Sama-Sama Jadi Tuan Rumah FIFA ASEAN Cup 2026, Mengapa Persija Bisa Pakai SUGBK Sementara Persib Tak Bisa Pakai Jalak Harupat?

Persija Jakarta menjamu Persib Bandung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (12/9/2026).

BolaCom | Hery KurniawanDiterbitkan 10 September 2026, 21:15 WIB
Ekspresi bintang Persib Bandung, Mariano Peralta, seteleh menjebol gawang Manila Digger pada playoff AFC Champions League 2 2026/2027 di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kab Bandung, Senin (31/8/2026). (Bola.com/Erwin Snaz)

Bola.com, Jakarta - Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI, Yunus Nusi, akhirnya angkat bicara mengenai alasan Persija Jakarta masih diizinkan menggunakan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta Pusat, untuk menjamu Persib Bandung pada laga pekan kedua Super League 2026/2027, Sabtu (12/9/2026).

Keputusan ini sempat memicu pertanyaan publik lantaran rival Persija, Persib Bandung, sebelumnya tak mendapat izin memakai Stadion Si Jalak Harupat (SJH), Soreang, Kabupaten Bandung, saat berjumpa PSM Makassar pada laga pembuka.

Advertisement

Padahal, baik SUGBK maupun SJH merupakan dua arena yang ditunjuk menjadi lokasi pertandingan ajang bergengsi FIFA ASEAN Cup 2026 yang akan bergulir pada 24 September hingga 4 Oktober mendatang.

Stadion Utama Gelora Bung Karno untuk menggelar mayoritas laga di Grup A FIFA ASEAN Cup 2026. Sementara Si Jalak Harupat akan menggelar laga di Grup B. 

 


Kesiapan Rumput yang Berbeda

Kapten Persija Jakarta, Rizky Ridho (tengah) pada sesi latihan resmi jelang pertandingan pekan ke-30 BRI Super League melawan Persis Solo yang bertempat di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Jakarta pada Minggu (26/04/2026).

Yunus Nusi menjelaskan, perbedaan kebijakan ini tak lepas dari kesiapan serta metode pemeliharaan rumput di kedua stadion tersebut. SUGBK dinilai memiliki sistem perawatan yang memungkinkan lapangan digunakan secara berkala tanpa mengganggu kesiapan ajang internasional.

"Kalau lapangan dan rumput SUGBK, setiap tiga atau lima hari bisa digunakan karena rumputnya sudah standby untuk setiap pertandingan," kata Yunus Nusi.

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan Stadion Si Jalak Harupat. Arena kebanggaan masyarakat Kabupaten Bandung itu tengah menjalani perbaikan besar-besaran, sehingga harus dissterilkan sejak awal September.

"Kalau SJH, sebelum 6 September kemarin rumputnya sudah dicabut dan tanahnya sudah dibongkar untuk persiapan pekerjaan selanjutnya dalam rangka menyambut 25 September," tuturnya.


Minta Publik Memahami Situasi

Ketua PSSI, Erick Thohir, didampingi Sekjen PSSI, Yunus Nusi dan Direktur Utama PPKGBK, Rakhmadi Afif, meninjau langsung kondisi terkini dari rumput Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) di H-7 jelang pertandingan Timnas Indonesia kontra Jepang di Kualifikasi Piala Dunia 2026. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

PSSI mengimbau para pencinta sepak bola nasional agar tidak membanding-bandingkan situasi lapangan antara SUGBK dan SJH. Jadwal pemeliharaan yang ketat dari pihak vendor membuat SJH sama sekali tidak bisa dipakai saat Persib bertanding pada 6 September lalu.

"Makanya kita tidak bisa bedakan antara lapangan dan rumput SUGBK dengan SJH. Sebab SJH memang sangat membutuhkan perawatan dan tidak bisa digunakan pada 6 September itu. Vendornya sudah membuat jadwal, bahkan di tanggal 3 atau 5 September rumputnya sudah dibongkar," ungkap Yunus Nusi.

"Jadi, memang kita sangat sayangkan schedule dan program pekerjaan rumputnya yang memang tidak bisa lagi diubah jadwalnya. Sehingga pada saat dan tanggal 6 September, Persib memang tidak bisa menggunakan SJH," tandasnya.

Berita Terkait