Asosiasi Sepak Bola Belgia Masih Menuntut Jawaban soal Hukuman Folarin Balogun di Piala Dunia 2026

Asosiasi Sepak Bola Belgia meminta kasus Balogun dibahas dalam rapat Dewan FIFA pada 15 Oktober dan memastikan tidak akan mendukung Gianni Infantino dalam pemilihan presiden FIFA berikutnya.

Bola.com, Jakarta - Asosiasi Sepak Bola Belgia (RBFA) masih meminta penjelasan mengenai keputusan FIFA yang membuat Folarin Balogun tetap bisa tampil menghadapi Belgia pada babak 16 besar Piala Dunia 2026. RBFA juga meminta persoalan tersebut dimasukkan ke dalam agenda rapat Dewan FIFA pada 15 Oktober.

Balogun sebelumnya mendapat kartu merah langsung dalam pertandingan Amerika Serikat sebelum menghadapi Belgia. Ia seharusnya menjalani hukuman larangan bermain satu pertandingan, tetapi FIFA menangguhkan sanksi tersebut selama satu tahun sehingga sang penyerang dapat memperkuat Amerika Serikat.

Keputusan tersebut menjadi salah satu kontroversi terbesar di Piala Dunia 2026 dan mendapat banyak kritik. Kontroversi semakin besar setelah muncul kabar bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan sejumlah pejabat Gedung Putih melakukan lobi kepada FIFA.

UEFA dan RBFA termasuk pihak yang mempertanyakan keputusan tersebut. RBFA sebelumnya meminta FIFA memberikan penjelasan mengenai dasar keputusan itu serta bagaimana kasus serupa akan ditangani pada masa mendatang.

Balogun yang telah mencetak tiga gol hingga babak tersebut tampil sebagai starter saat Amerika Serikat menghadapi Belgia. Belgia menang 4-1 dalam pertandingan tersebut sebelum akhirnya tersingkir dari Piala Dunia setelah kalah dari Spanyol di perempat final.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Pertanyaan RBFA Masih Belum Terjawab

Dalam pernyataan pada Senin (7/9/2026), RBFA kembali menegaskan keinginannya agar kasus tersebut dibahas dalam rapat Dewan FIFA. Federasi Belgia juga menyatakan tidak akan mendukung Gianni Infantino untuk kembali menjabat sebagai Presiden FIFA.

Presiden RBFA Pascale van Damme mengatakan pihaknya masih belum mendapatkan jawaban atas persoalan tersebut hingga dua bulan setelah kejadian.

"Dua bulan setelah kejadian tersebut, pertanyaan kami masih belum terjawab," ujar van Damme.

Van Damme menegaskan bahwa RBFA ingin persoalan tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi mekanisme yang berlaku di FIFA.

"Mengingat pentingnya transparansi dan kejelasan bagi semua pihak yang terlibat, kami meminta penjelasan yang diperlukan dan, pada saat yang sama, ingin mengeksplorasi bagaimana proses yang ada saat ini dapat diperbaiki, sehingga kasus serupa dapat ditangani dengan jelas, konsisten, dan efisien pada masa mendatang," katanya.

Kasus Langka di Piala Dunia

Kartu merah Balogun menjadi kartu merah ke-189 dalam sejarah Piala Dunia. Sanksi tersebut juga menjadi yang kedua setelah kartu merah Garrincha bersama Brasil pada 1962 yang tidak membuat pemain menjalani hukuman larangan tampil.

FIFA tidak pernah memberikan penjelasan secara lengkap mengenai keputusan tersebut. Badan sepak bola dunia itu hanya merujuk pada Pasal 27 Kode Disiplin FIFA, yang memungkinkan penangguhan pelaksanaan sanksi disipliner secara penuh maupun sebagian.

Tidak ada hukuman larangan bermain lain yang ditangguhkan selama Piala Dunia 2026.

Infantino, yang telah menjabat sebagai Presiden FIFA sejak 2016, mengonfirmasi bahwa dirinya akan mencalonkan diri kembali dalam pemilihan presiden pada Maret.

RBFA menjadi federasi sepak bola terbaru yang menyatakan tidak mendukung upaya Infantino untuk mempertahankan jabatannya. Selain kasus Balogun, federasi Belgia juga menyoroti FIFA Forward Enterprise, yakni rencana untuk menjual kepemilikan dalam kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia, kepada perusahaan investasi swasta.

Kedua persoalan tersebut menjadi alasan RBFA menolak memberikan dukungan kepada Infantino.

Sumber: BBC Sport

 

Video Populer

Foto Populer