menentukan di dunia.

"Ancelotti selalu membuat saya percaya diri," ujar Vinicius.

"Karena dia memberi saya kebebasan dan kepercayaan untuk melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan di Madrid saat bermain untuk timnas."

"Saya memiliki kesempatan untuk mengubah sejarah negara kami bersama para pemain lainnya," lanjut Vinicius.


Brasil Butuh Vinicius

Pemain depan Brasil, Vinicius Junior (tengah), memberi isyarat selama sesi latihan sebagai bagian dari persiapan menghadapi pertandingan sepak bola Piala Dunia 2026 melawan Maroko di Fasilitas Latihan Columbia Park, Morristown, New Jersey, pada 9 Juni 2026. (MAURO PIMENTEL/AFP)

Meski begitu, pada sebagian besar pertandingan melawan Maroko, Brasil masih terlihat sebagai tim yang sama seperti sebelumnya.

Keyakinan bahwa mereka bisa menjuarai Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 2002 langsung mendapat ujian berat.

Ancelotti menolak bereaksi berlebihan.

"Anda tidak memenangkan Piala Dunia berdasarkan pertandingan pertama," kata pelatih asal Italia tersebut.

Ancelotti tahu persis bagaimana perjalanan panjang turnamen bisa mengubah segalanya. 32 tahun lalu, ia menjadi asisten pelatih Italia saat mencapai final Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat sebelum kalah dari Brasil.

Saat itu Italia juga memulai turnamen dengan buruk. Mereka kalah dari Republik Irlandia dan sempat kehilangan satu pemain ketika menghadapi Norwegia.

Namun, Italia tetap mampu melaju hingga final berkat satu sosok: Roberto Baggio.

Kini, bertahun-tahun kemudian, Ancelotti membutuhkan pemain yang mampu memainkan peran serupa bagi Brasil.

Dan pemain itu adalah Vinicius.


Mampukah Konsisten?

Vinicius Junior (7) dari Brasil merayakan bersama rekan setimnya Bruno Guimaraes (8) setelah mencetak gol dalam pertandingan Grup C Piala Dunia 2026 melawan Maroko di East Rutherford, N.J., dekat New York, Minggu, 14 Juni 2026. (AP Photo/Matt Slocum)

Pada laga melawan Maroko, hanya Vinicius yang benar-benar memberi harapan saat Brasil kesulitan menciptakan peluang. Sundulan Igor Thiago melebar, sementara sejumlah percobaan Raphinha mampu diblok atau diamankan kiper lawan.

Vinicius kemudian mengambil tanggung jawab.

Menerima bola di belakang garis pertahanan Maroko, ia bergerak ke dalam dan melepaskan tembakan khasnya. Pergelangan kaki bergerak cepat, bola melengkung menuju sudut atas gawang, dan Yassine Bounou tidak memiliki peluang untuk menghentikannya.

Gol tersebut menyelamatkan Brasil dari kekalahan dan kembali menegaskan betapa pentingnya peran Vinicius.

Di tengah absennya Neymar, pemain yang selama bertahun-tahun menjadi wajah sepak bola Brasil, kini tanggung jawab itu berada di pundak Vinicius.

Brasil masih mencari identitas dan aura yang dulu membuat mereka ditakuti seluruh dunia.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah Vinicius memiliki kualitas untuk memimpin mereka.

Pertanyaannya adalah apakah ia mampu melakukannya secara konsisten sepanjang Piala Dunia 2026.

"Ia bermain bagus," kata Ancelotti.

"Ia sangat berbahaya dan saya pikir ia memiliki semua kemampuan untuk menjalani Piala Dunia yang hebat," tambah pelatih kawakan itu.

Brasil tentu berharap penilaian itu terbukti benar. Jika ingin meraih gelar dunia keenam, mereka membutuhkan Vinicius lebih dari sebelumnya.

 

Sumber: The Athletic

Berita Terkait