Bola.com, Jakarta - FIFA mencatat rekor pendapatan lebih dari 15 miliar dolar AS (sekitar Rp268,3 triliun) dari penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Utara.
Angka tersebut melampaui proyeksi awal sebesar 11 miliar dolar AS dan menjadikan edisi kali ini sebagai turnamen olahraga paling menguntungkan dalam sejarah.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, mengumumkan pencapaian tersebut dalam pertemuan anggota FIFA di Waldorf Astoria, Manhattan, Sabtu (18-7-2026), sehari menjelang partai final Piala Dunia 2026.
Menurut sejumlah sumber, total pemasukan FIFA bahkan masih berpotensi bertambah.
Kenaikan pendapatan terutama berasal dari penjualan tiket dan paket hospitality, termasuk transaksi di pasar tiket sekunder yang memberikan FIFA komisi sebesar 30 persen dari nilai transaksi pembeli dan penjual.
Penyumbang Terbesar
Sebelumnya, FIFA memperkirakan pendapatan dari sektor tiket dan hospitality mencapai sekitar 3 miliar dolar AS. Namun, angka tersebut kini meningkat seiring tingginya minat penonton sepanjang turnamen.
Piala Dunia 2026 juga menjadi ajang olahraga dengan harga tiket termahal sepanjang sejarah. Harga tiket dijual mulai 60 dolar AS untuk kategori terbatas di fase grup hingga mencapai 32.970 dolar AS untuk kategori tertinggi pada laga final.
FIFA turut menerapkan sistem dynamic pricing serta menghadirkan kategori Front Category 1, yakni kursi di baris terdepan dengan harga premium.
Kendati mendongkrak pendapatan, kebijakan penjualan tiket tersebut menuai sorotan. Jaksa Agung dari New Jersey, New York, California, dan Texas kini sedang menyelidiki praktik penjualan tiket FIFA.
Dana Pengembangan dan Rencana Ekspansi
Di bawah kepemimpinan Gianni Infantino, FIFA telah menyalurkan lebih dari 5 miliar dolar AS sebagai dana pengembangan kepada asosiasi anggota.
Pendapatan besar dari Piala Dunia 2026 juga dipastikan akan kembali dialokasikan untuk program pengembangan sepak bola di berbagai negara.
Di sisi lain, keberhasilan secara finansial diyakini makin memperbesar peluang Amerika Serikat menjadi tuan rumah turnamen-turnamen FIFA berikutnya.
Laporan menyebut Piala Dunia Antarklub 2029 berpotensi kembali digelar di negara tersebut, sementara Amerika Serikat juga disebut menjadi kandidat kuat tuan rumah Piala Dunia 2038.
FIFA sebelumnya mengklaim memperoleh pendapatan sekitar 2 miliar dolar AS dari penyelenggaraan perdana Piala Dunia Antarklub dengan format 32 tim pada 2025. Turnamen itu juga dikabarkan akan diperluas menjadi 48 peserta.
Selain itu, sejumlah sumber menyebut FIFA mulai membahas kemungkinan penyelenggaraan Piala Dunia dengan 64 peserta pada 2030.
Infantino juga dilaporkan telah membuka pembicaraan mengenai perubahan statuta FIFA yang dapat memperpanjang masa jabatannya setelah 2031 apabila kembali terpilih sebagai presiden.
Kontroversi Selama Turnamen
Di tengah keberhasilan finansial tersebut, FIFA tetap menghadapi sejumlah kontroversi sepanjang Piala Dunia 2026.
Satu di antaranya terjadi ketika Infantino menghadiri acara bersama Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di Trump Tower. Acara tersebut menuai kritik dari sejumlah pejabat sepak bola.
Bahkan, seorang pejabat senior mengaku enggan menghadiri acara tersebut karena tidak ingin bertemu Trump.
FIFA juga menuai sorotan setelah meninjau kembali hukuman larangan bermain satu pertandingan terhadap penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, menyusul permintaan dari Trump. Keputusan tersebut memicu kritik karena dinilai dapat memengaruhi integritas kompetisi.
Selain itu, penyelenggaraan Piala Dunia 2026 diwarnai kritik terkait proses undian yang dianggap menguntungkan tuan rumah serta sejumlah keputusan wasit yang memunculkan perdebatan di kalangan pengamat sepak bola.
Sumber: Inside World Football
Penulis: Fauzi Ananta Dharmawan