Gianni Infantino Minta Maaf atas Rencana Penjualan Piala Dunia: Janji Evaluasi Total FIFA

Permintaan maaf itu disampaikan Gianni Infantino dalam surat resmi yang ditandatangani bersama Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstrom, setelah digelarnya rapat darurat di Rabat, Maroko.

BolaCom | Benediktus Gerendo PradigdoDiterbitkan 06 Agustus 2026, 10:00 WIB
(Kiri/Kanan) Presiden Argentina, Javier Milei, dan Presiden FIFA, Gianni Infantino, menghadiri pertemuan perdana "Board of Peace" yang diselenggarakan oleh Presiden AS, Donald Trump, di Institute of Peace AS di Washington, DC, pada 19 Februari 2026. (SAUL LOEB/AFP)

Bola.com, Jakarta - Presiden FIFA, Gianni Infantino, akhirnya menyampaikan permintaan maaf terbuka menyusul polemik rencana penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia melalui pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE).

Permintaan maaf itu disampaikan Gianni Infantino dalam surat resmi yang ditandatangani bersama Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstrom, setelah digelarnya rapat darurat di Rabat, Maroko.

Advertisement

Surat itu menjadi pernyataan publik pertama Infantino sejak rencana kontroversial itu diumumkan dan kemudian dibatalkan setelah mendapat gelombang penolakan dari berbagai konfederasi sepak bola dunia.

 
 

Infantino Akui Ada Kesalahan dalam Proses

Presiden FIFA, Gianni Infantino. (Bola.com/Dok.FIFA).

Dalam surat resminya, Infantino mengakui FIFA melakukan sejumlah kesalahan, terutama setelah dokumen mengenai proposal tersebut bocor ke media.

"Kami mengakui kesalahan juga terjadi setelah proposal tersebut bocor ke media. Kami dengan tulus meminta maaf atas kesalahan itu dan berkomitmen agar hal seperti ini tidak terjadi lagi," demikian isi surat tersebut.

FIFA juga memastikan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses pengambilan keputusan terkait proposal itu.

Hasil evaluasi nantinya akan dipresentasikan dalam pertemuan Dewan FIFA berikutnya sebagai bahan perbaikan tata kelola organisasi.


Rencana Penjualan Piala Dunia Picu Krisis

Gianni Infantino, Presiden FIFA, melambaikan tangan kepada penonton sebelum pertandingan babak 16 besar Piala Dunia Antarklub 2025 antara CR Flamengo dan FC Bayern München di Hard Rock Stadium pada 29 Juni 2025 di Miami Gardens, Florida. (Michael Reaves/Getty Images via AFP)

Kontroversi bermula ketika FIFA mengusulkan pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah perusahaan yang akan mengelola aspek komersial dan operasional turnamen FIFA, termasuk rencana menjual 20 persen saham kepada investor swasta.

Usulan tersebut langsung memicu penolakan keras dari sejumlah konfederasi, termasuk UEFA, CONCACAF, dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).

UEFA bahkan sempat mengancam akan memboikot seluruh kompetisi FIFA apabila proyek tersebut tetap dijalankan.

Tekanan yang semakin besar akhirnya membuat FIFA membatalkan rencana tersebut, tetapi dampaknya terus bergulir dan memicu krisis kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino.


FIFA Tetap Beri Dukungan kepada Infantino

Momen itu juga disaksikan Presiden FIFA Gianni Infantino yang turut hadir di pertandingan Iran vs Kosta Rika. (AP Photo/Riza Ozel)

Meski mendapat desakan mundur dari berbagai pihak, surat yang diterbitkan usai rapat darurat di Rabat justru menegaskan dukungan penuh terhadap Gianni Infantino.

Mattias Grafstrom bersama Dewan Manajemen FIFA menyatakan tetap berada di belakang sang presiden dan berharap organisasi dapat memulihkan kepercayaan publik.

FIFA juga menegaskan pembatalan proyek tersebut menjadi akhir dari polemik dan organisasi tidak akan mentoleransi serangan terhadap integritas lembaga.

Dalam surat itu, FIFA turut menegaskan proposal FFE tidak melanggar aturan yang berlaku, sekaligus membantah adanya tindakan yang dianggap menyalahi regulasi organisasi.


Masa Depan Infantino Masih Jadi Sorotan

Presiden FIFA, Gianni Infantino, berbicara selama resepsi FIFA di Trump Tower di New York pada 17 Juli 2026. (Mandel NGAN/AFP)

Walaupun masih memperoleh dukungan dari jajaran pimpinan FIFA, posisi Gianni Infantino belum sepenuhnya aman. UEFA dan CONCACAF tetap menjadi dua konfederasi yang paling vokal meminta pergantian kepemimpinan di tubuh FIFA.

Sesuai mekanisme organisasi, sedikitnya 106 asosiasi anggota harus mendukung mosi untuk memberhentikan presiden FIFA.

Hingga saat ini jumlah tersebut belum terpenuhi, namun dinamika politik di sepak bola internasional diperkirakan masih akan terus berkembang dalam beberapa pekan ke depan.

Permintaan maaf Infantino diharapkan menjadi langkah awal meredakan krisis yang muncul, sekaligus mengembalikan fokus FIFA pada pengembangan sepak bola global setelah polemik yang mengguncang organisasi tersebut.

Sumber: Daily Star

Berita Terkait