Bola.com, Jakarta - Gelandang Timnas Spanyol, Rodri, melayangkan kritiknya terhadap pendekatan taktik Tanjung Verde setelah timnya ditahan imbang tanpa gol pada laga pembuka Grup H Piala Dunia 2026.
Dalam duel yang berlangsung di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, pada Senin (16/6/2026) itu, kedua tim memperlihatkan ketimpangan yang sangat mencolok. Sebab, Spanyol dan Tanjung Verde terpisah jarak 65 peringkat di ranking FIFA.
Namun, Tanjung Verde yang berstatus sebagai debutan di Piala Dunia 2026 justru bisa membuat La Roja tidak berkutik. Mereka menyajikan pertahanan yang luar biasa dan memaksakan lawan berbagi satu poin setelah laga berakhir dengan skor kacamata.
Suasana penuh kegembiraan terlihat di antara para pemain dan para pendukung Tanjung Verde ketika wasit Adham Makhadmeh meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan. Ini menjadi salah satu hasil terbesar dalam sejarah sepak bola mereka.
Sindiran Rodri
Kapten Timnas Spanyol, Rodri, mengakui hasil ini tidak seperti target yang telah ditetapkan sejak awal. Menurut dia, rekan-rekannya cukup kesulitan untuk mencari celah ketika Tanjung Verde bermain dengan garis pertahanan yang sangat rendah dan dalam.
"Memang tidak terjadi seperti yang kami harapkan. Tidak banyak yang bisa dikeluhkan. Kami tahu ini akan menjadi pertandingan yang membutuhkan kesabaran. Mereka bertahan sangat dalam dan turun dengan cepat ke area pertahanan mereka,” kata dia dikutip dari Metro.co.uk.
Pemain Manchester City itu mengakui Spanyol sebetulnya bisa membuat banyak peluang. Sayangnya, tidak ada satu pun yang sukses dikonversi menjadi gol. Dia berharap kualitas finishing La Roja bisa membaik di laga berikutnya.
“Kami tidak bisa memasukkan bola ke gawang. Kami menciptakan peluang, tetapi gagal menyelesaikannya. Hal positifnya mereka hampir tidak menciptakan peluang melawan kami. Kami perlu meningkatkan penyelesaian akhir."
Rodri tidak menampik soal gaya bermain Tanjung Verde yang terkesan sangat defensif dan tidak memiliki keinginan untuk memasuki area tengah lapangan. Terlepas dari itu, finishing Spanyol memang perlu dibenahi.
"Memang seperti itu cara mereka bermain. Mereka bahkan tidak melewati garis tengah lapangan. Ini soal meningkatkan penyelesaian akhir kami,” ujar pemain berusia 29 tahun itu memungkasi.
Pahlawan Tanjung Verde
Pahlawan Tanjung Verde dalam pertandingan itu adalah Vozinha. Kiper berusia 40 tahun itu menangis haru setelah laga berakhir. Dia pun menerima penghargaan Player of the Match berkat penampilannya yang luar biasa melawan juara Eropa.
"Ini pertandingan yang luar biasa. Kami bekerja sangat keras untuk momen ini dan mewujudkan mimpi ini. Kami sangat bangga. Kami tahu pertandingan ini tidak akan mudah,” kata pemain yang berkarier di Liga Portugal bersama Chaves itu.
Kiper yang baru saja menjalani penampilan internasionalnya yang ke-90 bersama Tanjung Verde itu juga mengirim pesan tegas kepada siapa pun yang meremehkan Tanjung Verde sebelum turnamen ini.
"Kami datang ke Piala Dunia untuk bersaing. Saya tahu ada orang-orang yang menganggap kami tim kecil dan lemah, tetapi kami berada di sini untuk bersaing dan memberikan segalanya,” ujar pemain kelahiran 3 Juni 1986 itu.
Sumber: Metro