Perjalanan Panjang Zinedine Zidane Menuju Kursi Pelatih Timnas Prancis

Zinedine Zidane memimpin Les Bleus menggantikan Didier Deschamps usai Piala Dunia 2026. Publik Prancis menantikan arah baru sang legenda.

BolaCom | Gia Yuda PradanaDiterbitkan 28 Juli 2026, 18:23 WIB
Zinedine Zidane. Ia menjadi pelatih utama Real madrid pada tengah musim 2015/2016 menggantikan Rafael Benitez setelah sebelumnya menangani Real Madrid Castilla. Ia langsung mempersembahkan trofi Liga Champions di musim tersebut dan mempertahankannya di dua edisi berikutnya. (AFP/Filippo Monteforte)

Bola.com, Jakarta - Zinedine Zidane kembali ke Timnas Prancis sebagai pelatih kepala Les Bleus, sebuah keputusan yang mengakhiri penantian panjang publik sepak bola negeri itu. Nama besar sang legenda kini kembali ke tim nasional, tapi dari tepi lapangan.

Mantan pelatih Real Madrid tersebut mengambil alih dari Didier Deschamps yang menuntaskan masa baktinya setelah Piala Dunia 2026. Bagi Zidane, jabatan ini adalah pekerjaan yang memang selalu menjadi impiannya.

Advertisement

Ia mengungkap pernah menerima sejumlah tawaran dari klub dalam beberapa tahun terakhir. Namun, ia memilih menunggu kesempatan memimpin Timnas Prancis karena tidak memiliki tujuan lain.


Penunjukan Resmi dan Arah Baru Les Bleus

Zinedine Zidane resmi diperkenalkan sebagai pelatih baru Timnas Prancis di markas Federasi Sepak Bola Prancis (FFF), Paris, Selasa (28/7/2026). Legenda Les Bleus itu menggantikan Didier Deschamps usai Piala Dunia 2026. (LOU BENOIST/AFP)

Keputusan membawa Zinedine Zidane ke kursi pelatih kepala menandai babak baru bagi Timnas Prancis. Momentum ini menghadirkan harapan akan kesinambungan prestasi sekaligus penyegaran di ruang ganti Les Bleus.

Bagi Zidane sendiri, kesempatan ini merupakan peran yang telah lama ia dambakan. Ia menilai jalur tim nasional adalah tujuan utama, selaras dengan keinginannya untuk kembali memberi kontribusi langsung kepada negaranya.

Transisi ini terjadi setelah Didier Deschamps mengakhiri masa pengabdiannya usai Piala Dunia 2026. Dengan landasan tim yang sudah mapan, Zidane masuk membawa perspektif berbeda dan fokus pada pengelolaan pemain.


Dari La Castellane ke Panggung Dunia

Pemain yang dipanggil Zizou ini sudah mencuat sejak dua tahun sebelumnya dimana ia mampu mempersembahkan dua gol untuk Tim Nasional Prancis pada laga final dan berhasil menjuarai ajang Piala Dunia 1998. (Foto: AFP/Gabriel Bouys)

Lahir di Marseille pada 1972 dari keluarga keturunan Aljazair, Zidane tumbuh di kawasan La Castellane yang sederhana. Bakatnya berkembang pesat bersama Cannes dan Bordeaux hingga menerima panggilan pertama ke Timnas Prancis pada usia 22 tahun.

Langkah berikutnya membawanya ke Juventus, yang menjadi jembatan menuju puncak karier internasional. Empat tahun kemudian, ia menjadi aktor utama keberhasilan Prancis menjuarai Piala Dunia 1998 lewat dua gol sundulan ke gawang Brasil pada partai final.

Keberhasilan bersama Les Bleus berlanjut dengan gelar Euro 2000, diikuti kepindahan ke Real Madrid. Di klub ibu kota Spanyol tersebut, ia mengukir salah satu momen paling ikonik kompetisi Eropa.

Gol voli kaki kiri pada final Liga Champions 2002 masih dikenang sebagai salah satu gol terbaik dalam sejarah turnamen. Deretan capaian itu menegaskan statusnya sebagai figur sentral generasinya.


Sukses di Madrid dan Jalan Menuju Kursi Prancis

Zidane dan trofi Liga Champions 2017 usai kalahkan Juventus pada final di The Principality Stadium, Cardiff, (3/6/2017). Zinedine Zidane mundur dari kursi pelatih Madrid setelah meraih trofi Liga Champions tiga kali. (AFP/Filippo Monteforte)

Setelah gantung sepatu, Zidane tidak langsung melompat ke posisi pelatih kepala. Ia terlebih dulu menempuh pendidikan manajemen olahraga di Limoges sebelum memperoleh lisensi kepelatihan.

Ia kemudian kembali ke Real Madrid dan menjalani berbagai peran, mulai dari penasihat klub hingga asisten pelatih. Perjalanan itu menjadi fondasi kuat saat kesempatan besar datang.

Pada 2016, Zidane dipercaya sebagai pelatih kepala dan langsung menorehkan tiga gelar Liga Champions secara beruntun serta dua trofi LaLiga. Catatan tersebut mempertegas reputasinya di bangku cadangan.

Didier Deschamps memberi apresiasi terhadap kiprah mantan rekan setimnya itu. "Sebagai pemain dia sudah luar biasa, lalu memiliki kehidupan kedua sebagai pelatih dan kini menjadi pelatih yang luar biasa."


Tantangan Awal Zidane di Timnas Prancis

Legenda sepak bola dan pelatih Prancis, Zinedine Zidane, terlihat dalam upacara peluncuran perdana mobil listrik Alpine A390 di Dieppe, Prancis barat laut, pada 27 Mei 2025. (Lou BENOIST/AFP)

Kini, Zidane mewarisi skuad yang dihuni banyak pemain berkualitas seperti Kylian Mbappe, Michael Olise, dan Ousmane Dembele. Materi ini memberi ruang untuk merumuskan ulang kerangka tim tanpa kehilangan daya saing.

Tugas utamanya adalah membawa Timnas Prancis kembali bersaing memperebutkan gelar setelah gagal mencapai final Piala Dunia 2026. Target itu menjadi tolok ukur pertama bagi arah baru Les Bleus.

Dalam menjalankan perannya, Zidane menegaskan pendekatan yang menonjolkan pengelolaan manusia dibanding skema yang berlapis. "Saya bukan pelatih terbaik dalam urusan taktik, tetapi saya memiliki hal lain. Saya sangat memahami ruang ganti dan cara berpikir seorang pemain, dan bagi saya itu sangat penting."

Pendekatan tersebut menjadi modal awal untuk membuka era baru bersama Timnas Prancis. Kini, publik Les Bleus menantikan apakah sang legenda mampu mengulang kejayaan yang pernah ia persembahkan sebagai pemain, kali ini dari tepi lapangan.

Sumber: France 24

Berita Terkait