Bola.com, Jakarta - Ada banyak perdebatan yang selalu muncul dalam dunia sepak bola. Siapa pemain terbaik sepanjang masa? Siapa yang paling layak memenangkan Ballon d'Or? Benarkah gol Geoff Hurst benar-benar melewati garis gawang?
Daftarnya nyaris tak ada habisnya, dan untuk sebagian besar pertanyaan tersebut, jawabannya tentu bisa berbeda-beda tergantung sudut pandang masing-masing orang.
Hal yang sama juga berlaku ketika membahas siapa tim terbaik dalam sejarah sepak bola. Selama bertahun-tahun, begitu banyak tim luar biasa yang tidak hanya mengukir warisan prestasi, tetapi dalam beberapa kasus juga memberikan dampak budaya yang melampaui dunia sepak bola.
Karena itulah, menyusun daftar tim-tim terbaik sepanjang masa bukanlah pekerjaan yang mudah.
Namun, berdasarkan riset yang dilakukan OLBG dan dikutip The Sun, Rabu (30/7/2026), para penggemar telah memberikan suara untuk menentukan tim-tim terbaik yang pernah tampil di lapangan hijau.
Hasil pemungutan suara tersebut kemudian menghasilkan daftar 10 tim terbaik sepanjang sejarah sepak bola, yang diurutkan berdasarkan jumlah suara yang diperoleh.
10. Real Madrid: 1984-1990
Antara 1984 hingga 1990, Real Madrid kembali menikmati salah satu era keemasan mereka yang dipimpin oleh kelompok legendaris "La Quinta del Buitre", yang beranggotakan Emilio Butragueno, Michel, Miguel Pardeza, Manolo Sanchís, dan Rafael Martín Vazquez.
Dikenal dengan gaya bermain menyerang yang atraktif, Real Madrid mendominasi sepak bola Spanyol pada periode tersebut. Di bawah arahan pelatih Luis Molowny dan Leo Beenhakker, Los Blancos berhasil meraih lima gelar La Liga secara beruntun (1985-1990), dua trofi Piala UEFA (1985 dan 1986), satu Copa del Rey (1989), serta tiga gelar Piala Super Spanyol.
Jauh sebelum era Galacticos, inilah skuad Real Madrid yang lebih dekat dengan akar tradisi klub. Meski tidak dihuni banyak bintang hasil transfer mahal, mereka tetap mampu menunjukkan kehebatan dan mendominasi kompetisi domestik maupun Eropa.
Prestasi Real Madrid (1984-1990):
- La Liga: 5 kali
- Copa del Rey: 1 kali
- Copa de la Liga: 1 kali
- Supercopa de Espana: 3 kali
- Piala UEFA/UEFA Europa League: 2 kali
9. Manchester United:1966-1968
Manchester United berhasil bangkit secara luar biasa dari tragedi Munich Air Disaster pada 1958 yang menghancurkan klub. Hanya berselang 10 tahun, Setan Merah mencatat sejarah sebagai klub Inggris pertama yang menjuarai Piala Champions Eropa (European Cup).
Di bawah arahan manajer legendaris Sir Matt Busby, yang juga selamat dari kecelakaan tersebut, Manchester United dibangun kembali dengan perpaduan pemain muda dan senior berpengalaman. Tim ini diperkuat sejumlah bintang seperti George Best, Bobby Charlton (penyintas tragedi Munich), Denis Law, dan Nobby Stiles.
Fakta Menarik: George Best, Denis Law, dan Bobby Charlton menjadi satu-satunya trio dalam sejarah sepak bola yang sama-sama memenangkan Ballon d'Or saat masih membela klub yang sama.
Keberhasilan menjuarai European Cup 1968 setelah mengalahkan Benfica di Wembley, markas sepak bola Inggris, menjadi puncak kisah kebangkitan MU dari tragedi menjadi kejayaan. Momen tersebut juga dianggap sebagai salah satu fondasi yang membentuk kebesaran klub berjuluk Setan Merah hingga saat ini.
Prestasi Manchester United (1966-1968)
- Divisi Pertama Inggris (First Division): 1 kali
- FA Charity Shield: 1 kali
- European Cup (Liga Champions): 1 kali
8. Manchester City: 2022-2023
Musim 2022/2023 menjadi tonggak bersejarah bagi Manchester City setelah berhasil menjadi tim kedua dalam sejarah sepak bola Inggris yang meraih treble winners. Di bawah arahan Pep Guardiola, The Citizens tampil luar biasa dengan permainan taktis yang brilian dan konsistensi yang mengesankan sepanjang musim.
Manchester City sukses menyalip Arsenal dalam perburuan gelar Premier League, kemudian mengalahkan Manchester United dengan skor 2-1 di final Piala FA, sebelum menuntaskan musim impian dengan menjuarai Liga Champions untuk pertama kalinya lewat kemenangan 1-0 atas Inter Milan.
Di lini depan, Erling Haaland menjadi sosok paling menonjol setelah mencetak 52 gol di semua kompetisi, sekaligus membuktikan diri sebagai rekrutan terbaik musim itu. Ia mendapat dukungan penting dari Kevin De Bruyne dan Rodri, yang menjadi motor permainan Manchester City.
Keberhasilan meraih treble sekaligus mengakhiri penantian panjang City untuk mengangkat trofi Liga Champions. Pencapaian tersebut juga mengukuhkan Manchester City sebagai salah satu klub terbaik di dunia.
Prestasi Manchester City (2022/2023)
- Premier League
- Piala FA (FA Cup)
- Liga Champions (Champions League)
7. Arsenal: 2003-2004
Musim 2003/2004 menjadi salah satu periode paling bersejarah dalam perjalanan Arsenal. Di bawah arahan Arsene Wenger, The Gunners menjuarai Premier League tanpa sekalipun menelan kekalahan, sehingga mendapat julukan legendaris "The Invincibles".
Tim racikan Wenger dianggap sebagai simbol masuknya filosofi sepak bola modern Eropa ke Inggris. Bahkan, pelatih asal Prancis itu kerap disebut sebagai sosok yang mengubah budaya sepak bola Inggris, baik dari segi gaya bermain maupun pendekatan profesional terhadap tim.
Arsenal diperkuat sederet pemain bintang seperti Thierry Henry, yang menjadi top skor Premier League musim itu. Selain Henry, ada kapten Patrick Vieira, Dennis Bergkamp, Robert Pires, hingga Sol Campbell, yang menuai kontroversi setelah pindah dari Tottenham Hotspur. Kepindahan Campbell terbukti menjadi keputusan tepat karena ia menjadi bagian penting dari kesuksesan Arsenal.
Hingga kini, banyak pihak masih menganggap skuad The Invincibles sebagai salah satu, bahkan mungkin tim terbaik dalam sejarah Premier League. Namun, fakta bahwa mereka hanya meraih satu trofi selama rangkaian 49 pertandingan tak terkalahkan membuat posisi mereka dalam daftar tim terbaik sepanjang masa sedikit tertahan.
Prestasi Arsenal (2003/2004):
- Premier League (Juara tanpa terkalahkan)
6. Spanyol: 2008-2012
Jika ingin melihat seperti apa dominasi di level sepak bola internasional, maka lihatlah Timnas Spanyol pada periode 2008 hingga 2012. Mengusung gaya bermain tiki-taka yang mulai dipopulerkan Pep Guardiola bersama Barcelona, La Roja tampil nyaris tak tersentuh ketika tim-tim lain kesulitan menghadapi permainan penguasaan bola mereka.
Spanyol berhasil menjuarai tiga turnamen besar secara beruntun, yakni Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010, dan Piala Eropa 2012. Pencapaian tersebut membuat mereka menjadi satu-satunya tim nasional yang mampu mencatatkan prestasi seperti itu.
Kekuatan utama Spanyol terletak di lini tengah yang dipenuhi pemain kelas dunia. Mereka memiliki banyak pilihan, mulai dari Xavi, Andrés Iniesta, Cesc Fàbregas, Sergio Busquets, hingga Xabi Alonso. Sementara di lini belakang, hadir nama-nama seperti Sergio Ramos, Gerard Piqué, dan Carles Puyol, yang menjadikan pertahanan La Roja sangat sulit ditembus lawan.
Generasi Spanyol saat ini, yang diperkuat pemain seperti Rodri dan Lamine Yamal, juga mulai menorehkan prestasi setelah menjuarai Euro 2024 dan Piala Dunia 2026. Jika mampu memenangkan satu turnamen besar lagi, mereka berpeluang menyamai warisan luar biasa yang ditinggalkan generasi emas 2008-2012.
Prestasi Spanyol (2008-2012)
- Juara Piala Eropa (UEFA Euro): 2 kali (2008 dan 2012)
- Juara Piala Dunia FIFA: 1 kali (2010)
5. Real Madrid: 1955-1960
Jika ada satu tim yang benar-benar mendefinisikan dominasi sepak bola Eropa pada era awal kompetisi antarklub, maka jawabannya adalah Real Madrid periode 1955 hingga 1960. Los Blancos mencatat sejarah dengan menjuarai lima edisi pertama European Cup (kini Liga Champions) secara beruntun, sebuah rekor yang hingga kini belum mampu disamai klub mana pun.
Dipimpin legenda Alfredo Di Stéfano, Real Madrid diperkuat sederet pemain hebat seperti Ferenc Puskás, Paco Gento, Raymond Kopa, dan kemudian José Santamaría. Mereka dikenal memainkan sepak bola menyerang yang atraktif, cepat, dan penuh kreativitas.
Salah satu penampilan paling ikonis mereka terjadi pada final European Cup 1960, ketika Real Madrid membantai Eintracht Frankfurt dengan skor 7-3. Laga tersebut hingga kini masih dianggap sebagai salah satu penampilan terbaik dalam sejarah sepak bola.
Era keemasan ini menjadikan Real Madrid sebagai simbol sepak bola Eropa sekaligus meletakkan fondasi bagi status mereka sebagai salah satu klub terbesar dan paling sukses di dunia.
Prestasi Real Madrid (1955-1960)
- La Liga: 3 gelar
- European Cup (Liga Champions): 5 gelar
- Piala Interkontinental: 1 gelar
4. Liverpool: 1975-1984
Pada periode 1975 hingga 1984, Liverpool membangun salah satu dinasti paling dominan dalam sejarah sepak bola. Di bawah arahan Bob Paisley, yang kemudian diteruskan Joe Fagan, The Reds menguasai seni meraih kemenangan dengan cara yang tenang, konsisten, dan efektif, baik di kompetisi domestik maupun Eropa.
Selama kurun waktu tersebut, Liverpool sukses meraih tujuh gelar Divisi Pertama Inggris (First Division), tiga trofi European Cup (1977, 1978, dan 1981), satu Piala UEFA (1976), serta empat gelar Piala Liga Inggris (League Cup) secara beruntun.
Skuad Liverpool saat itu dipenuhi para pemain legendaris. Ada Kenny Dalglish dengan kecerdasan bermainnya, Graeme Souness yang tangguh di lini tengah, Kevin Keegan dengan semangat juangnya, Ian Rush sebagai mesin gol, serta duet Alan Hansen dan Ray Clemence yang menjadi pilar kokoh di lini pertahanan.
Liverpool pada era tersebut tidak sekadar mengoleksi trofi. Mereka menjadi simbol dominasi dan menetapkan standar kesuksesan yang hanya mampu disamai oleh sedikit klub hingga saat ini.
Prestasi Liverpool (1975-1984)
- Divisi Pertama Inggris (First Division): 7 gelar
- European Cup (Liga Champions): 3 gelar
- Piala UEFA: 1 gelar
- Piala Liga Inggris (League Cup): 4 gelar
- Piala FA: 5 gelar
- Piala Super Eropa (UEFA Super Cup): 1 gelar
3. Brazil 1970
Jika ada satu tim nasional yang layak disebut sebagai yang terbaik sepanjang masa, maka Brasil 1970 adalah jawabannya. Tim inilah yang benar-benar menggambarkan keindahan sepak bola.
Pada era ketika siaran pertandingan internasional belum semudah sekarang diakses, Brasil memukau dunia lewat permainan menyerang yang atraktif, teknik individu kelas tinggi, dan aksi-aksi yang tak terlupakan di Piala Dunia 1970 di Meksiko.
Brasil menyapu bersih enam pertandingan yang mereka jalani untuk meraih gelar Piala Dunia ketiga dalam sejarah. Pada laga final, Selecao tampil dominan dan menghancurkan Italia dengan skor 4-1.
Skuad Brasil saat itu dipenuhi pemain-pemain legendaris. Pele, Jairzinho, Tostao, Rivelino, dan Carlos Alberto membentuk lini serang yang begitu cair, kreatif, dan sulit dihentikan. Pergerakan mereka yang dinamis serta kemampuan teknik luar biasa membuat setiap lawan kewalahan.
Pelé juga mencatat sejarah sebagai pemain pertama yang berhasil menjuarai Piala Dunia sebanyak tiga kali. Sementara itu, gol Carlos Alberto di partai final hingga kini masih dikenang sebagai salah satu gol terbaik dan paling ikonis dalam sejarah sepak bola.
Banyak pihak menilai Brasil 1970 sebagai representasi sempurna dari "jogo bonito" atau sepak bola indah, sekaligus tim nasional terbaik yang pernah menghiasi panggung dunia.
Prestasi Brasil (1970):
- Juara Piala Dunia FIFA: 1 gelar (1970)
2. Barcelona: 2008-2012
Di bawah arahan Pep Guardiola, Barcelona melahirkan gaya bermain tiki-taka yang memadukan pressing tanpa henti, umpan-umpan pendek, dan penguasaan posisi yang luar biasa. Permainan mereka bukan sekadar mendominasi lawan, tetapi juga merevolusi sepak bola modern hingga menjadi standar yang masih dijadikan acuan sampai sekarang.
Karena itulah, cukup mengejutkan ketika tim ini hanya menempati peringkat kedua dalam daftar tim sepak bola terbaik sepanjang masa berdasarkan hasil pemungutan suara.
Pada periode tersebut, Los Cules sukses meraih tiga gelar La Liga, dua trofi Liga Champions (2009 dan 2011), dua Copa del Rey, serta dua gelar Piala Dunia Antarklub FIFA.
Kesuksesan Barcelona dibangun di atas fondasi generasi emas. Lionel Messi tampil dalam performa terbaik sepanjang kariernya, didukung oleh duet maestro lini tengah Xavi dan Andrés Iniesta, serta sederet pemain kelas dunia lainnya.
Salah satu penampilan paling ikonis mereka terjadi pada final Liga Champions 2011, ketika Barcelona mengalahkan Manchester United. Laga tersebut hingga kini masih dianggap sebagai salah satu penampilan tim paling sempurna dalam sejarah sepak bola sekaligus menjadi puncak kejayaan skuad legendaris racikan Guardiola.
Prestasi Barcelona (2008-2012)
- La Liga: 3 gelar
- Copa del Rey: 2 gelar
- Supercopa de España: 3 gelar
- Liga Champions: 2 gelar
- Piala Super UEFA: 2 gela
- rPiala Dunia Antarklub FIFA: 2 gelar
1. Manchester United: 1998-1999
Treble yang diraih Manchester City pada 2022/2023 memang luar biasa. Namun, banyak yang menilai pencapaian Manchester United pada musim 1998/1999 lebih istimewa karena mereka menjadi tim Inggris pertama yang berhasil meraih prestasi tersebut dan harus melewati tantangan yang jauh lebih berat.
Meski Setan Merah sudah menjadi kekuatan dominan di Inggris sepanjang dekade 1990-an, persaingan di kasta tertinggi sepak bola Inggris saat itu dinilai lebih sengit dibanding ketika Manchester City menjuarai treble pada 2023. Selain itu, kualitas kompetisi Eropa juga jauh lebih kompetitif.
Pada masa itu, Premier League belum menjadi liga terkuat di dunia seperti sekarang. La Liga, Serie A, dan Bundesliga justru dianggap memiliki kualitas yang lebih tinggi.
Perjalanan Manchester United menuju gelar Liga Champions 1998/1999 juga penuh rintangan. Tim asuhan Sir Alex Ferguson harus bersaing dengan Barcelona di fase grup, kemudian menyingkirkan Inter Milan dan Juventus di babak gugur, sebelum menghadapi Bayern Munchen, yang juga menjadi lawan mereka di fase grup, pada laga final.
Final melawan Bayern menjadi salah satu pertandingan paling dramatis dalam sejarah sepak bola. Manchester United membalikkan keadaan lewat dua gol pada injury time untuk menang 2-1 dan memastikan gelar Liga Champions sekaligus menyempurnakan raihan treble.
Mental pantang menyerah dan kemampuan bangkit di saat-saat krusial membuat tim Manchester United musim 1998/1999 dikenang sebagai salah satu yang terbaik sepanjang masa. Bahkan, berdasarkan hasil pemungutan suara para penggemar, skuad tersebut dinobatkan sebagai tim sepak bola terbaik sepanjang sejarah.
Prestasi Manchester United (1998/1999)
- Premier League
- Piala FA (FA Cup)
- Liga Champions (European Cup)
Sumber: Give Me Sport