Michel Platini Kecam Gianni Infantino, Sudah Saatnya Mundur dari FIFA

Michel Platini desak Gianni Infantino untuk segera mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden FIFA.

BolaCom | Farrel Mido DestianoDiterbitkan 31 Agustus 2026, 17:00 WIB
Momen itu juga disaksikan Presiden FIFA Gianni Infantino yang turut hadir di pertandingan Iran vs Kosta Rika. (AP Photo/Riza Ozel)

Bola.com, Jakarta - Legenda sepak bola Prancis sekaligus mantan Presiden UEFA, Michel Platini, melontarkan kritik keras dan mendesak Presiden FIFAGianni Infantino, untuk segera mengundurkan diri dari jabatannya.

Pernyataan pedas ini disampaikan Platini menyusul serangkaian skandal dan kontroversi yang terus menguncang badan pengatur sepak bola dunia tersebut dalam beberapa waktu terakhir.

Advertisement

Infantino, yang kini berusia 56 tahun, terus berada di bawah tekanan publik sepak bola global setelah meluncurkan rencana kontroversial untuk menarik investasi swasta ke dalam turnamen-turnamen resmi FIFA, termasuk Piala Dunia.

Langkah finansial tersebut menuai gelombang penolakan tajam karena dinilai berpotensi merusak integritas serta komersialisasi berlebihan dalam tradisi kompetisi sepak bola tertinggi di dunia.


Pelanggaran Aturan dan Kontroversi Piala Dunia

Chris Martin tampil sebagai penutup Halftime Show Piala Dunia 2026 (Credit: AP)

Selain masalah komersialisasi, kepemimpinan Infantino dihujani kecaman akibat berbagai kontroversi yang terjadi sepanjang gelaran Piala Dunia 2026 di Amerika Utara.

Platini menegaskan, masalah ekonomi hanyalah satu hal, tetapi kegagalan terbesar Infantino terletak pada perannya sebagai penjamin utama penegakan aturan permainan yang justru dilanggarnya sendiri demi kepentingan bisnis.

Satu di antara poin utama yang disoroti Platini dalam wawancaranya bersama Canal+ adalah durasi jeda minum atau hydration breaks yang membengkak hingga empat menit dan dimanfaatkan oleh pemegang hak siar untuk menayangkan iklan.

Tak hanya itu, pertunjukan jeda babak half-time show pada partai final juga berlangsung secara tidak wajar melampaui batas maksimal 15 menit yang diatur dalam regulasi resmi sepak bola.

Puncak kemarahan Platini dipicu oleh keputusan FIFA yang secara kontroversial menangguhkan hukuman kartu merah untuk penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun.


Ancaman Boikot UEFA dan Perlawanan Global

Pemain Amerika Serikat Folarin Balogun melakukan selebrasi aksi setelah mencetak gol pertama timnya selama pertandingan sepak bola babak 32 besar Piala Dunia antara Amerika Serikat dan Bosnia di Santa Clara, California, dekat San Francisco, Rabu, (01/07/2026). (AP Photo/Julio Cortez)

Keputusan pembatalan sanksi tersebut diambil secara mendadak tak lama setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melakukan panggilan telepon langsung kepada Infantino, sebuah intervensi politik yang dinilai sangat mencederai independensi olahraga.

"Sela iklan tidak ada dalam aturan, jeda waktu istirahat 30 menit di laga final tidak ada dalam aturan, dan pembatalan kartu merah itu adalah hal terburuk," tegas Platini.

Pria yang pernah menjadi atasan Infantino saat menjabat Sekjen UEFA tersebut menambahkan, seorang pemimpin yang tidak menghormati aturan dasar permainan sudah sepatutnya mundur dari posisinya.

Dampak dari manuver kepemimpinan Infantino kini memicu perlawanan sengit dari UEFA yang mengancam akan memboikot seluruh turnamen FIFA jika rencana proyek FIFA Forward Enterprises tetap dilanjutkan.

Badan sepak bola Eropa tersebut bahkan melayangkan tuduhan serius berupa dugaan "kelalaian manajemen kriminal" atau criminal mismanagement terkait skema pendanaan swasta yang dirancang oleh kepemimpinan Infantino saat ini.


Gugatan Hukum dan Pertarungan Jabatan

Mantan presiden UEFA, Michel Platini, tampak meninggalkan gedung pengadilan setelah putusan banding dari Kejaksaan Agung Swiss terhadap mantan presiden UEFA dan FIFA atas dugaan pembayaran palsu, di Muttenz dekat Basel, pada 25 Maret 2025. (Fabrice COFFRINI/AFP)

Tekanan terhadap Infantino yang berencana maju kembali dalam bursa pemilihan Presiden FIFA pada Maret 2027 kini tidak hanya datang dari Eropa, melainkan juga didukung oleh konfederasi Concacaf dan Asia.

Platini meyakini, lembaga olahraga semata tidak akan cukup untuk menumbangkan Infantino, melainkan harus ditempuh melalui jalur hukum dan peradilan atas dugaan kesalahannya selama ini.

Platini saat ini sedang menempuh jalur hukum di Prancis dengan menggugat Infantino bersama eks pejabat FIFA, Marco Villiger dan Domenico Scala, atas dugaan konspirasi kriminal dan tuduhan palsu yang menjegal pencalonannya pada 2015.

Kendati Platini telah dibebaskan sepenuhnya dari seluruh tuduhan finansial oleh pengadilan pada 2025, ia menilai Infantino telah memanfaatkan situasi tersebut untuk merebut kursi nomor satu FIFA secara tidak etis.

 

Sumber: RTL

Berita Terkait