Ruben Amorim Sentil Skuad Milan di Ruang Ganti, Torino Akhirnya Ditaklukkan

Ruben Amorim minta skuad Milan tak cuma menunggu, Torino akhirnya jadi korban.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 24 Agustus 2026, 07:45 WIB
Pelatih AC Milan asal Portugal, Ruben Amorim, memberikan isyarat dari pinggir lapangan dalam pertandingan Serie A Italia antara Torino FC dan AC Milan di Stadion Olimpiade Grande Torino di Turin, Italia utara, pada 24 Agustus 2026. (Marco Bertorello/AFP)

Bola.com, Jakarta - AC Milan harus menunggu hingga babak kedua untuk menemukan momentum saat menghadapi Torino pada laga pembuka Serie A, Senin (2408-2026) dini hari WIB.

Setelah tampil kurang agresif pada paruh pertama, Milan akhirnya bangkit dan meraih kemenangan 2-1 berkat gol Alphadjo Cisse dan Adrien Rabiot.

Advertisement

Pelatih Milan, Ruben Amorim, mengungkapkan pesan yang disampaikannya kepada para pemain saat jeda pertandingan.

Ia menilai para pemain terlalu fokus menjaga agar pertandingan tidak lepas dari kendali, bukan bermain dengan agresivitas yang dibutuhkan untuk meraih kemenangan.

"Pada babak pertama, perhatian para pemain saya adalah mengontrol pertandingan, tidak kalah, dan tidak kehilangan bola saat transisi. Namun, kami kurang agresif di sepertiga akhir lapangan. Kami membicarakan hal itu di ruang ganti dan mereka memahami bahwa cara seperti itu bukanlah bagaimana Anda memenangkan pertandingan," ujar Amorim kepada DAZN Italia.


Pujian buat Cisse

Gelandang Italia AC Milan bernomor punggung 70, Alphadjo Cisse (kiri), berebut bola dengan bek Norwegia Torino bernomor punggung 16, Marcus Pedersen (kanan), dalam pertandingan Serie A Italia antara Torino FC dan AC Milan di Stadion Olimpiade Grande Torino di Turin, Italia utara, pada 24 Agustus 2026. (Marco Bertorello/AFP)

Amorim meminta skuadnya meningkatkan tempo setelah turun minum. Perubahan tersebut mulai terlihat dalam 20 menit pertama babak kedua.

"Kami tidak boleh hanya bermain imbang atau menunggu pertandingan berjalan. Kami harus melakukan itu untuk memenangkan pertandingan. Kami meningkatkan tempo dalam 20 menit pertama babak kedua, karena sekali lagi, saat ini kami masih kekurangan kekuatan fisik," lanjutnya.

Milan akhirnya membuka keunggulan melalui Cisse. Pemain berusia 19 tahun itu mencetak gol Serie A pertamanya setelah Rabiot masuk ke lapangan. Rabiot kemudian mencetak gol kedua Milan beberapa saat berselang.

Amorim memberikan pujian khusus kepada Cisse, yang sebelumnya juga disebutnya sebagai pemain yang sangat ia sukai. Menurutnya, bukan hanya gol yang membuat penampilan Cisse layak mendapat apresiasi.

"Tetapi, juga kualitas yang ditunjukkan Cisse sepanjang pertandingan. Pada babak pertama, dia bermain seperti pemain paling berpengalaman di tim kami, terutama dalam cara membawa pertandingan ke depan," kata Amorim.


Dua Wajah Milan

Gelandang AC Milan asal Prancis bernomor punggung 12, Adrien Rabiot, merayakan gol kedua timnya bersama bek AC Milan asal Serbia bernomor punggung 31, Strahinja Pavlovic, dalam pertandingan Serie A Italia antara Torino FC dan AC Milan di Stadion Olimpiade Grande Torino di Turin, Italia utara, pada 24 Agustus 2026. (Marco Bertorello/AFP)

Amorim menilai Milan tampil dalam dua bentuk berbeda sepanjang laga.

"Saya pikir kami melihat satu tim selama 75 menit pertama, kemudian tim yang berbeda di akhir pertandingan karena kami kesulitan secara fisik. Untuk melakukan pressing seperti yang kami inginkan selama 90 menit, kami membutuhkan lebih banyak pertandingan pramusim," ujarnya.

Milan memang harus bertahan menghadapi tekanan Torino setelah Che Adams memperkecil ketertinggalan pada masa injury time. Namun, gol tersebut datang terlambat sehingga Milan tetap membawa pulang tiga poin.

Amorim mengaku senang melihat Milan menunjukkan karakter sebagai sebuah tim pada menit-menit akhir. Menurutnya, para pemain tetap bekerja bersama, meski berada dalam kondisi lelah.

"Saya sudah begitu sering merayakan gol-gol Milan, dan sekarang saya menjadi pelatihnya. Karena itu, saya ingin staf saya juga bisa merasakan gairah yang sama setiap kali Milan mencetak gol," tutur Amorim.

"Saya pikir kami menunjukkan cara bermain yang lebih mirip dengan yang biasa kami lakukan. Namun, kami membutuhkan waktu untuk membuat tim ini bermain dengan cara yang berbeda. Pada menit-menit akhir, kami bekerja sebagai tim, menderita bersama dan bertahan. Kami lelah, tetapi kami adalah sebuah tim. Itu perasaan yang sangat bagus," ungkap mantan pelatih Manchester United itu.


Kelebihan dan Kekurangan

Amorim kemudian ditanya mengenai hal yang paling membuatnya puas dan aspek yang masih perlu diperbaiki.

"Yang paling penting adalah menang. Kami berbicara tentang cara bermain, tetapi ada satu tujuan dalam sepak bola, yaitu menang. Itu belum cukup dan tidak boleh cukup bagi Milan. Namun, kami menunjukkan sebagian dari apa yang kami kerjakan dalam latihan dan pramusim, bahkan di bawah tekanan. Itu perasaan yang bagus," kata Amorim.

Sementara untuk aspek yang masih harus dibenagi, termasuk cara menyerang kotak penalti dan bertahan di area sendiri.

"Kami masih harus memperbaiki cara menyerang kotak penalti, bertahan di kotak penalti sendiri, dan menghadapi situasi sulit saat menguasai bola. Saya senang karena hari ini kami menang. Sementara kekurangan yang masih ada akan menjadi perhatian kami selanjutnya," ujar Amorim.

 

Sumber: Football Italia

Berita Terkait