Kanada Tersingkir di 16 Besar Piala Dunia 2026, Jesse Marsch Tetap Bangga dengan Perjuangan Jonathan David Cs

Meski Kanada tampil impresif dengan melancarkan sejumlah peluang berbahaya, Maroko bermain lebih efektif dalam menyelesaikan peluang. Empat tembakan ke arah gawang, tiga di antaranya bisa menjadi gol oleh Maroko.

BolaCom | Vincentius AtmajaDiterbitkan 05 Juli 2026, 16:30 WIB
Jesse Marsch (kanan) ketika mendampingi Timnas Kanada melawan Timnas Bosnia dan Herzegovina di matchday 1 Grup B Piala Dunia 2026 di Toronto Stadium, Toronto, Kanada, Sabtu (13/6/2026) dini hari WIB. (AP Photo/Stephanie Scarbrough).

Bola.com, Jakarta - Perjalanan Timnas Kanada dalam persaingan Piala Dunia 2026 harus terhenti di babak 16 besar. Tim berjulukan Les Rouges menyerah tiga gol tanpa balas dari Maroko dalam pertandingan di Houston Stadium, Minggu (5/7/2026) dini hari WIB.

Meski Kanada tampil impresif dengan melancarkan sejumlah peluang berbahaya, Maroko bermain lebih efektif dalam menyelesaikan peluang. Empat tembakan ke arah gawang, tiga di antaranya bisa menjadi gol oleh Maroko.

Advertisement

Azzedine Ounah menjadi bintang kemenangan Maroko di laga ini, dengan membukukan dua gol di pertandingan ini, masing-masing pada menit ke-50 dan 82'. Satu gol lain dicetak oleh Soufiane Rahimi pada pengujung pertandingan.

Bagi Kanada, dengan mampu melaju ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 merupakan pencapaian terbaik mereka sepanjang sejarah keikutsertaan di Piala Dunia.

Sebagai salah satu tuan rumah, Kanada menampilkan performa terbaik setelah sebelumnya tersingkir di fase grup pada partisipasi mereka di tahun 1986 dan 2022.

 
 

Penampilan Terbaik

Pemain Maroko Redouane Halhal berebut bola sundulan dengan pemain Kanada Luc de Fougerolles selama pertandingan sepak bola babak 16 besar Piala Dunia antara Kanada dan Maroko di Houston, Sabtu, (04/07/2026). (AP Photo/Ashley Landis)

Meski harus mengakui keunggulan dan kehebatan Maroko, pelatih Kanada, Jesse Marsch, menegaskan bahwa tim bermain lebih baik ketimbang lawan.

Meski sayangnya, hasil positif tidak berpihak kepada timnya, dan justru Maroko lebih mampu dalam menyelesaikan peluang.

Kanada mendominasi babak pertama, dengan peluang yang didapat Jonathan David dan Tani Oluwaseyi, sebelum Ounahi membawa Maroko unggul pada menit ke-50.

"Sungguh sebuah kehormatan bagi para penggemar kami bisa mendukung tim seperti ini. Tim ini berani mengambil inisiatif permainan, yang tidak bermain bertahan, yang menunjukkan bahwa mereka mampu tampil lebih baik," ungkap Jesse Marsch dikutip ESPN.

"Tentu saja kami harus lebih sering berada dalam situasi seperti ini, lalu kami harus menemukan cara meraih kesuksesan dan membangun tim dari pengalaman itu. Saya lebih memilih berada di posisi kami daripada posisi mereka. Sehebat apa pun Maroko, saya tetap lebih memilih posisi kami."

"Saya sangat bangga dengan anak-anak asuh saya; kami bermain dengan semangat menyerang. Mereka memang sedang terpukul saat ini, tetapi sungguh, saat ini saya merasa sangat bangga," tegas pelatih berusia 52 tahun.


Kurang Beruntung

Pemain Maroko Azzedine Ounahi mencetak gol kedua timnya a selama pertandingan sepak bola babak 16 besar Piala Dunia antara Kanada dan Maroko di Houston, (AP Photo/Ashley Landis)

Terlepas dari kebobolan tiga gol di babak kedua, permainan Kanada memang lebih agresif sejak peluit sepak mula dibunyikan. Cyle Larin, Jonathan David, hingga Tani Oluwaseyi mengempur dan memberi ancaman ke pertahanan Maroko.

Namun lini belakang tim Singa Atlas (julukan Maroko) sangat solid, terutama performa gemilang dari Yassine Bounou di bawah mistar gawang. Maroko lebih efektif dalam melancarkan serangan balik serta memanfaatkan bola mati, hingga mampu mencetak tiga gol.

Bagi Jesse Marsch, Dewi Fortuna tidak berpihak pada timnya dengan melihat permainan dan hasil akhir pertandingan kontra Maroko.

"Kami menampilkan 11 performa luar biasa di babak pertama. Kami kurang beruntung karena tidak bisa unggul lebih dulu dan pada akhirnya, semuanya bergantung pada detail-detail kecil," ujar Jesse Marsch.

"Maroko memiliki kualitas, dengan pemain-pemain yang bermain di level tinggi. Namun, dari segi cara kami bermain, sungguh penampilan yang luar biasa," lanjutnya.


Maroko Tertekan

Pemain Maroko Soufiane Rahimi mencetak gol ketiga selama pertandingan babak 16 besar Piala Dunia FIFA 2026 antara Kanada dan Maroko di Stadion Houston pada 4 Juli 2026 di Houston, Texas, Sabtu (04/07/2026). (AFP/ Getty Images/ Las Barons)

Kanada tampak ingin mengejar gol cepat, dengan penampilan agresif sejak awal permainan. Bahkan ada situasi yang bisa menguntungkan Kanada, dengan cederanya striker andalan Maroko, Ismael Saibari dan harus ditarik keluar.

"Di kesempatan lain, mungkin kami bisa unggul dan mungkin kami bisa menang," ujarnya.

"Namun, melihat cara kami menekan, cara kami menjalani pertandingan, kualitas yang kami tunjukkan, serta dampak keseluruhan kami dalam laga ini. Hari ini, kami lebih baik daripada tim peringkat ketujuh dunia," tandas Marsch.

Sementara itu, pelatih Maroko, Mohamed Ouahbi, mempertanyakan klaim Marsch yang menyebut Kanada sebagai tim yang lebih baik.

"Dari segi intensitas, Kanada tampil bagus. Tapi apakah mereka lebih baik? Sulit untuk mengatakannya. Butuh keberanian untuk menyatakan hal itu saat Anda kalah 3-0. Kami bermain lebih baik daripada mereka di babak kedua," tutur Ouahbi.

Selanjutnya, Maroko akan bertemu Prancis di babak perempat final Piala Dunia 2026 di Boston Stadium, Jumat (10/7/2026) dini hari WIB.

Sumber: ESPN

Berita Terkait