Usai Dihantam Sanksi FIFA, Malaysia Bersiap Memilih Presiden Baru FAM

Persaingan menuju kursi presiden FAM berpotensi mengerucut menjadi duel Ab Ghani Hassan dan Shahril Mokhtar setelah Hamidin Amin mempertimbangkan mundur.

Bola.com, Jakarta - Persaingan untuk menjadi Presiden Football Association of Malaysia (FAM) berpotensi mengerucut menjadi duel dua kandidat.

Mantan Presiden FAM, Tan Sri Hamidin Amin, dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk mundur sebelum daftar kandidat resmi ditetapkan pada Kamis hari ini.

Hamidin sebelumnya disebut sebagai satu di antara kandidat favorit untuk kembali memimpin FAM. Namun, ia dikabarkan mungkin tidak akan maju dalam Kongres Pemilihan yang dijadwalkan berlangsung pada 17 September.

Jika Hamidin benar-benar mundur, posisi presiden FAM akan diperebutkan Presiden Malaysia Football League, Datuk Ab Ghani Hassan, dan Wakil Presiden Selangor FA, Datuk Seri Shahril Mokhtar.

Laporan pada bulan lalu seperti dilansir Inside World Football menyebut, Hamidin telah memperoleh 12 nominasi dari anggota FAM. Ab Ghani mengantongi tujuh nominasi, sedangkan Shahril mendapatkan empat.

Hamidin sebelumnya memimpin FAM pada 2018 hingga mengundurkan diri sebelum pemilihan 2025. Mohd Joehari Mohd Ayub kemudian terpilih sebagai penggantinya tanpa lawan.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Dampak Sanksi FIFA

Presiden baru FAM akan mengambil alih organisasi yang masih menghadapi dampak sanksi FIFA pada September tahun lalu.

FIFA menjatuhkan hukuman setelah menemukan adanya dokumen yang telah dipalsukan untuk membuktikan garis keturunan Malaysia dari tujuh pemain kelahiran luar negeri.

Ketujuh pemain tersebut tampil saat Malaysia menang 4-0 atas Vietnam dalam laga Kualifikasi Piala Asia 2027, yang kemudian memicu laporan awal terkait kasus tersebut.

FIFA menjatuhkan denda sebesar 429.611 dolar AS kepada FAM dan pada awalnya melarang masing-masing pemain terlibat dalam seluruh aktivitas sepak bola selama 12 bulan.

Kasus itu kemudian dibawa ke Court of Arbitration for Sport (CAS). CAS tetap menguatkan temuan bahwa dokumen terkait kelayakan pemain telah dipalsukan.

Ubah Hukuman

Namun, CAS mengubah cakupan hukuman terhadap para pemain, dari larangan mengikuti seluruh aktivitas sepak bola menjadi hanya larangan tampil dalam pertandingan. Banding FAM, tetap ditolak.

FIFA juga membatalkan empat hasil pertandingan Malaysia yang melibatkan para pemain tersebut. Selain kemenangan atas Vietnam, hasil laga persahabatan melawan Cape Verde, Singapura, dan Palestina turut dibatalkan.

Persoalan tersebut kemudian meluas hingga ke ranah hukum. FIFA menyerahkan dugaan tindak pidana dalam kasus itu kepada pihak berwenang di Malaysia, Argentina, Brasil, Spanyol, dan Belanda.

Pada Januari 2026, seluruh anggota komite eksekutif FAM mengundurkan diri, meski masa kerja mereka untuk periode 2025-2029 baru berjalan 11 bulan.

Kondisi tersebut kemudian membuka jalan bagi peninjauan administrasi FAM yang didukung AFC.

FAM Benahi Tata Kelola

Audit AFC dan FIFA menemukan sejumlah kelemahan dalam struktur tata kelola FAM.

Temuan tersebut mencakup kewenangan yang secara informal terkonsentrasi di tingkat teratas, departemen yang bekerja tanpa rencana bisnis tahunan, serta kebijakan yang sudah disusun tetapi belum mendapatkan persetujuan resmi.

Pada Juni 2026, para anggota FAM secara bulat menyetujui paket reformasi yang disusun berdasarkan hasil audit tersebut.

Statuta baru mengubah struktur komite eksekutif, menghapus posisi wakil presiden, mengurangi jumlah wakil presiden, serta memperketat persyaratan bagi kandidat.

Klub-klub profesional juga mendapatkan peran formal yang lebih besar dalam struktur FAM.

 

Sumber: Inside World Football

Video Populer

Foto Populer