13 Negara Peserta Piala Dunia 2026 Kompak Kecam Presiden UEFA: Tak Ada Laga yang Tidak Penting!

Sebanyak 13 negara Piala Dunia 2026 membalas komentar Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, melalui pernyataan bersama.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 15 Juni 2026, 10:00 WIB
Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, berbicara dalam konferensi pers setelah Kongres Biasa UEFA ke-49 yang diselenggarakan di pusat kongres Sava Centar di Beograd pada 3 April 2025. (PREDRAG MILOSAVLJEVIC/AFP)

Bola.com, Jakarta - Sebanyak 13 negara peserta Piala Dunia 2026 mengeluarkan pernyataan bersama untuk mengecam komentar Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, yang menyebut banyak pertandingan di Piala Dunia 2026 "tidak menarik".

Pernyataan itu dirilis setelah komentar Ceferin memicu reaksi keras dari sejumlah federasi sepak bola yang merasa pernyataannya meremehkan negara-negara di luar lingkaran elite sepak bola dunia.

Advertisement

Tokoh asal Slovenia itu selama ini kerap berbeda pandangan dengan Presiden FIFA, Gianni Infantino.

Hubungan keduanya sudah lama menjadi sorotan, terlebih karena Infantino pernah menjabat posisi yang kini ditempati Ceferin di UEFA.

Belum lama ini, Ceferin sempat mendapat apresiasi setelah UEFA menunjuk wasit asal Somalia, Omar Artan, untuk memimpin Piala Super UEFA. Keputusan tersebut diambil setelah Artan gagal masuk ke Amerika Serikat saat hendak bertugas di Piala Dunia 2026.

Namun, komentar yang ia lontarkan menjelang dimulainya turnamen justru memantik kontroversi baru.


Awal Mula

Presiden FIFA, Gianni Infantino (kiri), berpose dengan Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, setelah menyampaikan pidato di Kongres Biasa UEFA ke-50 di Brussels pada 12 Februari 2026. (Pau BARRENA/AFP)

Ceferin menyampaikan pendapatnya saat menjadi pembicara dalam konferensi "More Than a Game" yang digelar di Slovenia, tiga hari sebelum Piala Dunia 2026 dimulai.

Dalam sesi diskusi yang membahas berbagai isu sepak bola, ia ditanya mengenai keputusan FIFA memperluas jumlah peserta dari 32 menjadi 48 tim.

Menanggapi hal tersebut, Ceferin mengkritik dampak dari format baru tersebut.

"Kita memiliki sangat banyak pertandingan yang sama sekali tidak menarik," kata Ceferin seperti dikutip media Slovenia, Delo Sport.

Meski begitu, ia juga mengakui bahwa format baru membuka kesempatan lebih luas bagi negara-negara yang sebelumnya sulit menembus putaran final.

"Di sisi lain, format ini memungkinkan negara-negara kecil ikut berpartisipasi dan merasakan atmosfer Piala Dunia, yang tentu merupakan hal besar," lanjutnya.

Bagian pertama dari pernyataan Ceferin kemudian mendapat perhatian luas di berbagai media internasional dan akhirnya sampai ke sejumlah federasi peserta Piala Dunia yang merasa tersinggung dengan kesan elitis dari komentar tersebut.


Pernyataan Bersama

Gelandang Senegal #26, Pape Gueye (kiri), dan rekan-rekan setimnya merayakan kemenangan mereka di akhir pertandingan final Piala Afrika (CAN) 2025 antara Senegal dan Maroko di Stadion Pangeran Moulay Abdellah di Rabat, Senin (19-1-2026) dini hari WIB. (FRANCK FIFE/AFP)

Pada Minggu (14-6-2026), federasi sepak bola Tanjung Verde, Curacao, Uzbekistan, Republik Demokratik Kongo, Haiti, Aljazair, Tunisia, Maroko, Mesir, Ghana, Senegal, Pantai Gading, dan Afrika Selatan merilis pernyataan bersama.

"Federasi Sepak Bola Tanjung Verde, Curacao, Uzbekistan, Kongo, Haiti, Aljazair, Tunisia, Maroko, Mesir, Ghana, Senegal, Pantai Gading, dan Afrika Selatan menyampaikan kekecewaan mendalam atas komentar terbaru Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, mengenai perluasan Piala Dunia FIFA dan penyebutannya terhadap banyak pertandingan sebagai laga yang 'tidak menarik'," demikian isi pernyataan tersebut.

Mereka menegaskan bahwa tidak ada pertandingan Piala Dunia yang pantas dianggap remeh.

"Bagi negara-negara kami, tidak ada pertandingan Piala Dunia yang tidak penting."

 


Tegas

Para pemain Timnas Haiti bersuka cita merayakan sukses lolos ke Piala Dunia 2026. (X/Actu Foot Stats)

Dalam pernyataan yang mereka sebut disampaikan secara tegas, tetapi tetap penuh hormat, 13 negara itu mengingatkan bahwa empat di antaranya baru menjalani debut di Piala Dunia.

Sementara Haiti dan Republik Demokratik Kongo harus menunggu lebih dari setengah abad untuk kembali tampil di panggung terbesar sepak bola dunia.

"Menilai pertandingan-pertandingan tersebut sebagai sesuatu yang kurang penting sangat mengecewakan dan menunjukkan kurangnya penghargaan terhadap kerja keras, pengorbanan, serta harapan para pemain, pelatih, klub, pemimpin sepak bola, dan pendukung di seluruh dunia," tulis mereka.


Tolak Pandangan

Para pemain Uzbekistan merayakan kemenangan setelah pertandingan Kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 melawan Uni Emirat Arab berakhir imbang, sehingga mereka lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya, di Stadion Al-Nahyan di Abu Dhabi pada tanggal 5 Juni 2025. (Fadel SENNA/AFP)

Federasi-federasi tersebut juga menolak pandangan bahwa Piala Dunia hanya milik negara-negara besar.

"Sepak bola bukan milik sekelompok negara tertentu. Kekuatan olahraga ini berasal dari sifatnya yang universal."

"Piala Dunia FIFA menjadi kompetisi sepak bola terbesar di dunia justru karena mempertemukan budaya yang berbeda, sejarah yang berbeda, dan perjalanan sepak bola yang berbeda pula."

Pernyataan bersama itu ditutup dengan kalimat yang menjadi pesan utama mereka kepada UEFA dan dunia sepak bola.

"Setiap pertandingan berarti."

 

Sumber: SI

Berita Terkait