Gianni Infantino Gelar Rapat Darurat FIFA di Tengah Krisis Kepercayaan

Langkah tersebut diambil di tengah meningkatnya tekanan terhadap kepemimpinannya setelah kontroversi rencana pembentukan perusahaan komersial baru FIFA.

BolaCom | Benediktus Gerendo PradigdoDiterbitkan 05 Agustus 2026, 10:45 WIB
Presiden FIFA, Gianni Infantino. (Bola.com/Dok.FIFA).

Bola.com, Jakarta - Presiden FIFA, Gianni Infantino, akan menggelar rapat darurat bersama jajaran petinggi organisasi di Rabat, Maroko, pada Rabu (5/8/2026) waktu setempat.

Langkah tersebut diambil di tengah meningkatnya tekanan terhadap kepemimpinannya setelah kontroversi rencana pembentukan perusahaan komersial baru FIFA.

Advertisement

Situasi makin memanas setelah Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA, Arsene Wenger, secara terbuka mendukung pembatalan proyek tersebut dan menegaskan pentingnya menjaga independensi FIFA.


Rencana FIFA Forward Enterprise Picu Penolakan Besar

Logo FIFA terlihat di dalam stadion setelah pertandingan Final Piala Dunia Antarklub 2025 antara Chelsea dan Paris Saint-Germain di Stadion MetLife pada 13 Juli 2025 di East Rutherford, New Jersey. (Luke Hales/Getty Images via AFP)

Kontroversi bermula dari rencana pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah perusahaan yang akan mengelola aspek komersial dan operasional berbagai turnamen FIFA, termasuk Piala Dunia.

Bagian yang paling menuai kritik adalah usulan menjual 20 persen saham FFE kepada investor swasta. Rencana tersebut langsung mendapat penolakan keras dari sejumlah konfederasi besar, termasuk UEFA, CONCACAF, dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).

Bahkan, UEFA sempat mengancam akan memboikot seluruh kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia, jika proyek tersebut tetap dijalankan. Tekanan tersebut akhirnya membuat FIFA membatalkan proyek FFE pada akhir pekan lalu.


Arsene Wenger Pecah Kebisuan

Arsene Wenger, Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA, berbicara selama diskusi panel di The John F. Kennedy Center for Performing Arts pada 4 Desember 2025 di Washington, DC. (Dan Mullan/Getty Images via AFP)

Arsene Wenger, yang sebelumnya dikritik karena memilih diam, akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi. Mantan pelatih Arsenal itu menegaskan dirinya tidak terlibat dalam rencana investasi swasta itu dan mendukung penuh keputusan FIFA untuk membatalkannya.

"Saya tidak terlibat dalam rencana tersebut. Keputusan untuk menarik proyek itu benar-benar diperlukan dan tidak perlu diperdebatkan lagi," ujar Wenger.

Ia juga menambahkan FIFA harus tetap menjadi organisasi yang independen dan bekerja untuk kepentingan sepak bola dunia dengan mengedepankan komitmen, transparansi, dan integritas.


Tekanan terhadap Infantino Makin Besar

Gianni Infantino, Presiden FIFA, melambaikan tangan kepada penonton sebelum pertandingan babak 16 besar Piala Dunia Antarklub 2025 antara CR Flamengo dan FC Bayern München di Hard Rock Stadium pada 29 Juni 2025 di Miami Gardens, Florida. (Michael Reaves/Getty Images via AFP)

Meski proyek FFE telah dibatalkan, tekanan terhadap Gianni Infantino belum mereda. UEFA menyatakan telah kehilangan kepercayaan terhadap Presiden FIFA itu. Beberapa asosiasi anggotanya, termasuk Inggris dan Wales, dikabarkan menarik dukungan kepada Infantino.

Sementara itu, sejumlah anggota Dewan FIFA disebut sedang berupaya mengumpulkan dukungan mayoritas untuk meminta pertemuan resmi guna mempertanggungjawabkan kebijakan Infantino, termasuk penanganan dalam kasus Folarin Balogun.

Apabila permintaan tersebut ditolak, sejumlah anggota dewan dikabarkan mempertimbangkan langkah "boikot tata kelola" yang berpotensi menghambat operasional FIFA.

Di internal organisasi, Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstrom, juga mengirimkan surat elektronik kepada seluruh staf. Ia mengakui para pegawai telah berada di tengah situasi yang sulit dipahami setelah berbagai polemik yang terjadi dalam sepekan terakhir.


Dukungan Terbelah, Ancaman Hukum Mengintai FIFA

Masa depan Gianni Infantino kini bergantung pada dukungan berbagai konfederasi. Afrika, Amerika Selatan, dan Oseania diperkirakan masih berada di belakang sang presiden. Namun, suara dari negara Asia diyakini akan menjadi penentu.

Beberapa federasi seperti Qatar, Uni Emirat Arab, Sri Lanka, dan Lebanon tetap memberikan dukungan kepada Gianni Infantino.

Sebaliknya, Presiden Federasi Sepak Bola Yordania, Pangeran Ali bin Al Hussein, melontarkan tuduhan serius dengan menyebut FIFA melakukan "pemerasan".

Melalui unggahan di media sosial X, Pangeran Ali mengklaim FIFA menjanjikan pencairan dana yang menjadi hak federasi jika ia memberikan suara kepada Infantino. Hingga kini, FIFA belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan tersebut.

Sementara di sisi lain, UEFA juga tengah mempertimbangkan langkah hukum terkait proyek FFE.

Organisasi sepak bola Eropa itu bahkan telah meminta Infantino dan sejumlah pejabat FIFA untuk mengamankan seluruh dokumen yang berkaitan dengan proyek tersebut sebagai bagian dari kemungkinan proses hukum di masa mendatang.

Sumber: BreakingNews

Berita Terkait