AFC dan Concacaf Semprot FIFA, Tak Pernah Diajak Berdiskusi soal Rencana Kontrovesial Gianni Infantino

Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dan Concacaf secara terbuka mengkritik keras rencana FIFA untuk memisahkan bisnis komersialnya ke dalam entitas baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE).

BolaCom | Yus Mei SawitriDiterbitkan 30 Juli 2026, 15:30 WIB
Ilustrasi FIFA. (AFP/Sebastien Bozon)

Bola.com, Jakarta - Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dan Concacaf (Amerika Utara, Tengah, dan Karibia) secara terbuka mengkritik keras rencana FIFA untuk memisahkan bisnis komersialnya ke dalam entitas baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE).

Kedua konfederasi mengaku tidak pernah diajak berdiskusi atau dimintai pendapat sebelum FIFA mengumumkan proposal yang dinilai sebagai salah satu perubahan tata kelola dan finansial terbesar dalam sejarah sepak bola dunia.

Advertisement

AFC mengaku kecewa karena FIFA telah mengumumkan rencana pembentukan FFE kepada publik sebelum konfederasi diberikan wewenang untuk meneliti proposal tersebut lewat saluran tata kelola yang telah ditetapkan.

Concacaf justru baru mengetahui kabar ini melalui laporan media, lalu disusul siaran resmi FIFA. 

"Kami Baru mengetahui masalah ini melalui laporan media dan selanjutnya melalui siaran pers. Kami sangat prihatin dengab kurangnya proses yang semestinya" pernyataan Concacaf seperti dilansir dari Indsideworldfootball pada Kamis (30/7/2026).

 

 


Presiden AFC dan Concacaf Mengaku Tak Tahu

Presiden AFC, Shaikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa, dijadwalkan mengunjungi Indonesia untuk kunjungan resmi AFC. (Bola.com/AFC)

Situasi ini menjadi sorotan karena Presiden AFC, Shaikh Salman, dan Presiden Concacaf, Victor Montagliani, merupakan Wakil Presiden FIFA kedua dan ketiga.

Keduanya disebut sama sekali tidak mengetahui rencana Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk memisahkan hak-hak komersial FIFA, meski selama ini dikenal sebagai pendukung Infantino, termasuk menjelang pemilihan kembali Presiden FIFA pada Maret tahun depan.

Dalam pengumuman resminya, FIFA menjelaskan bahwa administrasi organisasi tengah mengkaji konsep penyatuan seluruh hak komersial FIFA, mulai dari hak siar, sponsor, penjualan tiket, hingga lisensi, dengan operasional penyelenggaraan turnamen melalui pembentukan FIFA Forward Enterprise.

"Sesuai dengan mandatnya, administrasi FIFA sedang menjajaki konsep menyatukan hak komersial FIFA (yang meliputi penyiaran, sponsor, penjualan tiket, dan perizinan), dengan penyelenggaraan operasional turnamen FIFA melalui pembentukan FIFA Forward Enterprise,” tulis pernyataan FIFA.

 


Dinilai Langgar Prinsip Tata Kelola

Namun, AFC mempertanyakan proses di balik lahirnya proposal tersebut. Menurut mereka, langkah sebesar itu seharusnya dibangun di atas prinsip tata kelola yang baik, transparansi, serta konsultasi yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

"AFC memahami pentingnya mencari pendekatan baru untuk memperkuat masa depan sepak bola dunia. Namun, inisiatif sebesar ini harus didasarkan pada prinsip tata kelola yang baik, transparansi, dan konsultasi yang bermakna," bunyi pernyataan AFC.

AFC menambahkan proposal yang berpotensi mengubah masa depan bisnis sepak bola dunia semestinya dibahas terlebih dahulu secara menyeluruh bersama konfederasi, asosiasi anggota, dan seluruh pihak terkait sebelum diajukan untuk mendapat persetujuan.

 

 


Kritik Serupa dari Concacaf

"Kami berbagi kekecewaan dengan banyak pihak di kawasan kami dan komunitas sepak bola karena rincian proposal ini sudah dipublikasikan sebelum dibahas dengan badan tata kelola maupun para pemangku kepentingan yang relevan," tulis Concacaf.

AFC juga meminta FIFA memberikan informasi yang lengkap beserta waktu yang cukup agar seluruh pihak dapat menilai proposal tersebut, termasuk dari aspek tata kelola, hukum, komersial, hingga dampak strategisnya.

Meski demikian, FIFA justru disebut telah menetapkan tenggat waktu hingga 19 September bagi seluruh federasi anggota untuk menyetujui rencana tersebut.

Federasi yang menyetujui proposal FFE dijanjikan tambahan dana hibah sebesar 12 juta dolar AS, sedangkan federasi yang menolak akan tetap menerima pendanaan seperti sebelumnya.

Yang menjadi persoalan, ultimatum itu diberikan sebelum proposal secara resmi diajukan kepada Dewan FIFA maupun Kongres FIFA, yang seharusnya menjadi forum pengambilan keputusan melalui persetujuan mayoritas asosiasi anggota.

Sumber: Inside World Football

Penulis: Arif Anggara Putra

 

Berita Terkait