Usai Piala Dunia 2026, Kelompok Suporter Kecam FIFA: Tidak Layak Mengelola Sepak Bola Dunia!

Organisasi suporter terbesar Eropa (FSE) Serang FIFA, sebut tak layak pimpin sepak bola dunia.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 23 Juli 2026, 22:15 WIB
Berdiri di samping Trofi Piala Dunia, Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyampaikan pidato pada pertemuan musim dingin Konferensi Walikota AS pada 29 Januari 2026 di Washington, DC. Infantino mempromosikan Piala Dunia 2026, yang akan diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, menyoroti potensi manfaatnya bagi kota dan komunitas tuan rumah. (Alex Wong/Getty Images via AFP)

Bola.com, Jakarta - Football Supporters Europe (FSE), organisasi suporter sepak bola terbesar di Eropa, melontarkan kritik keras terhadap FIFA setelah berakhirnya Piala Dunia 2026.

FSE menilai badan sepak bola dunia tersebut lebih mengutamakan kepentingan komersial dan politik daripada pengalaman suporter serta integritas olahraga.

Advertisement

Kritik itu muncul beberapa hari setelah final Piala Dunia 2026 yang dimenangi Spanyol dengan skor 1-0 atas Argentina di New Jersey, Senin kemarin.

Menurut FSE, berbagai persoalan yang terjadi sepanjang turnamen di tiga negara menjadi bukti bahwa FIFA gagal menghadirkan ajang yang benar-benar berpihak kepada para penggemar sepak bola.

FSE menilai tata kelola FIFA makin jauh dari kepentingan olahraga dan mempertanyakan kelayakan badan itu untuk terus memimpin sepak bola dunia.


Komersialisasi FIFA

Presiden AS, Donald Trump, dan Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyaksikan Spanyol merayakan kemenangan setelah mengalahkan Argentina di Final Piala Dunia 2026 di Stadion New York New Jersey pada 20 Juli 2026 di East Rutherford, New Jersey. (Andrew Harnik/Getty Images via AFP)

FSE menuding FIFA telah mengorbankan pengalaman suporter demi kepentingan bisnis dan hiburan. Organisasi itu menilai sejumlah elemen penting dalam sepak bola diubah demi memenuhi kepentingan komersial.

"Sejak awal, para suporter diminta memercayai FIFA dan 'bersantai'. Namun, FIFA justru lebih mengutamakan tontonan dan komersialisasi daripada pengalaman menonton langsung di stadion. Selama sebulan terakhir, kami melihat sepak bola dipelintir mengikuti kehendak Gianni Infantino dan pemerintahan Donald Trump," tulis FSE.

Selain itu, FSE menyoroti kebijakan harga tiket yang dinilai sangat memberatkan suporter. Harga tiket pertandingan disebut sempat mencapai 33 ribu dolar AS, sementara biaya parkir mencapai ratusan dolar dan harga satu gelas bir sekitar 20 dolar AS.

Menurut FSE, komersialisasi tiket, tingginya biaya transportasi, serta minimnya komunikasi dari FIFA telah menciptakan kebingungan dan mengikis kepercayaan publik terhadap penyelenggara.

FSE menilai suporter diperlakukan sebagai sumber pendapatan dalam penyelenggaraan Piala Dunia termahal sepanjang sejarah.


Kebijakan Visa

Wasit Somalia, Omar Abdulkadir Artan, memberi isyarat selama pertandingan Grup D Piala Afrika (CAN) 2024 antara Mauritania dan Aljazair di Stade de la Paix di Bouake pada 23 Januari 2024. (KENZO TRIBOUILLARD/AFP)

FSE juga menilai janji FIFA untuk menghadirkan "Piala Dunia untuk Semua" tidak pernah benar-benar terwujud.

Organisasi tersebut menyebut banyak suporter, ofisial, jurnalis, hingga anggota keluarga dari sejumlah negara gagal memasuki Amerika Serikat akibat kebijakan visa selama turnamen berlangsung.

Tak hanya itu, FSE menyoroti perlakuan terhadap Timnas Iran serta penolakan masuk terhadap wasit elite asal Afrika, Omar Artan.

Menurut mereka, kejadian tersebut menunjukkan penyelenggaraan Piala Dunia 2026 tidak berjalan seinklusif yang dijanjikan FIFA.


Intervensi Politik

Folarin Balogun dari Amerika Serikat, di tengah, merayakan gol ketiga timnya melawan Paraguay bersama rekan-rekan setimnya selama pertandingan Grup D Piala Dunia 2026 di Inglewood, California, dekat Los Angeles, Sabtu, 13 Juni 2026. (AP Photo/Andre Penner)

Organisasi itu mengkritik dugaan campur tangan politik selama turnamen.

FSE menyinggung permintaan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, agar FIFA meninjau ulang hukuman larangan bermain satu pertandingan yang dijatuhkan kepada penyerang Timnas AS, Folarin Balogun, menjelang laga babak 16 besar melawan Belgia.

Menurut FSE, FIFA mengakomodasi permintaan tersebut, meski bertentangan dengan aturan yang berlaku. Langkah itu dinilai berpotensi merusak integritas kompetisi sekaligus memperkuat anggapan bahwa kepentingan politik ikut memengaruhi penyelenggaraan Piala Dunia 2026.

Dalam penutup pernyataannya, FSE menegaskan bahwa berbagai kontroversi sepanjang turnamen menjadi pelajaran penting bagi masa depan sepak bola dunia.

"Pelajaran dari Piala Dunia ini sangat jelas: FIFA tidak layak mengelola sepak bola dunia. Masa depan olahraga ini tidak boleh berada di tangan seseorang yang sekali lagi membuktikan bahwa kepentingan finansial dan politik lebih diutamakan daripada masa depan sepak bola," tulis FSE.

 

Sumber: Inside World Football

Penulis: Fauzi Ananta Dharmawan

Berita Terkait