Kekerasan Kartel Masih Hantui Meksiko, Perayaan Piala Dunia 2026 Makin Meredup di Berbagai Kota

Tidak semua masyarakat di Meksiko. Ada warga di sana yang mencoba menikmati kesemarakan Piala Dunia 2026 di negara mereka di tengah ketakutan akan kartel.

BolaCom | Radifa ArsaDiterbitkan 28 Juni 2026, 13:30 WIB
Penggemar sepak bola Meksiko menonton pertandingan Piala Dunia antara Meksiko dan Korea Selatan di lingkungan Tepito, Mexico City, Jumat, 19 Juni 2026. (AP Photo/Megan Janetsky)

Bola.com, Jakarta - Gegap gempita penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Meksiko ternyata tak bisa dinikmati secara penuh oleh masyarakatnya. Di beberapa daerah, ketegangan yang disebabkan oleh kekerasan kartel membuat ajang ini dirasakan dengan penuh ketakutan.

Sebagian besar masyarakat Meksiko merayakan Piala Dunia 2026 dengan berkumpul penuh sukacita. Mereka memadati jalan-jalan, alun-alun, hingga zona penggemar di tiga kota yang menjadi tuan rumah, yakni Meksiko City, Guadalajara, dan Monterrey.

Advertisement

Namun, di desa-desa dan kota-kota di seluruh Meksiko sedang mengalami situasi yang menyeramkan. Penembakan terjadi hampir setiap hari. Sebagian orang memilih mengurung diri di dalam ruangan demi faktor keselamatan.

Di situasi ini, kekhawatiran telah mengalahkan kegembiraan yang seharusnya dirayakan sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026. Apalagi, Timnas Meksiko sukses tampil sempurna sebagai juara Grup A dan berhasil lolos ke babak 32 besar.

Menurut laporan Associated Press, seorang petani jeruk nipis dari wilayah Michoacan yang enggan disebut namanya, merasakan ketakutan karena merebaknya kelompok kriminal yang saling bertempur.

Dia menyebut, kartel lokal meluncurkan bahan peledak dari pesawat tanpa awak di sebuah peternakan terdekat.

"Saya sangat suka sepak bola, tapi kami gugup. Tahun-tahun sebelumnya, orang-orang akan berkumpul untuk menonton pertandingan dan memasang taruhan. Sekarang tidak lagi. Tidak ada pesta di sini, yang ada hanya kelelahan," katanya, dikutip dari AP.

 


Ganggu Perekonomian Lokal

Kerabat korban serangan bersenjata yang menewaskan seorang korban menyaksikan petugas forensik menyelidiki tempat kejadian perkara, di Culiacán, negara bagian Sinaloa, Meksiko, 26 April 2026. (AP Photo/Marco Ugarte, File)

Menuju ke arah utara terdapat Culiacan, ibu kota Sinaloa, tempat faksi-faksi yang saling bersaing dari Kartel Sinaloa telah memicu kekerasan selama hampir dua tahun.

Kota ini terletak sekitar 1.040 kilometer dari Meksiko City. Namun, rasanya seperti berada di dunia yang berbeda.

Alih-alih turun ke jalan, banyak penduduk mencari tempat-tempat yang sepi, berkumpul di rumah teman, atau pergi ke salah satu dari sedikit pub yang menayangkan pertandingan untuk sejenak melupakan bahwa hidup mereka dibayangi oleh kekerasan.

Seorang koki dan pemilik restoran di kota berpenduduk 1 juta jiwa tersebut, Jose Miguel Taniyama, berharap Piala Dunia dapat membantu memulihkan penjualan setelah krisis ekonomi selama dua tahun akibat pertempuran.

Menurut data resmi, konflik tersebut telah menutup berbagai bisnis dan menyebabkan hilangnya hampir 60,000 pekerjaan di Sinaloa.

Pada laga pembuka Piala Dunia 2026 saat Meksiko menang atas Afrika Selatan, hanya dua meja yang terisi saat pertandingan dimulai. Situasinya membaik beberapa hari kemudian, tetapi tidak seperti yang ia harapkan.

"Bisnis berjalan lambat. Kami memiliki beberapa reservasi, tetapi tidak sampai kapasitas penuh dan penjualan tidak sekuat saat acara serupa di masa lalu. Orang-orang langsung lari pulang karena kekerasan tersebut," ujar Taniyama.

 


Pasrah dengan Kekerasan

Polisi memblokir jalan untuk mencegah para guru yang melakukan protes berbaris ke stadion yang akan menjadi tuan rumah pertandingan pembukaan Piala Dunia di Mexico City, Selasa, 9 Juni 2026. (AP Photo/Eduardo Verdugo)

Di kota-kota di seluruh Tamaulipas, tempat sel-sel Kartel Teluk (Gulf Cartel), faksi-faksi Los Zetas, dan Kartel Generasi Baru Jalisco (Jalisco New Generation Cartel) beroperasi, banyak orang tampak pasrah hidup di tengah kekerasan.

Seorang warga bernama Miguel Aleman, sebuah kota kecil di Tamaulipas yang berada tepat di perbatasan dengan Texas, mengatakan situasi kini memang membaik karena penembakan tidak lagi berlangsung berjam-jam, melainkan hanya sebentar.

Wanita tersebut, yang meminta identitasnya disembunyikan karena masalah keamanan, mengatakan tetangga kini bisa duduk di depan pintu dan mengobrol, sesuatu yang mustahil dilakukan beberapa bulan lalu. Karena, kelompok kriminal akan menculik siapa saja yang mereka lihat di jalanan.

Seorang pekerja di sebuah pabrik di Matamoros, menyebut bahwa kenyataan tidak mengalami perubahan. Dia yang tinggal bersebelahan dengan Texas tetap merasakan kejahatan yang terus berulang di siang hari.

"Orang-orang yang terlibat dalam kejahatan terorganisasi ikut duduk untuk menonton sepak bola agar situasi sedikit tenang. Ketakutan itu selalu ada karena kami hidup di masyarakat perbatasan tempat kejahatan terus terjadi di siang bolong," ujarnya.

 


Mencari Secercah Kebahagiaan

Seorang anggota Garda Nasional berjalan di instalasi ìFIFA Fan Fest Guadalajaraî di Plaza Liberacion dan Plaza de Armas di pusat kota Guadalajara, Negara Bagian Jalisco, Meksiko, Selasa 9 Juni 2026, menjelang pembukaan turnamen sepak bola Piala Dunia 2026. (Ulises RUIZ/AFP)

Seribu kilometer ke arah barat daya, di Uruapan, ratusan anak muda mengesampingkan ketakutan mereka setelah kemenangan Meksiko atas Korea Selatan.

Mereka bergabung dalam perayaan di bawah pengawasan ketat pasukan keamanan. Padahal, delapan bulan lalu, walikota mereka nyaris dibunuh oleh kartel.

"Saya pikir itu berbahaya karena semua yang sedang terjadi, tetapi melihat beberapa orang keluar rumah memberi saya kepercayaan diri," kata María Luisa García, seorang pemuda berusia 19 tahun.

"Anak-anak muda terus menjerumuskan diri ke dalam situasi berisiko. Mereka tahu bahwa pada akhirnya salah satu dari mereka akan mendapat masalah, dan mungkin akan mati, tetapi mereka suka berpesta. Setiap hari rasanya sama saja: hari ini kebetulan bukan giliran saya, besok, siapa yang tahu?" kata Juan Carlos Mora, seorang petani beri di Uruapan.

 

Sumber: Associated Press