Bola.com, Jakarta - Konon, cuma ada tiga institusi sakral di mata masyarakat Italia: agama Katolik, sepak bola, dan Ferrari—urutan prioritasnya bisa berbeda. Akhir pekan ini, 4-6 September, sudah pasti Ferrari yang jadi bahan obrolan para tifosi saat digelar GP Italia di Monza.
Musim ini, baru dua lomba yang titelnya disabet pembalap Ferrari: British Grand Prix oleh Charles Leclerc, dan Barcelona Grand Prix (Lewis Hamilton).
Namun, lantaran duo ini lumayan konsisten mengoleksi poin, total 9 podium finis, sejauh ini Tim Kuda Jingkrak berada di posisi kedua klasemen konstruktor di bawah Mercedes (425 poin) dengan poin sementara 338. Jika Ferrari bisa finish 1-2 di Monza, tentunya jarak kedua tim bakal lebih mepet. Pertanyaannya, apa bisa?
Well, tak ada yang tak mungkin di F1. Yang pasti, terdapat sejumlah faktor yang membuat tim Kuda Jingkrak (Prancing Horse) difavoritkan banyak pengamat. Berlomba di kendang sendiri—di hadapan ratusan ribu tifosi merah sepanjang akhir pekan bakal menambah motivasi.
Tapi, bukan itu faktor utama. Yang paling krusial adalah adanya sederet upgrade yang dilakukan tim ini. Pada race sebelumnya di Zandvoort, Ferrari memperkenalkan floor dan diffuser baru yang menambah laju sekitar 0.15 detik per lap. Jangan lupa, dua pekan lalu Hamilton dan Leclerc finis keempat dan kelima—Hamilton malah bisa saja naik podium (finish ketiga) andaikan tak ada simpang siur team order. Intinya, pace Ferrari sudah bagus.
Tim yang bermarkas di Maranello, Italia Utara, ini merancang dua setelan khusus untuk Monza. Yang pertama, mereka mengembangkan konfigurasi floor dengan hambatan rendah (low drag)—jadi bukan hanya mengandalkan pengurangan downforce pada rear-wing.
Ini cukup cerdas karena Ferrari berupaya mengurangi hambatan udara sembari tetap mempertahankan downforce dari floor agar dapat melintasi tikungan Lesmo, Ascari, dan Parabolica.
Yang kedua, dan ini barangkali yang paling penting: Ferrari meng-upgrade power unit mereka (jatah dari ADUO kedua). Dengan karakteristik super cepat—Monza dijuluki “The Temple of Speed”—suntikan performa ICE/Internal Combustion Engine tentunya bakal bikin mobil mereka makin melesat, terutama di trek-trek lurus.
Kutak-katik
Hasil kutak-katik Ferrari langsung membuahkan hasil di sesi FP1/free praktis pertama, Jumat (9/4) ini. Leclerc dan Hamilton menorehkan waktu lap tercepat: Leclerc 1:23.008 detik dengan ban medium, Hamilton +0.173 detik / medium, dan pembalap Mercedes, George Russel ketiga (+0.304 detik / soft) .
Di sesi praktis kedua, Leclerc finish kedua di bawah Russell, sedangkan Kimi Antonelli finish ketiga—semua mobil memakai ban soft alias paling kencang. Hasil FP1 dan FP2 tersebut sudah bisa menggambarkan bahwa Ferrari dan Tim Silver Arrow memiliki setelan paling yahud.
Cuma, dengan Kimi yang harus start dari belakang, akibat memakai mesin baru, Russel dituntuk untuk lebih lihai saat dikeroyok oleh Leclerc dan Hamilton.
Monza Tak Klop dengan McLaren?
Bagaimana dengan McLaren? Bukankah Lando Norris baru saja menang back to back di Hungary dan Zandvoort? Tentu kita tak bisa begitu saja mengesampingkan jawara 2025 yang baru saja menandatangi kontrak extension dengan tim Papaya tersebut.
Hanya, banyak pengamat yang bilang bahwa kemenangan Norris di dua balapan terakhir lebih condong karena setelan MCL40 yang memang lebih pas untuk dua sirkuit tersebut: floor, wakeboards/floor slots, lantas rear-corner aero di Hungaria, dan rear wing baru, alas mesin, dan revisi diffuser di Zandvoort. Upgrade tersebut membuat driver bisa lebih memprediksi bagian belakang mobil saat menikung, tanpa mengorbankan downforce kecepatan tinggi—hal-hal yang sangat disukai Norris.
Trek Lurus yang Panjang
Bukan rahasia lagi kalau MCL40, mobil yang dikendarai Norris dan Oscar Piastri memang handal di tikungan medium speed dan juga high speed—karakteristik utama sirkuit Hungary dan Zandvoort. Dengan kata lain, Norris dan setelan baru MCL40 memang cocok dengan dua race terakhir. Hungary dan Zandvoort adalah trek-trek high-downforce.
Monza, kebalikannya. Untuk menaklukan sirkuit ini dibutuhkan low drag, top speed, energy deployment, pengereman yang stabil dan traksi dari tikungan super tajam (chicanes). McLaren sendiri mengakui kondisi tersebut. Mereka bilang bahwa trek-trek lurus yang panjang di Monza, adanya heavy breaking dan tuntutan energi sama sekali berbeda dengan Hungaria dan Zandvoort.
So, akankah McLaren terseok-seok Minggu ini? Belum tentu. Mereka sudah menyiapkan jawaban atas problem di Monza: sayap belakang baru dengan low-drag (hambatan udara) rendah, serta H-Wing berputar dengan opsi tambahan low-drag aerodynamic.
Jadi, mari kita nikmati pagelaran jet-jet darat di Monza. Ferrari dan Mercedes sah-sah saja jadi favorit. Tapi, Norris dan McLaren tentu takkan tinggal diam. Forza!!