Bola.com, Jakarta - Tak mudah menjadi pemain Timnas Inggris. Tekanan besar dan sorotan terus mengiringi. Para pemain juga harus memikul ekspektasi besar dari suporter hingga media lokal.
Tak banyak yang memahami tekanan tersebut lebih baik daripada Gary Neville. Legenda Manchester United itu menjadi bek kanan Inggris dalam salah satu periode tersulit mereka dan dikenang sebagai salah satu pemain terbaik dalam sejarah Premier League.
Namun, bukan performanya di lapangan yang membuat Neville menjadi sorotan pada 2003. Ia justru terseret dalam kontroversi yang, menurut pengakuannya, membuat dirinya merasa sebagai pesepak bola yang paling dibenci di Inggris.
Kontroversi tersebut bermula ketika Rio Ferdinand dicoret dari skuad Inggris setelah absen menjalani tes doping yang telah dijadwalkan.
Neville menilai keputusan tersebut tidak adil. Bersama beberapa pemain senior lainnya, ia bahkan mengancam akan memboikot laga kualifikasi Euro 2004 melawan Turki sebagai bentuk protes terhadap keputusan Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA).
Situasi itu berkembang sangat cepat dan membuat Neville berada dalam tekanan luar biasa.
"Saya akan selalu menjadi orang yang disalahkan karena timnas Inggris mengancam mogok sebelum laga kualifikasi Euro 2004 melawan Turki," kenang Neville kepada Daily Mail, seperti dikutip Give Me Sport, Minggu (28/6/2026).
"Saat itu saya berusia 28 tahun dan saya merasa mungkin tidak akan pernah bermain lagi untuk Inggris. Saya akan dihancurkan oleh media dan para suporter. Saya akan menjadi pesepak bola yang paling dibenci di negara ini, kalau memang belum menjadi yang paling dibenci."
Siap Mundur
Neville mengaku kabar pencoretan Ferdinand diterimanya saat hendak terbang ke London untuk bergabung dengan skuad Inggris.
"Ayah saya baru saja menjemput saya dan saudara saya menuju Bandara Manchester ketika telepon masuk. Saya diberi tahu Rio dicoret karena melewatkan tes doping. Awalnya saya benar-benar mengira itu hanya lelucon," ujar Neville.
Saat itu Neville sedang berada di puncak kariernya. Ia telah tampil di Euro 1996, Euro 2000, serta Piala Dunia FIFA 1998. Ia hanya absen pada Piala Dunia 2002 karena cedera.
Di level klub, Neville juga sedang menikmati masa kejayaan bersama MU dan bersiap meraih gelar Liga Inggris keenamnya dalam kurun delapan musim.
Meski begitu, derasnya kritik dari media membuatnya benar-benar mempertimbangkan untuk mengakhiri karier internasional.
"Keesokan paginya, kabar soal keputusan kami sudah bocor. Kami dicap sebagai aib. Tidak ada media yang mau membela sekelompok pesepak bola kaya yang mengancam mogok," tutur Neville.
"Jika FA tidak mengubah keputusannya, saya benar-benar siap mundur, meski tahu konsekuensinya sangat besar."
"Tekanannya luar biasa. Semakin saya memikirkannya, semakin saya yakin hanya ada satu jalan, yaitu pergi," imbuhnya.
Nasihat Ferguson
Di tengah situasi sulit tersebut, satu sosok akhirnya mengubah keputusan Neville. Ia adalah mantan manajer Manchester United, Alex Ferguson.
Hubungan erat antara keduanya membuat Ferguson merasa perlu turun tangan agar anak asuhnya tidak mengambil keputusan yang akan disesali.
"Kamu sudah berlatih terlalu keras, bermain terlalu keras. Jangan buang semua itu. Kamu sudah menyampaikan pendapatmu dan membawanya sejauh mungkin. Sekarang pergilah bermain," kata Ferguson kala itu.
"Kamu hanya perlu tenang. Kariermu bersama Inggris bisa berakhir hanya karena satu keputusan. Apa dampaknya bagi dirimu sebagai pemain dan sebagai pribadi? Bagaimana dampaknya untuk Manchester United? Saya tidak bisa membiarkanmu melakukan itu."
Nasihat Ferguson akhirnya menyadarkan Neville. Setelah polemik Rio Ferdinand mereda, ia tetap memperkuat Timnas Inggris hingga akhir karier internasionalnya, meski perjalanan bersama The Three Lions tidak pernah benar-benar mencapai puncak yang diharapkan banyak orang.
Sumber: Give Me Sport