Javier Tebas Balas Keras Pernyataan Gianni Infantino soal Piala Dunia 2026, Sindir Sikap Defensif Presiden FIFA

Javier Tebas kembali terlibat "perang kata-kata" dengan Presiden FIFA, Gianni Infantino.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 28 Juli 2026, 20:20 WIB
Presiden La Liga Spanyol, Javier Tebas, berbicara kepada media di Ciudad del Futbol di Las Rozas, di luar Madrid, pada 16 Desember 2024. (OSCAR DEL POZO/AFP)

Bola.com, Jakarta - Presiden La Liga, Javier Tebas, melontarkan kritik tajam kepada Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyusul pernyataan kontroversial yang disampaikan terkait penyelenggaraan Piala Dunia 2026.

Infantino sebelumnya menuai sorotan setelah mengunggah pernyataan panjang melalui situs resmi FIFA dan 15 unggahan beruntun di akun Instagram pribadinya. Dalam pernyataan tersebut, ia mengecam para pengkritik Piala Dunia 2026.

Advertisement

Presiden FIFA itu menuding para pengkritiknya telah dipenuhi kebencian dan menyarankan mereka untuk bermeditasi, berdoa, atau menonton pertandingan sepak bola agar bisa menemukan kedamaian.

Infantino juga menegaskan turnamen yang berlangsung di Amerika Utara itu berjalan dengan tanpa kekerasan, tanpa insiden, serta 100 persen aman dan terlindungi.


Pembelaan Infantino

Momen itu juga disaksikan Presiden FIFA Gianni Infantino yang turut hadir di pertandingan Iran vs Kosta Rika. (AP Photo/Riza Ozel)

Pernyataan itu tetap disampaikan Infantino, meski empat suporter dilaporkan meninggal dunia saat perayaan Piala Dunia 2026 di Mexico City.

Selain itu, Infantino membela penanganan terhadap Timnas Iran, persoalan visa, hingga kontroversi kartu merah yang diterima Folarin Balogun.

Ia juga menyatakan keputusan wasit maupun putusan disiplin yang masih dapat diperdebatkan, termasuk kemungkinan kesalahan dalam pemberian kartu merah atau kartu kuning maupun keputusan tidak menjatuhkan larangan bermain kepada pemain tertentu, merupakan hal yang lazim dan diterima di sejumlah liga besar dunia.

Menurutnya, menarik bahwa negara-negara yang menerapkan praktik serupa justru menjadi pihak yang paling keras mengkritik.


Komentar Tebas

Presiden La Liga, Javier Tebas menilai Barcagate tidak hanya berpengaruh bagi Barcelona namun juga berimbas dan dapat merusak reputasi Liga Spanyol. (AFP/Pierre-Philippe Marcou)

Pernyataan Infantino tidak meredam kritik terhadap Piala Dunia 2026. Sebaliknya, respons tersebut justru memicu sorotan baru.

Melalui akun X miliknya, Javier Tebas menyebut pernyataan Infantino sebagai pesan yang menyedihkan.

"Tidak ada yang membantah bahwa sepak bola adalah emosi dan pemersatu. Namun, transparansi, tata kelola yang baik, dan akuntabilitas bukanlah bentuk kebencian, melainkan sebuah kewajiban. Institusi yang kuat tidak mendiskreditkan mereka yang bertanya, tetapi menjawab pertanyaan mereka," tulis Tebas.

Ia mempertanyakan alasan di balik nada defensif yang digunakan Infantino.

"Dan satu refleksi, Gianni. Ketika seorang pemimpin mendedikasikan seluruh pesannya untuk mendiskreditkan mereka yang melakukan pengawasan secara sah, orang tentu bertanya, mengapa sekarang? Apakah ada sesuatu yang menjelaskan sikap defensif itu? Apakah ada sesuatu yang tidak kami ketahui?" lanjutnya.


Infantino Diminta Hadir di Kongres AS

Gianni Infantino, Presiden FIFA, melambaikan tangan kepada penonton sebelum pertandingan babak 16 besar Piala Dunia Antarklub 2025 antara CR Flamengo dan FC Bayern München di Hard Rock Stadium pada 29 Juni 2025 di Miami Gardens, Florida. (Michael Reaves/Getty Images via AFP)

Di sisi lain, Jamie Raskin, anggota senior Partai Demokrat di Komite Kehakiman DPR Amerika Serikat, memulai penyelidikan terhadap Infantino.

Ia meminta dokumen yang menjelaskan hubungan antara FIFA dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, beserta pemerintahannya.

Dalam surat yang dikirim kepada Infantino, Raskin menulis bahwa terpilihnya Infantino sebagai Presiden FIFA semula diharapkan menjadi titik balik dari budaya korupsi dan berbagai skandal yang selama bertahun-tahun mencoreng reputasi sepak bola dunia.

Namun, menurut Raskin, pada awal masa kepemimpinannya, Infantino justru membongkar mekanisme etika FIFA dan melemahkan komite etik dengan menyingkirkan sebagian besar anggotanya.

Ia menilai minimnya transparansi dan pengawasan itu kemudian membuka jalan bagi Infantino untuk menjalin kedekatan dengan pemerintahan Donald Trump melalui cara yang oleh seorang profesor hukum Universitas New York dan mantan anggota komite etik FIFA disebut sebagai "suap yang legal".

Laporan juga menyebut Donald Trump, yang memiliki hubungan dekat dengan Infantino, telah menyiapkan potensi pekerjaan baru bagi pria yang menjabat sebagai Presiden FIFA sejak 2016 tersebut.

 

Sumber: Give Me Sport

Berita Terkait