Mikel Arteta Belajar dari Kesalahan, Ethan Nwaneri Diyakini Bersinar di Borussia Dortmund

Arsenal meminjamkan Ethan Nwaneri ke Borussia Dortmund. Langkah itu dinilai jauh lebih tepat bagi perkembangan pemain muda Inggris itu dibandingkan masa peminjamannya bersama Marseille.

BolaCom | Benediktus Gerendo PradigdoDiterbitkan 09 September 2026, 09:00 WIB
Pelatih Borussia Dortmund, Niko Kovac, menyalami pemainnya, Ethan Nwaneri, setelah bertanding melawan TSG Hoffenheim di Sinsheim, Sabtu (5/9/2026). (THOMAS KIENZLE / AFP)

Bola.com, Jakarta - Mikel Arteta disebut telah belajar dari keputusan masa lalu setelah Arsenal meminjamkan Ethan Nwaneri ke Borussia Dortmund. Langkah itu dinilai jauh lebih tepat bagi perkembangan pemain muda Inggris itu dibandingkan masa peminjamannya bersama Marseille.

Pandangan tersebut disampaikan pakar sepak bola Eropa, Andy Brassell. Ia meyakini Nwaneri memiliki peluang besar untuk berkembang pesat di Jerman setelah sebelumnya menjalani periode yang kurang mulus bersama Marseille pada paruh kedua musim lalu.

Advertisement

Nwaneri sebenarnya mengawali masa peminjamannya di Marseille dengan cukup menjanjikan. Arteta berharap gelandang serang itu bisa berkembang di bawah asuhan Roberto De Zerbi, yang saat itu dianggap salah satu pelatih berani dan cocok untuk mengembangkan pemain muda.

Namun, situasi berubah setelah De Zerbi meninggalkan Marseille hanya beberapa pekan setelah kedatangan Nwaneri. Menurut Brassell, perubahan tersebut turut menghambat perkembangan sang pemain.


Arteta Dinilai Salah Mengandalkan De Zerbi

Roberto De Zerbi. (PA via AP/Peter Byrne)

Brassell menilai Arteta membuat kesalahan ketika terlalu mengandalkan keberadaan De Zerbi dalam menentukan masa depan Nwaneri di Marseille.

“Saya pikir Mikel Arteta telah belajar dari kesalahan yang dibuatnya ketika meminjamkan Nwaneri ke Marseille karena dia seperti menaruh harapan kepada De Zerbi,” ujar Brassell kepada talkSPORT.

De Zerbi memang awalnya memiliki rencana besar terhadap Nwaneri. Sang pelatih disebut ingin menggunakan pemain bernomor 10 itu sebagai salah satu pusat permainan tim.

Namun, karakter De Zerbi yang dinilai cukup emosional dan situasi internal Marseille membuat keputusan tersebut berisiko.

“De Zerbi ingin seorang pemain nomor 10 untuk membangun tim di sekelilingnya, tetapi dia juga berada di situasi yang tidak stabil," ujar Brassell.

"Arteta seharusnya menyadari bahwa mengaitkan nasib pemainnya dengan pelatih yang mudah meledak bukanlah keputusan terbaik,” kata lanjutnya.

Menurutnya, situasi tersebut pada akhirnya merugikan Nwaneri meski pengalaman itu tetap memberikan pelajaran berharga secara personal.

“Itu adalah kesalahan dan sedikit merugikan Nwaneri,” tambahnya.


Dortmund Dinilai Lingkungan yang Lebih Ideal

Logo Borussia Dortmund. (threepullpa).

Berbeda dengan Marseille, Borussia Dortmund dianggap menawarkan lingkungan yang jauh lebih stabil bagi Nwaneri.

Brassell menilai kondisi itu bisa memberikan kesempatan lebih besar bagi pemain berusia 19 tahun itu untuk berkembang.

Dortmund saat ini ditangani Niko Kovac yang dinilai berada dalam posisi aman. Selain itu, klub Jerman itu juga memiliki kebijakan yang lebih jelas dalam mengembangkan pemain muda.

Brassell menilai struktur klub dan peran direktur olahraga Ole Book membuat proyek pengembangan pemain muda di Dortmund lebih terarah.

“Di Dortmund, Niko Kovac berada dalam posisi yang aman dan kondisi yang baik. Ide mereka untuk membuat tim lebih muda dan mengembangkan pemain juga didukung direktur olahraga Ole Book,” ujar Brassell.

Menurutnya, Dortmund memberikan kombinasi antara ketenangan dan kesempatan bermain yang sangat dibutuhkan Nwaneri.

“Menurut saya, ada keseimbangan dan ketenangan yang lebih besar di Dortmund, meski mereka juga merupakan klub yang sangat besar. Itu seharusnya sangat membantunya,” lanjutnya.


Nwaneri Bisa Nyetel dengan Talenta Muda Dortmund

Faktor lain yang dianggap menguntungkan Nwaneri adalah keberadaan banyak pemain muda di skuad Dortmund.

Brassell menilai kondisi itu berbeda dengan Marseille yang menurutnya lebih banyak mengandalkan pemain berpengalaman dan pemain mahal dari Premier League.

“Dia punya banyak pemain muda lain yang bisa cocok dengannya. Ini profil yang sangat berbeda dibandingkan skuad Marseille,” kata Brassell.

Nwaneri pun langsung menunjukkan tanda-tanda positif pada pertandingan debutnya bersama Dortmund.

Ia memainkan peran penting dalam proses gol bunuh diri yang membantu timnya bangkit dari ketertinggalan 0-2 untuk mengalahkan Hoffenheim 3-2.

Start positif tersebut tentu menjadi modal berharga bagi Nwaneri untuk mendapatkan lebih banyak kepercayaan dari Kovac.

“Di Dortmund situasinya benar-benar berbeda. Mereka memainkan banyak pertandingan, termasuk Liga Champions. Dia akan mendapatkan banyak kesempatan,” ujar Brassell.

“Saya pikir transfer ini benar-benar akan berhasil untuknya,” tegasnya.


Ada Jobe Bellingham, Nwaneri Punya Teman dari Inggris

Pemain Atalanta Nicola Zalewski (kanan), berebut bola dengan pemain Borussia Dortmund, Jobe Bellingham, dalam laga leg kedua play-off Liga Champions di Bergamo, Kamis (26/2/2026) dini hari WIB.

Nwaneri juga tidak sendirian sebagai pemain muda Inggris di Dortmund. Ia bergabung dengan Jobe Bellingham, adik Jude Bellingham yang lebih dulu merasakan atmosfer sepak bola Jerman bersama klub itu.

Kehadiran Jobe bisa membantu proses adaptasi Nwaneri, terutama karena keduanya sama-sama berasal dari Inggris dan sedang menjalani fase penting dalam perkembangan karier.

Nwaneri sendiri memiliki sejarah panjang sebagai salah satu talenta muda paling menjanjikan Inggris.

Ia mencatatkan debut bersama Arsenal ketika baru berusia 15 tahun 181 hari dalam laga kontra Brentford, sekaligus menjadi pemain termuda dalam sejarah Premier League.

Kini, pada usia 19 tahun, Nwaneri memiliki kesempatan untuk membuktikan kemampuannya di Bundesliga dan Liga Champions.

Sumber: talkSPORT

 
 

Berita Terkait