Era Emas Timnas Prancis Bersama Didier Deschamps Berakhir Tragis, tapi Warisannya Tetap Utuh dalam Catatan Sejarah

Era Timnas Prancis bersama Didier Deschamps segera berakhir, tetapi warisannya akan utuh melintas sejarah.

BolaCom | Radifa ArsaDiterbitkan 15 Juli 2026, 17:30 WIB
Pelatih kepala Prancis, Didier Deschamps, meninggalkan lapangan setelah kalah dalam pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Spanyol di Stadion Dallas di Arlington pada 15 Juli 2026. (FRANCK FIFE/AFP)

Bola.com, Jakarta - Kekalahan menyakitkan yang dialami Timnas Prancis dari Spanyol pada semifinal Piala Dunia 2026 menandai sebuah akhir dari era emas tim berjuluk Les Bleus ini di bawah asuhan, Didier Deschamps.

Namun, kegagalan ini tetap tidak akan menodai warisan sejarah yang belum pernah dicapai Prancis sebelumnya.

Advertisement

Dalam duel yang berlangsung di Stadion Dallas, Rabu (15-7-2026) dini hari WIB, langkah Prancis akhirnya harus kandas di hadapan Spanyol. Mereka tak berkutik seusai digebuk dua gol tanpa balas melalui gol Mikel Oyarzabal (22') dan Pedro Porro (58').

Hasil ini memang cukup menyakitkan bagi Les Bleus. Sebab, mereka harus menanggung tiga kekalahan dari Spanyol di babak semifinal secara beruntun. Sebelumnya, hasil negatif ini terjadi pada Euro 2024 dan UEFA Nations League 2025.

Meski begitu, pencapaian Les Bleus di bawah asuhan Didier Deschamps akan terus diingat dalam sejarah. Sebab, sebagai pelatih, dia mengantarkan Prancis menjuarai Piala Dunia 2018, dua dekade setelah menjuarai ajang yang sama saat masih menjadi kapten Les Bleus pada 1998.


Warisan Deschamps

Pelatih kepala Timnas Prancis, Didier Deschamps, tiba menjelang pertandingan Grup I Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Irak di Stadion Philadelphia di Philadelphia pada 23 Juni 2026. (Mauro PIMENTEL / AFP)

Dengan rekor 20 kemenangan di ajang Piala Dunia sebagai pelatih, Deschamps membawa Prancis ke semifinal dalam tiga turnamen berturut-turut, sekaligus mencapai final sebanyak dua kali.

"Pencapaian semacam ini sebetulnya sudah mengukuhkan Kylian Mbappe dkk. sebagai kekuatan paling konsisten dalam turnamen besar sepak bola internasional dalam satu dekade terakhir," tulis Reuters.

Pertandingan perebutan tempat ketiga pada Minggu (19-7-2026) dini hari WIB akan menjadi perpisahan yang antiklimaks bagi pelatih berusia 57 tahun tersebut. Tahun lalu, ia telah mengumumkan akan hengkang saat kontraknya habis setelah Piala Dunia 2026 selesai.

"Penerusnya, yakni mantan rekan setimnya di Prancis, Zinedine Zidane, sudah lama menjadi kandidat favorit. Zidane akan mewarisi skuad yang berbakat tapi menghadapi tantangan yang sudah tidak asing lagi," bunyi ulasan tersebut.

"Dia harus mengubah apa yang mungkin menjadi tumpukan talenta terdalam dalam sejarah negara tersebut untuk menjadi tim yang bisa memenangi banyak kejuaraan dalam beberapa tahun mendatang," lanjut Reuters.


Prestasi Membanggakan

Pelatih Prancis, Didier Deschamps (kedua kanan) mencium trofi Piala Dunia 2018 setelah menjuarai laga final melawan Kroasia pada partai final di Luzhniki Stadium, Moscow, Rusia, 15 Juli 2018. (AFP/Kirill Kudryavtsev)

Deschamps terkadang dikritik karena lebih mengutamakan keseimbangan, disiplin, dan efisiensi, alih-alih pertunjukan yang menghibur, bahkan ketika diberkati dengan sederet amunisi lini serang paling berbakat di dunia sepak bola.

Ia membawa Prancis ke perempat final Piala Dunia 2014, meski kalah tipis dari sang juara bertahan, Jerman. Setelah itu, juru taktik kelahiran 15 Oktober 1968 ini memandu anak asuhnya ke final Euro 2016.

"Sayangnya, kekalahan dari Portugal di babak perpanjangan waktu harus berujung luka yang mendalam. Akan tetapi, hal itu meletakkan dasar bagi mereka untuk menjadi juara dunia di Rusia dua tahun kemudian," tulis Reuters.

Saat itu, Prancis mengalahkan Kroasia 4-2 di final 2018, menjadikan Deschamps orang ketiga setelah Mario Zagallo (Brasil) dan Franz Beckenbauer (Jerman) yang memenangkan Piala Dunia baik sebagai pemain maupun pelatih.

Prancis menambahkan gelar UEFA Nations League 2021 dan hampir mempertahankan Piala Dunia 2022 lewat adu penalti. Namun, setelah laga berakhir imbang 3-3, mereka akhirnya harus puas jadi runner-up seusai kalah adu penalti.


Kunci Kesuksesan Deschamps

Pelatih Prancis, Didier Deschamps melakukan selebrasi setelah menjuarai Piala Dunia 2018 setelah mengalah Kroasia pada partai final di Luzhniki Stadium, Moscow, Rusia, 15 Juli 2018. (AFP/Ronny Hartmann)

Selama ini, Deschamps tak begitu sering menjawab kritikan yang dialamatkan kepadanya. Beberapa pihak menilai bahwa talenta Prancis yang menumpuk menuntut sang pelatih untuk menghadirkan sesuatu yang menggebrak.

"Namun, tanggapannya umumnya selalu sama. Turnamen dimenangkan melalui kemampuan beradaptasi, ketangguhan pertahanan, dan penerimaan gaya permainan kurang penting dibandingkan dengan bertahan hidup," tulis Reuters.

"Selama lebih dari satu dekade, argumen tersebut sulit untuk dibantah. Meski begitu, kekalahan dari Spanyol ini tetap akan terasa menyengat. Prancis tiba sebagai tim favorit setelah daya gedor serangan mereka membawa mereka melewati turnamen," lanjutnya.

Deschamps mengakui bahwa timnya harus berada dalam kondisi maksimal untuk bersaing dan mereka tampil jauh dari harapan. Prancis tidak mampu memaksakan kekuatan mereka, lini serang mereka yang terkenal berhasil diredam.

Dan, lini tengah mereka kewalahan. Ini terasa seperti sebuah babak akhir yang suram bagi seorang pelatih yang timnya biasanya selalu menemukan jalan untuk menang, bahkan saat bermain buruk sekalipun.

"Saya tidak ingin membuang semua yang telah kami lakukan. Tetapi, dalam pertandingan ini, Spanyol menunjukkan bahwa mereka memiliki sesuatu yang lebih," kata Deschamps setelah kekalahan tersebut.

 

Sumber: Reuters

Berita Terkait