Final Piala Dunia 2026 Jadi Cermin Kemunduran Sepak Bola Italia

Final Piala Dunia 2026 jadi tamparan keras bagi sepak bola Italia.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 23 Juli 2026, 21:30 WIB
Pemain Timnas Italia tertunduk lesu setelah kalah dari Bosnia-Herzegovina lewat drama adu penalti pada laga final playoff Piala Dunia 2026 di Stadion Bilino Polje, Zenica, Rabu (1/4/2026) dini hari WIB. Italia kembali gagal lolos ke putaran final Piala Dunia karena kekalahan ini. (AP Photo/Armin Durgut)

Bola.com, Jakarta - Mantan gelandang Juventus, Massimo Mauro, menilai final Piala Dunia 2026 menjadi gambaran nyata menurunnya daya saing sepak bola Italia di level internasional.

Menurutnya, minimnya pemain Serie A yang tampil pada laga puncak menunjukkan kompetisi Italia tak lagi menjadi tujuan utama para pemain terbaik dunia.

Advertisement

Menurut La Gazzetta dello Sport dilansir Football Italia, Mauro menilai kondisi tersebut tidak terlepas dari makin sulitnya klub-klub Serie A bersaing, baik dari segi kualitas maupun kekuatan finansial.

Akibatnya, daya tarik kompetisi Italia terus menurun dibandingkan liga-liga top Eropa.

Mauro juga mengaitkan situasi tersebut dengan absennya Timnas Italia di Piala Dunia 2026. Baginya, kondisi itu mencerminkan tantangan besar yang tengah dihadapi sepak bola Italia, baik di level timnas maupun kompetisi domestik.

Serie A akan memulai musim 2026/2027 dalam waktu sekitar satu bulan. Namun, Mauro menilai sejumlah klub besar masih harus bergerak lebih cepat di bursa transfer agar mampu bersaing sejak awal musim.


Jadi Cerminan

Pemain Argentina Lautaro Martinez merayakan gol kedua mereka selama pertandingan semifinal Piala Dunia melawan Inggris di Atlanta, Rabu, 15 Juli 2026. (AP Photo/Lynne Sladky)

Mauro menyoroti fakta bahwa hanya dua pemain Serie A yang tampil pada final Piala Dunia 2026, yakni Lautaro Martinez dari Inter Milan dan Nico Paz yang membela Como.

Menurutnya, jumlah tersebut sangat kontras dengan era ketika Serie A menjadi rumah bagi banyak pemain terbaik dunia.

Kendati tim Lautaro Martinez dan Nico Paz sama-sama tampil di partai puncak, Mauro menilai kontribusi keduanya tidak terlalu besar. Ia bahkan menyebut gol penentu Lautaro di semifinal menjadi satu-satunya momen yang sedikit menyelamatkan wajah Serie A sepanjang turnamen.

"Sepak bola Italia hanya memiliki dua pemain di final, Lautaro dan Nico Paz, yang sebenarnya hampir tidak bermain," ujar Mauro.

Menurut Mauro, kondisi tersebut menjadi bukti klub-klub Italia makin kesulitan bersaing di level tertinggi. Situasi itu dinilainya makin memprihatinkan karena Timnas Italia juga kembali gagal lolos ke putaran final Piala Dunia.

"Jika bukan karena gol penentu Lautaro di semifinal, catatan itu akan jauh lebih buruk. Ini bukan gambaran yang baik, apalagi tim nasional kami juga tidak tampil di Piala Dunia. Itu menunjukkan klub-klub Italia sedang mengalami kesulitan," tutur Mauro. 

Jadi Sorotan

Dusan Vlahovic merayakan gol pertama Juventus dalam laga Serie A antara Juventus dan Udinese di Turin, Italia, Rabu, 29 Oktober 2025. (Fabio Ferrari/LaPresse via AP)

Selain mengkritik kondisi Serie A secara umum, Mauro menyoroti aktivitas transfer sejumlah klub besar Italia. Ia menilai Inter Milan masih membutuhkan pengganti Denzel Dumfries sekaligus tambahan pemain di lini belakang agar mampu bersaing pada musim depan.

"Berbeda dengan masa lalu, Inter kini lebih banyak menunggu. Mereka belum mendapatkan pemain yang dibutuhkan sebagai pengganti Dumfries maupun tambahan bek baru. Mereka sedang berada dalam situasi sulit," kata Mauro.

Menurut Mauro, Napoli masih memiliki peluang bangkit bersama pelatih anyar, Massimiliano Allegri, meski belum terlalu agresif di bursa transfer.

Di sisi lain, Juventus dinilai terlambat memperkuat skuad dan masih harus menyelesaikan masa depan Dusan Vlahovic, sementara Roma kehilangan peluang setelah gagal merekrut Mason Greenwood dan Crysencio Summerville.


Memuji Como

Como 1907 dan Cesc Fabregas setelah memastikant tiket ke Liga Champions 2026/2027. (Dok. X @Como_1907)

Di tengah kritik terhadap klub-klub besar Italia, Mauro justru memuji Como sebagai satu di antara tim yang bekerja paling efektif di bursa transfer musim panas. Ia menilai klub asuhan Cesc Fabregas memiliki perencanaan yang matang sehingga mampu mendatangkan pemain sesuai kebutuhan tim.

"Mereka bekerja dengan pendekatan yang hampir ilmiah. Mereka menentukan pemain sesuai kebutuhan Fabregas dan benar-benar berhasil merekrut target mereka," ulasnya.

Menjelang dimulainya Serie A 2026/2027, Mauro berharap Juventus, Inter, dan Roma segera meningkatkan aktivitas di bursa transfer.

Ia juga meyakini Napoli memiliki fondasi yang kuat apabila mampu terhindar dari badai cedera, sedangkan Como berpeluang menjadi satu di antara tim kejutan musim depan.

"Juve, Inter, dan Roma harus segera bergerak. Jika tidak mengalami banyak cedera, Napoli memiliki staf yang sangat bagus. Saya juga melihat Como akan menjalani musim yang sangat baik," ujar mantan pemain Udinese dan Napoli yang kini berusia 64 tahun tersebut.

 

Sumber: Football Italia

Penulis: Arif Anggara Mulya

Berita Terkait