Bola.com, Jakarta - Ketika Timnas Indonesia bertanding, semua perhatian selalu tertuju kepada skor akhir, proses gol maupun taktik. Namun, satu hal yang jarang diketahui. Ada proses panjang yang berlangsung selama berbulan-bulan.
Perjalanan yang tak nampak di layar televisi itu adalah tentang memastikan kondisi fisik para pemain.
Bagaimana tubuh merespons latihan yang dipersiapkan untuk menghadapi lawan dengan karakter permainan yang berbeda.
Bagi Sofie Imam Faizal, perjalanan menjadi pelatih fisik Timnas Indonesia U-17 pada periode 2024–2025 menjadi pengalaman yang sangat berharga.
Ia mengungkapkan periode tersebut menjadi perjalanan belajar dan pembuktian bahwa pembinaan pemain muda harus dilakukan secara sistematis.
Sebagai pelatih fisik, ia menilai pekerjaannya bukan sekadar membuat pemain bisa berlari lebih cepat atau memiliki fisik yang lebih kekar. Tantangan yang dihadapinya jauh lebih besar daripada hal-hal tersebut.
Pada usia belia, para pemain masih berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Jadi, setiap menyusun program latihan, ia harus mempertimbangkan respons tubuh masing-masing individu.
"Sebagai pelatih fisik, tantangannya jauh lebih besar. Ini tentang bagaimana meningkatkan kapasitas aerobik dan anaerobik, menjaga atau meningkatkan massa otot, mengontrol persentase lemak tubuh, memastikan pemain tetap sehat dan juga mampu mencapai performa terbaik pada saat yang tepat," ungkap Sofie.
Dari Akademi ke Tim Nasional
Sebelum mendapat kesempatan bekerja untuk Timnas U-17, Sofie menceritakan pengalamannya melatih Sabah FC di Liga Super Malaysia dan Persis Solo Youth Academy.
Di sana, ia mendapatkan banyak pelajaran berharga tentang bagaimana sistem pembinaan fisik harus dibangun.
Sebagai seorang head performance, ia belajar bahwa seorang pemain tidak bisa hanya dinilai dari satu penilaian saja, melainkan harus dilihat secara keseluruhan.
Mulai dari perkembangan kondisi tubuh, massa otot, hingga persentase lemak.
"Saya belajar bahwa pemain muda tidak bisa hanya dinilai dari satu angka atau satu kali tes. Kita perlu melihat prosesnya," tegas Sofie.
Perjalanan Panjang Menuju Pentas Dunia
Perjalanan menuju pentas dunia tidak terjadi dalam satu malam. Garuda Asia harus memulai perjalanan panjang mulai dari ASEAN U-16 Championship, Kualifikasi AFC U-17 di Kuwait, Piala Asia U-17, hingga akhirnya mendapatkan tiket menuju Piala Dunia U-17 Qatar.
Sofie menyampaikan bahwa setiap fase memiliki tuntutan yang berbeda. Bagi seseorang yang berada di tim performance, setiap fase yang dilalui merupakan kesempatan untuk terus belajar.
"Kami tidak hanya melihat hasil pertandingan. Kami melihat bagaimana pemain merespons latihan dan kompetisi. Kami memonitor kondisi fisik, recovery, kapasitas aerobik, komposisi tubuh, serta berbagai indikator performa lainnya. Karena bagi pemain muda, proses adalah bagian dari hasil," jelasnya.
Selain itu, pertandingan uji coba internasional juga menjadi sarana untuk memberikan pengalaman menghadapi berbagai karakter lawan yang berbeda. Menurutnya, ada perlakuan berbeda yang dilakukan saat menghadapi lawan dari Asia, Eropa, Afrika, atau Amerika Selatan.
"Tujuannya sederhana: pemain jangan hanya terbiasa menghadapi satu jenis permainan. Mereka harus belajar beradaptasi. Karena di level dunia, kita tidak pernah tahu apa yang akan kita hadapi," tutur Sofie.
Mendengarkan Tubuh yang Bercerita
Selama perjalanan tersebut, komposisi tubuh dan VO2Max menjadi dua indikator utama yang terus diperhatikan secara saksama. Dia menegaskan bahwa angka-angka yang terlihat bukan sekadar angka yang tak berguna di atas kertas.
Melalui monitoring longitudinal, ia mendapatkan gambaran utuh tentang perubahan VO2Max selama enam bulan, termasuk implikasi yang akan terjadi. Hal ini penting untuk menilai kapasitas fisik pemain dalam menghadapi pertandingan berintensitas tinggi.
"Ketika persentase lemak tubuh berubah, ketika massa otot bertambah atau berkurang, ketika VO2Max meningkat atau mengalami penurunan, semuanya memberikan cerita tentang bagaimana tubuh pemain merespons proses latihan, pertandingan, recovery, dan nutrisi selama perjalanan kompetisi," jelasnya.
Kemenangan Pertama di Piala Dunia
Setelah persiapan yang cukup matang, tiba saatnya Putu Panji dan kawan-kawan menghadapi pentas dunia yang sesungguhnya. Semua harapan dan doa pecinta sepak bola dihaturkan untuk anak asuh Nova Arianto tersebut.
Perlawanan sengit langsung terjadi di laga pembuka saat menghadapi kekuatan Afrika, Zambia. Walau gol cepat Zahaby Gholy tak mampu menyelamatkan mereka dari kekalahan, setidaknya hal tersebut jadi modal berharga saat menghadapi Brasil di laga kedua.
Menghadapi salah satu tim tersukses di turnamen, Timnas U-17 sempat mengalami kemerosotan performa di babak pertama.
Namun, mereka berhasil bangkit selepas jeda dan memberikan perlawanan yang mengagumkan menghadapi Selecao Muda.
Laga pamungkas grup kontra Honduras menjadi pertandingan yang tak akan pernah dilupakan oleh seluruh tim.
Tanpa memikirkan kelolosan ke babak selanjutnya, mereka terus berjuang hingga meraih kemenangan perdana di pentas dunia.
"Kemenangan 2–1 atas Honduras menjadi salah satu momen yang tentu akan selalu dikenang. Namun, dari sisi pembinaan, setiap pertandingan memberikan sesuatu yang lebih besar dari sekadar hasil, yakni pengalaman, data, dan gambaran mengenai sejauh mana kapasitas fisik pemain Indonesia mampu memenuhi tuntutan pertandingan di level dunia," ungkapnya.
Membangun Standar Pemain Muda Indonesia
Pengalaman panjang tersebut kemudian dituangkan saat menempuh Program Doktor (S3) Ilmu Keolahragaan Universitas Sebelas Maret (UNS).
Sofie mengangkat perjalanan tersebut ke dalam penelitian longitudinal terkait perubahan komposisi tubuh dan VO2Max pemain Timnas U-17.
Pria asal Tulungagung itu memiliki harapan agar Indonesia tidak hanya memiliki pemain muda yang berbakat, tetapi juga sistem pembinaan yang mampu mengukur perkembangan mereka secara objektif melalui data, benchmark, sistem monitoring berkelanjutan, serta kesinambungan antara akademi, klub, dan Tim Nasional.
"Bagi saya, lapangan menjadi laboratoriumnya. Pertandingan menjadi stimulusnya. Data fisiologis menjadi alat untuk memahami proses adaptasinya. Jika kelak kita memiliki database fisiologis pemain muda Indonesia dari U-15 hingga U-20, maka proses talent development akan menjadi jauh lebih terukur," tutupnya.