Bola.com, Jakarta - Piala Dunia 2026 menjanjikan kemegahan yang belum pernah ada sebelumnya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, turnamen sepak bola terbesar di dunia itu digelar di tiga negara sekaligus, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, dengan jumlah peserta mencapai 48 tim.
Namun di balik kemegahan tersebut, ada satu hal yang menjadi pembicaraan banyak orang sejak turnamen dimulai, yakni mahalnya biaya selama Piala Dunia berlangsung.
Suporter dari berbagai negara mengeluhkan mahalnya harga tiket pertandingan. Untuk harga termurah berada di angka 60 dolar AS atau sekitar Rp1 juta, sementara tiket kategori premium bisa mencapai 7.875 dolar AS atau setara Rp139 juta.
Keluhan itu bukan hanya datang dari para suporter yang harus merogoh kocek dalam untuk membeli tiket pertandingan. Para jurnalis dari berbagai negara yang bertugas meliput langsung Piala Dunia 2026 yang berlokasi di Amerika Serikat, juga merasakan mahalnya biaya kebutuhan sehari-hari, terutama transportasi dan konsumsi.
Biaya Taksi Tembus Rp 3 Juta
Bola.com sempat merasakan langsung mahalnya biaya transportasi di Amerika Serikat. Saat berada di pusat Kota New York, Bola.com berniat menggunakan taksi menuju hotel di kawasan Wayne, New Jersey.
Jarak sekitar 30 hingga 40 kilometer itu awalnya terlihat cukup ideal untuk ditempuh menggunakan taksi, apalagi sambil membawa perlengkapan liputan. Namun, rencana tersebut langsung berubah setelah melihat tarif yang muncul di aplikasi pemesanan.
Biaya perjalanan tersebut mencapai sekitar 170 dolar AS atau setara Rp3 juta. Angka yang tentu membuat banyak orang berpikir dua kali sebelum menekan tombol pemesanan.
Tidak hanya transportasi, urusan konsumsi juga menjadi pengeluaran yang cukup besar selama bertugas di Piala Dunia 2026.
Berbeda dengan berbagai ajang olahraga di Indonesia yang umumnya menyediakan konsumsi gratis bagi media di media center, situasi berbeda ditemui di pusat media Piala Dunia 2026 yang berada di MetLife Stadium, New Jersey.
Para jurnalis tak mendapatkan konsumsi gratis dan harus membayar. Untuk satu porsi blueberry yogurt with granola, sepotong kue red velvet, dan sebotol air mineral, Bola.com harus membayar 13,75 dolar AS atau sekitar Rp240 ribu.
Keluhan Jurnalis dari Berbagai Negara
Ternyata pengalaman tersebut tidak hanya dirasakan oleh Bola.com. Luisa Oliveira, jurnalis Brasil yang bekerja untuk UOL Esporte, mengaku biaya meliput Piala Dunia 2026 jauh lebih mahal dibandingkan edisi sebelumnya.
"Ya, ini adalah Piala Dunia yang sangat mahal. Seperti yang kita tahu, turnamen ini berlangsung di tiga negara sekaligus, yaitu Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat," ujar Oliveira saat Bola.com temui di media center MetLife Stadium.
Menurutnya, tantangan terbesar terletak pada faktor logistik. Jarak antarkota yang sangat jauh membuat biaya perjalanan terus membengkak.
"Dari sisi logistik, situasinya cukup rumit. Kami harus melakukan banyak perjalanan dan jarak antarkota juga sangat jauh. Tentu ada biaya tambahan yang muncul karena kondisi tersebut," lanjutnya.
Oliveira juga membandingkan situasi saat ini dengan Piala Dunia 2022 di Qatar yang seluruh pertandingan berlangsung di area yang relatif berdekatan.
"Biaya meliput Piala Dunia kali ini sangat mahal, terutama jika dibandingkan dengan Piala Dunia di Qatar yang seluruh penyelenggaraannya berpusat di Doha," katanya.
Keluhan serupa datang dari jurnalis Nigeria, Calister Enejele. Menurutnya, biaya yang harus dikeluarkan jurnalis jauh lebih besar dibandingkan suporter biasa karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan mereka berpindah-pindah lokasi.
"Sebagai jurnalis, Anda harus meliput sesi latihan, konferensi pers, dan berpindah-pindah untuk menghadiri berbagai pertandingan," ujar Enejele.
Ia juga menyoroti mahalnya biaya penerbangan dan bagasi untuk membawa perlengkapan kerja. "Belum lagi biaya bagasi. Hanya untuk check-in perlengkapan kerja seperti kamera dan peralatan liputan saja sudah sangat mahal," ungkapnya.
Budaya Tip Ikut Menambah Pengeluaran
Sementara itu, jurnalis The Guardian asal Prancis, Raphael Jucobin, menilai biaya hidup di Amerika Utara jauh lebih tinggi dibandingkan yang biasa ia temui di Eropa.
"Biaya akomodasi, makanan, transportasi, dan hampir semua kebutuhan lainnya lebih mahal di Amerika Utara," kata Jucobin.
Ia juga menyoroti budaya memberikan tip yang menjadi hal lumrah di Amerika Serikat. "Ya, termasuk budaya memberi tip. Hal seperti itu sebenarnya tidak terlalu umum di Eropa. Itu memang bagian dari budaya di Amerika," ujarnya.
Piala Dunia 2026 memang menghadirkan pengalaman luar biasa bagi para pencinta sepak bola. Namun, di balik gemerlap stadion megah dan atmosfer pertandingan kelas dunia, ada satu fakta yang sulit dibantah.
Untuk bisa menikmati atau bahkan meliput langsung turnamen ini, siapa pun harus siap mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.