Mengenang El Robo, Skandal Perampokan Piala Dunia 1966 yang Membakar Rivalitas Sengit Inggris Vs Argentina

Bagaimana rivalitas terberat Inggris versus Argentina bermula dari klaim ‘perampokan’ Argentina di Piala Dunia 1966.

Bola.com, Jakarta - Duel Timnas Inggris menghadapi Argentina pada partai semifinal Piala Dunia 2026 bakal menghadirkan rivalitas yang sangat sengit.

Persaingan panas ini bersumber pada insiden yang terjadi enam dekade lalu, tepatnya Piala Dunia edisi 1966.

Menurut jadwal, pertemuan Inggris versus Argentina dalam perebutan tiket menuju final Piala Dunia 2026 ini bakal tersaji dalam duel di Atlanta Stadium, Atlanta, Kamis (16-7-2026) pukul 02.00 WIB.

Setiap kali kedua tim ini berhadapan, pertandingannya tidak pernah hanya sekadar tentang sepak bola. Sebab, rivalitas ini mengakar sangat dalam dan turut dibentuk oleh momen-momen yang melintasi batas lapangan hijau.

Perang yang meletus di Falklands, gol ‘Tangan Tuhan’ Diego Maradona yang terkenal pada 1986, serta kartu merah David Beckhamtahun 1998, semuanya telah menambah lapisan ketegangan di antara kedua negara ini.

Namun, bagaimana semua ini bermula?

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Awal Mula Perselisihan

Saat berjumpa pada fase penyisihan Piala Dunia 1962, Inggris dengan nyaman mengalahkan Argentina 3-1. Akan tetapi, rivalitas ini sebetulnya baru benar-benar meledak empat tahun kemudian di tanah Inggris.

Bahkan hingga hari ini setelah lebih dari 60 tahun insiden itu berlalu, ada banyak orang di Argentina menyebut pertandingan perempat final Piala Dunia 1966 sebagai El Robo atau "perampokan".

"Di tengah pusaran kontroversi tersebut ada nama Antonio Rattin, kapten legendaris Boca Juniors, yang telah meninggal dunia dalam usia 89 tahun. Rattin diusir keluar lapangan oleh wasit asal Jerman Barat, Rudolf Kreitlein, karena dituduh melakukan pelecehan verbal terhadapnya," tulis ulasan Gulf News.

'Bagian yang aneh adalah, Kreitlein tidak bisa berbahasa Spanyol, sementara Rattin tidak mengerti bahasa Jerman maupun Inggris.

Pada masa itu belum ada kartu kuning atau merah dalam sepak bola. Wasit pun hanya memberikan peringatan dan pengusiran pemain melalui keputusan verbal," lanjut ulasan tersebut.

Sampai Dibantu Penerjemah

Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang dikatakan Rattin, atau apakah dia memang mengatakan sesuatu. Kreitlein di kemudian hari mengklaim bahwa perilaku dan raut wajah kapten Argentina itulah yang membuatnya memutuskan untuk mengusirnya.

"Rattin dibuat benar-benar bingung. Dia berulang kali meminta penerjemah dan menolak untuk meninggalkan lapangan karena merasa sangat yakin bahwa dirinya tidak melakukan apa pun yang pantas berujung pengusiran," tulis ulasan itu.

"Dia akhirnya berjalan keluar setelah penundaan yang cukup lama. Lalu, ia duduk dengan nada menantang di atas karpet merah di depan Royal Box, di mana ia dilempari bir dan cokelat batang oleh sebagian penonton," lanjutnya.

Aksi-aksi luar biasa tersebut menyingkap masalah komunikasi dalam sepak bola dan secara langsung menginspirasi mantan wasit, Ken Aston, untuk menciptakan sistem kartu kuning dan merah, yang kemudian diperkenalkan oleh FIFA pada Piala Dunia 1970.

Inggris Raih Juara

Timnas Inggris akhirnya memenangkan pertandingan tersebut dengan skor 1-0 sebelum akhirnya mengangkat satu-satunya trofi Piala Dunia yang pernah diperoleh tim berjuluk The Three Lions ini.

Sementara Argentina pulang dengan keyakinan bahwa mereka telah dirampok. 

60 tahun kemudian, pertandingan yang penuh kontroversi di Wembley tersebut tetap menjadi momen yang benar-benar memulai satu di antara rivalitas paling sengit dalam sepak bola, meski itu adalah babak sejarah yang tidak terlalu sering dibicarakan orang.

 

Sumber: Gulf News

Video Populer

Foto Populer