Kesalahan Fatal 4 Mantan Manajer MU yang Wajib Dihindari Michael Carrick, Termasuk Transfer Ngawur ala Erik Ten Hag

Selain melanjutkan tren positif Manchester United, Carrick juga diwanti-wanti untuk tidak mengulangi kesalahan empat pendahulunya.

BolaCom | Yus Mei SawitriDiterbitkan 03 Agustus 2026, 15:00 WIB
Ilustrasi Manchester United, Michael Carrick. (Foto by AI)

Bola.com, Jakarta - Michael Carrick akan memulai kiprahnya sebagai manajer permanen Manchester United pada musim 2026/2027. Banyak yang meragukan kinerja Carrick karena sebelumnya banyak manajer lain yang gagal total di Old Trafford. 

Sejak Sir Alex Ferguson pensiun pada 2013, MU paceklik gelar Liga Inggris sampai sekarang. Tak heran, fans MU banyak berharap Carrick bisa mengakhiri puasa gelar itu. 

Advertisement

Legenda lini tengah Setan Merah itu langsung memberikan dampak besar di awal kepemimpinannya. Carrick membuka masa kepelatihannya dengan kemenangan penting atas rival kuat seperti Manchester City dan Arsenal.

Performa impresif tersebut membuat petinggi klub yakin bahwa Carrick adalah sosok yang tepat untuk memimpin Manchester United dalam jangka panjang, terlebih setelah ia berhasil mengamankan tiket Liga Champions musim depan.

Selain melanjutkan tren positif Setan Merah, Carrick juga diwanti-wanti untuk tidak mengulangi kesalahan empat pendahulunya.  


1. Berjudi di Bursa Transfer Besar seperti Erik Ten Hag

Reaksi kecewa pelatih Manchester United, Erik ten Hag saat menghadapi Bournemouth pada laga pekan ke-33 Premier League 2023/2024 di Vitality Stadium, Bournemouth, Sabtu (13/4/2024). (AFP/Adrian Dennis)

Erik ten Hag membuat sejumlah keputusan transfer besar saat menangani Manchester United, namun banyak di antaranya justru berujung gagal. Transfer Antony dengan nilai lebih dari 80 juta poundsterling menjadi salah satu pembelian paling mengecewakan dalam sejarah Premier League.

Tak hanya itu, Ten Hag juga melepas David de Gea dan menggantikannya dengan Andre Onana. Namun, kiper asal Kamerun tersebut justru beberapa kali melakukan kesalahan fatal dan akhirnya juga meninggalkan klub.

Saat membutuhkan striker tajam, Ten Hag memilih merekrut Rasmus Hojlund yang masih dianggap proyek jangka panjang. Sayangnya, keputusan itu tidak memberi dampak instan bagi MU, bahkan penyerang asal Denmark tersebut kini disebut-sebut berpeluang hengkang dari Old Trafford. 


2. Terlalu Keras Kepala seperti Ruben Amorim

Pelatih Manchester United, Ruben Amorim. (AP Photo/Ian Hodgson)

Ruben Amorim datang ke Manchester United dengan membawa sistem 3-4-3 yang sukses besar saat menangani Sporting CP. Namun, skema tersebut membutuhkan pemain dengan karakteristik khusus yang tidak dimiliki skuad United saat itu.

Meski performa tim terus menurun, Amorim tetap bersikeras mempertahankan filosofinya. Ia bahkan pernah menyatakan lebih memilih dipecat daripada harus mengubah gaya bermain yang diyakininya.

Sikap terlalu keras kepala itulah yang akhirnya dianggap menjadi salah satu penyebab utama kegagalannya di Old Trafford. Sistem yang tidak berjalan efektif terus dipaksakan hingga akhirnya kariernya di Manchester berakhir lebih cepat.


3. Gagal Membangun Identitas Permainan seperti Ole Gunnar Solskjaer

Karakter Ole Gunnar Solskjaer yang dikenal dekat dengan pemain menjadi pertimbangan utama dirinya masuk dalam radar pelatih pengganti Thomas Tuchel di Bayern Munchen. Ia diharapkan mampu menjalin hubungan baik dengan para pemain Bayern Munchen. Selain itu, ia juga memiliki hubungan yang dekat dengan Direktur Olahraga Bayern Munchen saat ini, Christoph Freund. (AFP/Ian Kington)

Ole Gunnar Solskjaer sempat membawa harapan baru bagi Manchester United, tetapi dinilai gagal membangun identitas permainan yang jelas selama hampir tiga tahun menangani tim.

Banyak pihak menilai MU di bawah Solskjaer tidak memiliki gaya bermain yang konsisten. Tim lebih sering mengandalkan serangan balik dan kesulitan menghadapi lawan yang bermain bertahan atau menguasai permainan.

Meski dikenal dengan sejumlah comeback dramatis, performa seperti itu dianggap tidak sehat untuk jangka panjang. Ketika hasil buruk mulai datang, permainan United langsung kehilangan arah dan situasi pun memburuk dengan cepat. 


4. Terlalu Sering Konflik Internal seperti Mourinho

Hubungan manajer Manchester United, Jose Mourinho, dan Paul Pogba dikabarkan mulai renggang. (AFP/Ian Kington)

Jose Mourinho dikenal sebagai sosok berkarakter kuat dan penuh konfrontasi, namun pendekatan itu justru menjadi salah satu masalahnya saat menangani Manchester United.

Mourinho beberapa kali terlibat konflik dengan pemainnya sendiri, termasuk Luke Shaw dan Paul Pogba. Perselisihannya dengan Pogba bahkan sempat terekam kamera sebelum sesi latihan dan menjadi sorotan besar media.

Selain itu, komentarnya soal “football heritage” setelah kekalahan di kompetisi Eropa juga menuai kontroversi. Pernyataan tersebut dinilai meremehkan sejarah besar United di Liga Champions dan membuat hubungan Mourinho dengan fans, pemain, hingga petinggi klub semakin renggang.

Sumber: Mirror  

Berita Terkait